Rekor 2025 Laut Serap Panas, Bikin Badai Makin Dahsyat

ADVERTISEMENT

Rekor 2025 Laut Serap Panas, Bikin Badai Makin Dahsyat

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 14 Jan 2026 20:00 WIB
Rekor 2025 Laut Serap Panas, Bikin Badai Makin Dahsyat
Lautan menyerap panas tertinggi dalam sejarah pada 2025. Rekor ini berdampak pada cuaca ekstrem dan kematian terumbu karang. Foto: iStock
Jakarta -

Lautan di seluruh dunia menyerap panas dalam jumlah terbesar yang pernah tercatat sepanjang sejarah pada 2025. Temuan itu dipublikasikan tim peneliti internasional dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences.

Menurut laporan tersebut, peningkatan panas di lautan tahun lalu mencapai sekitar 23 zettajoule, setara dengan hampir 40 tahun konsumsi energi primer global.
"Gambaran ini jelas, hasil tahun 2025 menegaskan bahwa lautan terus memanas," ujar Karina von Schuckmann, ahli oseanografi dari lembaga penelitian Prancis Mercator Ocean International, dilansir dari Phys.org.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampak Panas Ekstrem: Laut Naik, Badai Meningkat, Terumbu Karang Mati

Laut berperan sebagai pengatur iklim global karena menyerap sekitar 90 persen panas berlebih di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Akan tetapi, semakin banyak panas yang diserap, semakin besar pula efek berantai yang terjadi.

Laut yang lebih hangat meningkatkan kelembapan udara sehingga memicu badai tropis dan hujan ekstrem. Panas juga menyebabkan air laut mengembang dan membuat permukaan laut terus naik.

ADVERTISEMENT

"Selama Bumi terus menyerap panas, kandungan panas lautan akan terus meningkat, permukaan laut akan naik, dan rekor baru akan terus tercipta," ujar von Schuckmann.

Selain itu, laut yang lebih panas membuat terumbu karang tropis tidak mampu bertahan hidup. Saat gelombang panas laut berlangsung terlalu lama, karang-karang itu mati, mengancam keanekaragaman hayati yang hidup di dalamnya.

Samudra Hindia Masuk Rekor, Manusia Jadi Penentu

Meski pemanasan laut terjadi di seluruh dunia, intensitasnya tidak merata. Menurut laporan yang sama, wilayah samudra tropis, Samudra Selatan, Atlantik Selatan, Mediterania, dan utara Samudra Hindia menjadi yang paling banyak menyerap panas pada 2025.

Fenomena ini terjadi meskipun suhu rata-rata permukaan laut global sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya akibat peralihan dari El NiΓ±o ke La NiΓ±a. Peralihan fenomena ini umumnya menimbulkan pendinginan sementara di permukaan laut.

Ilmuwan menegaskan,tren jangka panjangnya tetap mengkhawatirkan. Pemanasan lautan terus meningkat seiring bertambahnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

"Ketidakpastian terbesar dalam sistem iklim sekarang bukan lagi soal fisika, melainkan pilihan yang diambil oleh manusia. Pengurangan emisi secara cepat masih bisa membatasi dampak masa depan dan membantu menjaga iklim agar tetap layak bagi manusia dan ekosistem," ujar Schuckmann.

Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences dengan judul "Ocean Heat Content Sets Another Record in 2025", 9 Januari 2026.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads