Benarkah Orang yang Tersenyum Lebih Bisa Dipercaya? Ini Jawaban Studi

ADVERTISEMENT

Benarkah Orang yang Tersenyum Lebih Bisa Dipercaya? Ini Jawaban Studi

Siti Nur Salsabilah Silambona - detikEdu
Jumat, 09 Jan 2026 08:30 WIB
Benarkah Orang yang Tersenyum Lebih Bisa Dipercaya? Ini Jawaban Studi
Foto: Getty Images/Morsa Images/Ilustrasi senyum
Jakarta -

Sadarkah detikers, saat seseorang melempar senyuman, spontan kita akan tersenyum balik kepadanya? Penelitian menunjukkan bahwa ekspresi bahagia seseorang lebih sering ditiru, menarik dan mudah dipercaya.

Menurut peneliti, respons berkaitan erat dengan cara seseorang membentuk kesan pertama, yaitu sebuah proses yang dikenal dengan mimikri emosional atau meniru ekspresi. Untuk membuktikan hal ini, para peneliti dari Universitas SWPS di Warsawa, Polandia meneliti perilaku dan ekspresi dari 64 orang termasuk 43 wanita, serta bagaimana mereka memandang sebuah kepercayaan.

Studi mereka terbit di jurnal Emotion, American Psychological Association, pada Desember 2024. Studi tersebut dilakukan oleh MichaΕ‚ Olszanowski, PhD, seorang profesor di Universitas SWPS, Aleksandra ToΕ‚opiΕ‚o, PhD, dari Pusat Penelitian tentang Dasar Biologis Perilaku Sosial, Fakultas Psikologi Universitas SWPS di Warsawa, dan Profesor Ursula Hess dari Universitas Humboldt di Berlin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspresi Wajah Jadi Kesan Pertama, Senyum Jadi Tanda Positif

Peneliti mengatakan, bahwa anggapan umum percaya bahwa kepribadian seseorang dinilai berdasarkan apa yang dilihat, mulai dari penampilan hingga ekspresi. Peneliti menganggap, ekspresi menjadi petunjuk penting dalam menangkap kesan dari seseorang.

Menurut mereka, ekspresi wajah mewakili komunikasi non-verbal yang dianggap menyimpan informasi terkait perasaan serta niat seseorang. Bahkan hanya beberapa detik melihat ekspresi orang lain, dengan sangat mudah kita memberikan kesan awal.

ADVERTISEMENT

Di saat bersamaan, manusia juga cenderung meniru ekspresi lawan bicara yang disebut mimikri emosional. Proses ini dianggap dapat memperdalam pemahaman dan hubungan sosial.

Dalam studinya, para peneliti menemukan bahwa peserta cenderung lebih menilai baik orang yang tersenyum pada kesan pertama. Selain itu, peserta juga lebih bisa percaya kepada orang yang tersenyum.

"Kami berhipotesis bahwa peserta akan menilai orang yang tersenyum lebih baik dan lebih mempercayai mereka daripada orang yang mengekspresikan kemarahan atau kesedihan," kata Olszanowski, dikutip dari EurekAlert.

Ia menilai bahwa ekspresi positif lebih mudah ditiru, sedangkan ekspresi yang menunjukkan emosi seperti marah, akan kecil kemungkinannya untuk ditiru. Ia menemukan, bahwa semakin banyak orang merespons orang lain dengan senyum, maka kepercayaan bisa meningkat.

"Dengan kata lain, semakin sering seseorang meniru senyum orang lain, semakin besar pula kepercayaan mereka terhadap orang tersebut," imbuhnya.

Ekspresi Kegembiraan Lebih Mudah Ditiru

Dalam eksperimennya, para peneliti juga menilai kepercayaan, keyakinan, dan daya tarik orang-orang dengan wajah berbagai ekspresi. Kemudian ekspresi mereka ditampilkan dalam klip video berdurasi beberapa detik.

Para peneliti kemudian mengukur aktivitas otot wajah menggunakan elektromiografi (EMG). Hasilnya, partisipan lebih bersedia meniru kegembiraan daripada kesedihan dan kemarahan, dan ini lebih sering menyangkut orang-orang yang secara sosial mirip dengan mereka.

Kemudian para peserta juga diminta untuk menilai kepercayaan satu sama lain. Eksperimen ini menunjukkan bahwa rang yang tersenyum lebih sering ditiru daripada orang yang sedih.

Dalam hal ini, bagaimana orang meniru ekspresi bisa memengaruhi cara dia menilai orang lain. Terutama ketika mereka memiliki kesamaan sosial.

Studi ini membuktikan bahwa banyak orang masih menyimpulkan tentang orang lain dari ekspresi wajah yang ditunjukkan pada kesan pertama. Menurut peneliti, sampai batas tertentu, studi mereka menyimpulkan bahwa ekspresi emosi positif bisa menghasilkan sikap yang lebih baik terhadap seseorang.

"Dari sudut pandang ilmiah, hasil ini memperluas pengetahuan kita tentang peran peniruan emosi dalam interaksi sosial," tutur Olszanowski.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(faz/faz)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads