Sejak lama para ilmuwan memperdebatkan penyebab dari psikopat. Apakah diwariskan atau justru dipelajari?
Asal-usul karakter psikopat jauh lebih kompleks dari apa yang sering diasumsikan. Selama ini psikopati dianggap sebagai kondisi kepribadian yang misterius serta sulit untuk dipahami. Anggapan seperti itu yang masih dipercaya khalayak luas sampai saat ini.
Terlebih, banyak dari gangguan mental, neurologis, hingga kepribadian yang dianggap menakutkan di masyarakat. Sebagian besar ketakutan itu timbul dari ketidak tahuan dan asumsi yang keliru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal seperti itulah yang terjadi pada psikopat, yang termasuk dalam gangguan kepribadian. Akan tetapi reaksi negatif yang ditimbulkannya cenderung mudah dipahami. Psikopat sendiri, sering juga dikaitkan dengan kekejaman, ketidakpedulian terhadap sisi emosional, perilaku menyimpang, manipulatif, hingga kriminalitas.
Lantas, apa sebenarnya penyebab dari psikopat? Apakah bawaan dari lahir atau tercipta dari pengalaman hidup dan lingkungan? Berikut penjelasannya, dikutip dari BBC Science Focus pada (5/1/2026).
Penyebab Karakter Psikopat dalam Kacamata Sains
Secara ilmiah, bukan hal mudah untuk memberi jawaban, apakah psikopati merupakan bawaan lahir atau hasil dari pengaruh lingkungan. Itu karena kepribadian manusia yang kompleks, sulit dipahami, dan tidak mudah didefinisikan secara gamblang. Oleh karenanya, gangguan kepribadian sering kali bersifat abstrak dan sulit untuk didefinisikan secara pasti.
Seorang penulis, Jon Ronson dalam bukunya The Psychopath Test yang telah menggambarkan metode sedemikian rupa untuk mengidentifikasi psikopat pun, nyatanya belum benar-benar akurat hasilnya.
Walaupun sulit diidentifikasi, akan ada orang yang membantah, bahwa psikopat itu gangguan kepribadian yang nyata. Teknologi mutakhir fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) pun mencoba menjawabnya. Hasilnya menunjukkan ada kelainan mendasar pada struktur otak seorang psikopat.
Hasil pemindaian otak mengungkap perbedaan anatomi pada sistem otak yang menghubungkan lobus prefrontal, korteks cingulate posterior, serta bagian penting dari lobus temporal. Bagian-bagian tersebut memiliki fungsi yang berbeda, tetapi kombinasi khusus ini erat kaitannya dengan pemrosesan emosi. Kelainan ini diperkirakan mengganggu kinerja otak dalam mengenali, mengkodekan, dan memahami informasi emosional.
Emosi adalah aspek penting dalam kognisi manusia. Hilangnya kemampuan dalam mengenali emosi dapat menjadi salah satu ciri klasik dari psikopat.
Contoh ketidakmampuan mengenali emosi adalah hilangnya empati. Seorang psikopat, lebih sering mengandalkan rasional dan kurang menyadari konsekuensi dari tindakan mereka.
Belum bisa dipastikan penyebab dari perkembangan struktur otak seperti itu. Namun, penelitian menyebut terdapat peran genetik dalam perkembangan psikopat. Lingkungan dan pengalaman hidup memang memperkuat kecenderungan psikopat, termasuk berpengaruh pada cara seseorang memproses emosi. Meski begitu, sejauh ini belum ada bukti konkret yang merujuk faktor lingkungan sebagai penyebab utama dari psikopat.
Maka berdasarkan bukti yang ada saat ini, psikopat lebih mungkin dipengaruhi oleh faktor bawaan lahir dibanding pola asuh atau lingkungan semata.
(nah/nah)











































