Studi Temukan Habitat Paus dan Lumba-lumba di Perairan Barat Sumatera, Ada Orca!

ADVERTISEMENT

Studi Temukan Habitat Paus dan Lumba-lumba di Perairan Barat Sumatera, Ada Orca!

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 14 Jan 2026 17:00 WIB
Studi Temukan Habitat Paus dan Lumba-lumba di Perairan Barat Sumatera, Ada Orca!
Paus dan Lumba-lumba ditemukan di perairan barat Sumatera, Samudera Hindia. Foto: Dok. OceanX
Jakarta -

Studi terbaru temukan habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera di Samudra Hindia. Wilayah ini disebut relatif kurang dipelajari, padahal keanekaragaman hayati laut yang tinggi.

Temuan ini dilakukan oleh tim ekspedisi OceanX Indonesia Mission dan dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Marine Science yang terbit pada 2 Januari 2026 lalu. Tim tersebut melaksanakan survei transek udara khusus mamalia laut (cetacean).

Survei dilakukan Mei-Juli 2024 pada kawasan yang mencakup 15.043 kilometer, setara jarak dari Bali ke Kanada. Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan ini mencapai 23 spesies, atau 68% dari total cetacean yang diketahui di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia dan penulis utama studi, Iqbal Herwata menyebut survei ini mengisi kekosongan data selama ini. ia mengatakan, data selama ini masih membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia.

"Skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti," tutur Iqbal dalam rilis Konservasi Indonesia, Rabu (14/1/2026).

ADVERTISEMENT

Cetacean yang Ada di Perairan Barat Sumatera

Analisis pola sebaran cetacean menunjukkan adanya 7 klaster habitat yang berbeda. Kelompok-kelompok kawasan tempat tinggal ini muncul akibat perbedaan bentuk dasar laut dan tingkat produktivitas perairan.

Tim melakukan dan mencatat 77 pengamatan dari 10 spesies cetacean. Temuan ini menegaskan, dinamika oseanografi memainkan peran penting dalam menentukan wilayah yang dimanfaatkan para cetacean.

Berbagai spesies yang ditemukan adalah berbagai jenis paus, seperti paus pembunuh (O. orca atau killer whale), paus pembunuh kerdil (pygmy killer whale), paus Omura, dan paus sperma. Selain itu, peneliti menemukan spinner dolphin dan striped dolphin.

Hotspot yang Banyak Lumba-lumba

Tim peneliti juga menemukan hotspot kepadatan tinggi yang didominasi oleh spinner dolphin dan striped dolphin. Lokasinya terindetifikasi terutama di luar kawasan konservasi.

Hotspot adalah daerah yang memiliki banyak keanekaragaman hayati, tetapi telah kehilangan 70% atau lebih habitat aslinya.

Sebanyak 93% hotspot berada di luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang tengah diusulkan. Peneliti menilai, temuan ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi saat ini dan distribusi aktual habitat penting cetacean.

Pemodelan spasial juga menunjukkan adanya tumpang tindih signifikan antara habitat cetacean, aktivitas perikanan intensif, dan lalu lintas maritim. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko pada berbagai spesies paus yang terancam punah.

Upaya Perluasan Kawasan Konservasi Laut Indonesia

Diketahui ekspedisi ini dilakukan oleh Konservasi Indonesia yang berkolaborasi dengan OceanX dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Temuan mereka jadi bukti bila keanekaragaman hayati Indonesia butuh perlindungan.

Sejumlah upaya yang perlu dilakukan antara lain perlindungan spasial yang terarah, perencanaan ruang laut adaptif, dan langkah mitigasi spesifik per spesies. Langkah tersebut diharapkan mendukung perluasan kawasan konservasi laut Indonesia menuju target 30x45.

Temuan ini juga memperkuat pelaksanaan program inisiatif nasional Blue Halo S. Program tersebut berfokus pada penguatan tata kelola perikanan, perlindungan, habitat laut penting, hingga pengembangan ekonomi baru yang berkelanjutan di perairan barat Sumatera.

Senior Ocean Program Advisor Konservasi Indonesia, Victor Nikijuluw, menyatakan studi ini menyediakan titik awal ekologi yang krusial dalam mengidentifikasi area prioritas. Dengan demikian, perlindungan dapat dirancang selaras dengan keberlanjutan pemanfaatan laut.

"Wilayah barat Sumatera (dinilai) memiliki dasar ilmiah yang kuat untuk diusulkan sebagai Important Marine Mammal Area (IMMA), sejalan dengan statusnya sebagai Ecologically or Biologically Significant Marine Area (EBSA)," bebernya.

Pemerintah melalui Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hartanto menyambut baik hasil studi ini. Ketersediaan dan informasi ilmiah menurutnya sangat penting untuk memberikan masukan untuk merancang kebijakan yang memberikan dampak signifikan.

"Dalam bidang riset ilmiah kelautan, penyediaan armada kapal riset dengan berbagai peralatan riset canggih menjadi penting guna mengumpulkan data dan informasi tentang keanekaragaman biodiversitas dan sumber daya laut di Indonesia," ungkap Nugroho.

Co-CEO dan Chief Science Officer OceanX, Vincent Pieribone melihat hasil studi ini sebagai kekuatan ekplorasi multiplatform. Kekuatan yang dimaksud menurutnya karena studi menggunakan perangkat canggih dipadukan dengan kemampuan penelitian yang kuat.

Kemampuan tersebut menurut Pieribone membantu tim membangun gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana paus dan lumba-lumba memanfaatkan wilayah lepas pantai yang terpencil ini.

"Temuan-temuan ini memperdalam basis data ilmiah untuk memahami ekosistem Sumatera bagian barat, dan kami bangga dapat berkontribusi pada sebuah studi yang memperkuat pengetahuan bagi pengelolaan laut jangka panjang," tandasnya.



(det/det)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads