Tahun 2025 menjadi salah satu periode terpanas yang pernah dialami bumi modern. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim ini diperparah dengan aktivitas dan ulah campur tangan manusia.
Menurut hasil analisis peneliti World Weather Attribution (WWA), Selasa (30/12/2025), untuk pertama kalinya, pada 2025, rata-rata pemanasan suhu global melampaui ketetapan 2015 Paris Agreement, 1,5 derajat Celcius di atas tingkat masa praindustri. Hampir seluruh penduduk dunia merasakan dampak dari fenomena lonjakan panas tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ahli menegaskan, jika panas bumi dijaga agar tetap di bawah rata-rata, maka bumi akan selamat dari kehancuran. Mirisnya, suhu global tetap tinggi meski fenomena La Nina hadir sebagai pendingin Samudra Pasifik yang berpengaruh pada cuaca global.
Ilmuwan menilai hal ini terjadi karena maraknya pembakaran bahan bakar fosil minyak, gas dan batu bara. Aktivitas tersebut berlangsung lama, dan terus melepas emisi rumah gas kaca ke atmosfer sehingga terjadi pemanasan global.
"Jika kita tidak segera berhenti membakar bahan bakar fosil, akan sangat sulit untuk mencapai tujuan tersebut (terkait pemanasan global)," ujar Friederike Otto, salah satu pendiri World Weather Attribution dan ilmuwan iklim Imperial College London, dikutip dari AP News pada (2/1/2026).
Deretan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2025
Peristiwa cuaca ekstrem sepanjang 2025 tercatat telah memakan ribuan korban dan dan kerugian ekonomi mencapai miliaran dolar AS. WWA mengidentifikasi sebanyak 157 cuaca ekstrem terparah terjadi sepanjang tahun 2025.
Peristiwa tersebut memenuhi kriteria status keadaan darurat dengan 100 korban jiwa, dan berpengaruh terhadap lebih dari setengah populasi suatu wilayah.
Dari banyaknya fenomena itu, sebanyak 22 peristiwa dianalisis secara mendalam. Hasilnya, gelombang panas berbahaya masuk dalam peristiwa cuaca paling ekstrem 2025, menurut WWA. Para peneliti menilai beberapa gelombang panas tahun ini sepuluh kali lebih mungkin terjadi akibat ulah manusia dibanding satu dekade lalu.
"Gelombang panas yang kita amati tahun ini adalah kejadian yang cukup umum dalam iklim kita saat ini, tetapi hal itu hampir tidak mungkin terjadi tanpa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia," tutur Otto.
Fenomena kekeringan panjang menyebabkan kebakaran hutan di Turki dan Yunani. Hujan deras di Meksiko menyebabkan banjir besar, yang menelan puluhan korban dan lima diantaranya dinyatakan hilang. Topan Fung-wong turut menyerang Filipina, mendesak satu juta penduduk untuk mengungsi. Selain itu, hujan monsun mengguyur India hingga picu banjir dan tanah longsor.
WWA peringatkan serangan cuaca ekstrem makin sering terjadi dan semakin parah dampaknya. Hal ini adalah ancaman serius bagi jutaan manusia untuk merespon dan beradaptasi cepat. Para ilmuwan menyebut keadaan tersebut dengan 'batas adaptasi.'
Badai Melissa adalah salah satu contoh fenomena ekstrem, yang terjadi begitu cepat tanpa prakiraan dan perencanaan. Badai tersebut menghujani Jamaika, Kuba, dan Haiti tanpa ampun. Negara-negara kepulauan kecil itu rugi besar karena kewalahan menangani kerusakan akibat bencana.
Negosiasi Iklim Global yang Berjalan Alot
Perundingan iklim PBB yang digelar di Brazil pada November lalu berakhir tanpa langkah tegas untuk beralih dari bahan bakar fosil. Walaupun telah dijanjikan dana bagi setiap negara untuk beradaptasi dengan iklim, tetapi realisasinya membutuhkan waktu lama.
Para pejabat, ilmuwan, dan analis mengakui jika pemanasan global akan melampaui suhu 1,5 derajat Celcius. Namun beberapa dari mereka masih yakin dapat memulihkan fenomena tersebut. Beberapa negara telah mencoba berbagai cara menghadapi masalah global tersebut.
China mengembangkan energi terbarukan dari tenaga surya dan angin, dengan tetap berinvestasi pada batubara. Cuaca ekstrem yang semakin merata di Eropa memicu lonjakan aksi iklim, meski beberapa negara menilai kebijakan itu menghambat pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, di Amerika Serikat, pemerintahan Trump dinilai membuat kebijakan untuk menjauhi energi bersih dan lebih mendukung minyak, batubara, dan gas.
"Kondisi geopolitik tahun ini sangat mendung, dengan banyak pembuat kebijakan yang secara jelas membuat kebijakan untuk kepentingan industri bahan bakar fosil daripada untuk kepentingan penduduk negara mereka," kata Otto.
Peneliti senior di Columbia University Climate School yang tidak terlibat dalam riset WWA, Andrew Kruczkiewicz, mengatakan saat ini berbagai wilayah menghadapi bencana yang tidak biasa. Ia menganggap fenomena ekstrem tersebut kian intensif dan menjadi lebih rumit.
Karena itu, ia menegaskan kebutuhan atas peringatan dini dan pendekatan baru sebagai respons dan pemulihan.
"Dalam skala global, kemajuan sedang coba dicapai, tetapi kita harus berbuat lebih," pungkasnya.
(twu/twu)











































