Ilmuwan Temukan Sisa Alam Semesta, Apa Isinya?

ADVERTISEMENT

Ilmuwan Temukan Sisa Alam Semesta, Apa Isinya?

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Jumat, 16 Jan 2026 20:00 WIB
Ilmuwan Temukan Sisa Alam Semesta, Apa Isinya?
Area penelitian Cloud-9 (dalam lingkaran) berisi objek, tapi sebenarnya merupakan galaksi di belakangnya. Foto: NASA, ESA, VLA, Gagandeep Anand (STScI), Alejandro Benitez-Llambay (University of Milano-Bicocca); Image Processing: Joseph DePasquale (STScI)
Jakarta -

Tim ilmuwan baru-baru ini menemukan sesuatu yang tak biasa di jagat raya, yaitu awan gelap tanpa bintang. Objek tersebut ternyata adalah sisa alam semesta.

Pemimpin penelitian, Dr Alejandro Benitez-Llambay, mengatakan sisa alam semesta yang diberi nama Cloud-9 ini adalah contoh nyata dari sistem kosmik yang gagal menjadi galaksi.

"Ini adalah kisah tentang sebuah galaksi yang gagal terbentuk," kata astronom Universitas Milano-Bicocca ini, dikutip dari laman NASA.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penemuan ini menantang teori lama pembentukan galaksi, sekaligus memberi bukti nyata tentang keberadaan 'blok bangunan' kosmik yang tidak pernah berkembang menjadi sistem bintang.

"Dalam sains, kita biasanya belajar lebih banyak dari kegagalan daripada dari keberhasilan. Dalam kasus ini, tidak adanya bintang justru membuktikan teorinya," sambungnya.

ADVERTISEMENT

Galaksi yang Tak Pernah Terbentuk

Cloud-9 adalah sebuah awan gas raksasa tanpa satu pun bintang di dalamnya.Objek kaya hidrogen ini didominasi materi gelap, sisa dari masa awal alam semesta yang gagal membentuk galaksi.

Objek tersebut pertama kali terdeteksi oleh teleskop raksasa di China, bernama Teleskop Bola Apertur Lima Ratus Meter (FAST). Keberadaannya lalu dikonfirmasi oleh fasilitas Very Large Array (VLA), Green Bank Telescope (GBT), dan Hubble Space Telescope.

Dari teleskop Hubble, peneliti memastikan bahwa sisa alam semesta itu tidak mengandung bintang. Cloud-9 memiliki inti hidrogen netral berdiameter sekitar 4.900 tahun cahaya, terletak di dekat galaksi spiral Messier 94, sekitar 14,3 juta tahun cahaya dari Bumi.

Sebagai catatan, satu tahun cahaya sama dengan sekitar 9 triliun km, yang terdiri dari angka 9 dan 12 angka nol di belakangnya. Sedangkan diameter Bumi 'hanya' 12.742 km. Artinya, diameter awan Cloud-9 sangat lebar.

Menurut para astronom, Cloud-9 adalah 'potongan waktu' yang memberi pandangan langsung ke masa muda alam semesta.

"Kita telah menemukan di alam semesta lokal sebuah blok bangunan awal dari galaksi yang tidak pernah terbentuk," tambah Benitez-Llambay.

Temuan ini memperkuat teori Lambda Cold Dark Matter (LCDM) yang memprediksi keberadaan halo materi gelap yang berisi gas tanpa bintang, menandai batas bawah massa minimum yang dibutuhkan agar galaksi bisa lahir.

Jendela Menuju Alam Semesta Gelap

Sementara itu, Dr Andrew Fox dari Space Telescope Science Institute (STScI) menyebut Cloud-9 sebagai peluang langka untuk memahami sisi gelap alam semesta.

"Awan ini adalah jendela menuju alam semesta gelap," ucapnya.

"Kita tahu secara teori bahwa sebagian besar massa alam semesta terdiri dari materi gelap, tapi sulit sekali mendeteksinya karena tidak memancarkan cahaya. Cloud-9 memberi kita kesempatan langka untuk melihat dunia itu secara langsung," katanya, dikutip dari laman ESA.

Melalui instrumen Hubble Advanced Camera for Surveys (ACS), para astronom menelusuri tanda-tanda bintang di wilayah Cloud-9 dan memastikan tidak ada satu pun yang terdeteksi.

Temuan ini menegaskan, sistem tersebut benar-benar termasuk kelompok langka yang disebut Reionization-Limited H I Clouds (RELHICs). Objek pada kelompok ini berupa halo materi gelap (unit dasar struktur kosmologi) yang berisi gas, tetapi tidak cukup banyak untuk membentuk bintang.

Kehadiran temuan ini memberi dasar empiris baru bagi studi pembentukan galaksi. Studi ini dinilai juga membuka peluang bagi astronom untuk menemukan populasi 'galaksi gagal' lain yang tersembunyi di alam semesta.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan di jurnal The Astrophysical Journal Letters dengan judul "The First RELHIC? Cloud-9 is a Starless Gas Cloud", 10 November 2025.




(rhr/twu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads