Amerika Serikat (AS) menyerang Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1) lalu. Menurut dosen Hubungan Internasional (HI), ada dampak yang akan dirasakan oleh Indonesia.
Diketahui, penyerangan dan penculikan ini merupakan puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Trump terhadap Venezuela. Penangkapan Presiden Maduro diawali dengan serangan oleh pasukan AS.
Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah itu,Maduro danistrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS.
Dosen Hubungan Internasional President University, Teuku Rezasyah, menyebut serangan ke Venezuela dan penculikan Presiden Venezuela menunjukkan kerapuhan negara tersebut.
"Karena sulit dimengerti jika seorang presiden, dengan pengamanan berlapis dan aparatus negara yang lengkap, bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti. Artinya, mata dan telinga aparatur negara telah dibutakan dan ditumpulkan," kata Rezasyah dalam detikNews dikutip Kamis, (8/1/2025).
Akibatnya, tidak ada perlawanan militer nasional Venezuela untuk mempertahankan Presiden Maduro. Menurut Reza,, kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi dunia internasional.
"Bagi kalangan internasional, hendaknya menjadi pelajaran bersama. Ancaman terbesar bagi sebuah negara bukan selalu musuh di luar, melainkan keraguan di dalam lingkaran kekuasaan itu sendiri, yang merasa dirinya telah stabil," ucapnya.
Dampak Konflik AS-Venezuela ke Indonesia
Menurut Reza, akan ada dampak konflik AS-Venezuela yang dirasakan Indonesia. Kejadian itu kemungkinan memengaruhi naiknya harga BBM di dalam negeri hingga penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
"Harga minyak dunia akan menaik. Sesuai hukum permintaan dan penawaran/demand dan supply, keadaan ini akan mempengaruhi harga minyak di Indonesia. Akan berdampak pada semakin lebarnya defisit APBN. Jika pemerintah menaikkan harga BBM, maka akan berakibat terjadinya instabilitas politik," jelasnya.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar diperkirakan akan mengalami penurunan sampai 17.000-18.000 ribu/dolar," tambahnya.
Selain itu, Reza memperkirakan adanya dampak pada pertahanan dan keamanan dalam negeri. Menurutnya, AS berpotensi mengulangi kebijakan menyerang secara mendadak ke Kawasan Indo-Pasifik terhadap negara-negara yang pandangannya di bidang ekonomi dan energi berbeda dengan AS.
"AS memiliki banyak pangkalan militer di Indo-Pasifik dan juga di Asia Tenggara. RI hendaknya menyikapi keadaan ini dengan sangat baik. Mengawasi perbatasan darat, laut, dan udara. Agar tidak diganggu oleh berbagai aksi yang mengganggu pertahanan dan keamanan nasional," imbuhnya.
3 Faktor Utama di Balik Langkah AS Culik Presiden Venezuela
Adapun Dosen HI Universitas Indonesia, Shofwan Al Banna Choiruzzad, PhD, mengungkapkan setidaknya ada tiga faktor utama yang melatarbelakangi sikap AS.
Faktor pertama berkaitan dengan rivalitas strategis Washington dan Beijing. Menurutnya, Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia dan bahkan disebut melampaui Arab Saudi. Hal ini menjadi titik krusial dalam persaingan tersebut.
Shofwan menyoroti laporan kunjungan delegasi tingkat tinggi China ke Venezuela yang membahas akses minyak yang sebelumnya terkena sanksi Amerika Serikat. Tak lama berselang, sejumlah kapal terkait justru disita.
"Ini menunjukkan adanya upaya memutus akses energi Tiongkok," ujarnya dikutip dari laman FISIP UI.
Faktor kedua, lanjut dia, menyangkut kalkulasi geopolitik AS di kawasan Amerika Latin. Sejumlah analis menilai kebijakan ini mencerminkan kebangkitan kembali semangat Monroe Doctrine, doktrin lama yang menegaskan dominasi penuh Washington di belahan bumi barat.
"Banyak yang menyebutnya sebagai bentuk 'Trump Doctrine', di mana Amerika Serikat berupaya menegaskan kembali kontrol atas Amerika Latin sebagai halaman belakang strategisnya," kata Shofwan.
Adapun faktor ketiga disebut sebagai sinyal strategis kepada kekuatan besar lain, terutama China dan Rusia. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari dinamika great power rivalry, di mana Amerika Serikat tengah menguji respons Beijing dalam skema yang disebut chicken game geopolitik.
"Jika tidak ada respons berarti, Amerika Serikat berpotensi melanjutkan langkah-langkah unilateral untuk mengeluarkan Tiongkok dari akses mineral kritis, sumber energi strategis, dan jalur perdagangan utama dunia," ujarnya.
Shofwan juga mengingatkan kondisi global yang kian rapuh. Menurutnya, eskalasi konflik dan tindakan sepihak berisiko memperbesar potensi konflik global jika tidak diimbangi penguatan sistem multilateral.
"Tekanan publik dan internasional perlu diarahkan agar para pemimpin dunia kembali pada akal sehat dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan semata-mata ambisi kekuasaan," pungkasnya.
(nir/pal)











































