Bagaimana Proses Sebuah Kata Bisa Masuk KBBI?

ADVERTISEMENT

Bagaimana Proses Sebuah Kata Bisa Masuk KBBI?

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 08 Jan 2026 19:30 WIB
Bagaimana Proses Sebuah Kata Bisa Masuk KBBI?
Ini proses sebuah kata bisa masuk KBBI. Foto: dok. Tangkapan Layar KBBI VI
Jakarta -

Sempat disebut sebagai bahasa yang miskin kosa kata, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terus melakukan penambahan kata baru. Pada Oktober 2025, KBBI telah menambah 2.359 entri baru sehingga jumlah total entri menjadi 210.595.

Terus bebenah, KBBI dimutakhirkan setiap enam bulan sekali. Proses yang cukup singkat ini dilakukan agar bisa mengikuti dinamika perkembangan kata dan istilah baru yang belum tercatat.

"Dengan pemutakhiran dua kali setahun tersebut, KBBI diharapkan dapat menjadi karya rujukan kebahasaan yang selalu termutakhirkan secara cepat," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Hafidz Muksin dikutip dari laman resminya, Kamis (8/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hafidz mengungkapkan KBBI sering kali dipersepsikan sebagai kamus preskriptif yang hanya memuat kata-kata baku atau standar. Kamus preskriptif ini menetapkan aturan tentang bagaimana bahasa seharusnya digunakan, memberikan petunjuk benar/salah, dan sering kali menghindari kata-kata yang dianggap tidak baku.

Namun, sesungguhnya KBBI juga bersifat deskriptif, yakni mencatat kosakata sebagaimana digunakan oleh masyarakat, baik dalam bahasa formal maupun informal. Untuk melengkapi informasi tersebut, dalam entri KBBI terdapat label berupa singkatan yang menjelaskan ragam dan jenis kata tersebut.

ADVERTISEMENT

Misalnya, ragam cak yang berarti 'percakapan' untuk menjelaskan bahwa kata tersebut hanya digunakan dalam ragam percakapan yang informal dan tidak digunakan sebagai kata baku. Label kas yang menunjukkan bahwa kata tersebut kata 'kasar' yang hanya digunakan dalam umpatan atau makian. Selain itu, digunakan juga cara rujuk silang (cross reference) yang digunakan untuk merujuk pada bentuk yang baku.

"Lebih dari itu, KBBI adalah kamus historis yang juga mencatat bagaimana bahasa itu pernah digunakan oleh masyarakat," ujar Hafidz.

Kata-kata usang yang diberi label ark atau "arkais" masih tercatat dalam KBBI walaupun kata-kata tersebut tidak digunakan lagi. Jadi, KBBI juga bukan kamus kontemporer yang hanya merekam kata-kata mutakhir.

Selain itu, KBBI adalah kamus besar yang "kebesarannya" tersebut ditunjukkan oleh keluasan cakupan kosakata yang terhimpun dari aspek rentang waktu, bidang, dan ragam penggunaan.

Proses Sebuah Kata Bisa Masuk KBBI

Salah satu kata baru yang masuk KBBI dan sempat mencuri perhatian publik adalah kapitil. Kapitil diartikan sebagai lawan kata kapital (penulisan dengan huruf besar) dalam ragam percakapan.

Namun, sebenarnya bagaimana proses sebuah kata bisa masuk KBBI?

Badan Bahasa menjelaskan pihaknya menggunakan mekanisme berjenjang, yakni:

1. Pengusulan Entri Baru

Dalam proses pengusulan entri baru, KBBI punya fitur usulan bagi pengguna atau masyarakat yang ingin memasukkan kata baru. Tak hanya itu, fitur ini juga bisa untuk menyarankan perbaikan terhadap kata yang sudah ada di dalam KBBI.

Saat ini, Badan Bahasa mencatat sudah ada 255.629 usulan kata yang masuk. Usulan entri yang masuk disebut sangat beragam, termasuk kata-kata baru hasil kreativitas pengguna.

Contohnya, kata galgah yang berarti tiruan bunyi seperti orang yang lega dari hausnya. Kata galgah juga bagian varian cakapan dari kata palum.

Selanjutnya, ada juga entri yang beranalogi dari pasangan kata, seperti kerakal-kerikil, gumpal-gumpil, akhirnya timbul kapital-kapitil. Berbagai kata ini, pada dasarnya termasuk dalam kata informal.

Kata-kata tersebut sebenarnya sudah memiliki padanan dalam bentuk baku dan tercatat di KBBI. Lantaran penggunaannya cukup banyak, tim editor memantau penggunaan kata-kata informal yang ada di masyarakat.

Mereka akan memastikan apakah kata tersebut perlu diberikan penjelasan lebih lanjut. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dijelaskan dalam praktik leksikografi modern.

Sebelum sebuah kata baru diakui, tim pembuat kamus akan mengumpulkan bukti data pemakaiannya terlebih dahulu. Bukti dikumpulkan melalui korpus, media massa, dan jejak digital.

Setelahnya, kata tersebut akan dinilai sebaran dan kestabilan maknanya pada ragam tulis dan lisan. Penentu utama agar kata bisa diakui adalah pola penggunaanya berulang, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan konteksnya.

Apabila telah memenuhi kriteria tersebut, editor akan memeriksa nilai rasa dan risiko penafsiran secara sosial-budaya. Jika semuanya telah aman, barulah mereka menetapkan informasi pemakaian (label ragam, catatan penggunaan, rujuk-silang bentuk standar).

Selain frekuensi, agar kata bisa diakui adalah memiliki kategori "aman" dari nilai rasa negatif yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial-budaya si penutur. Karena, satu kata dapat dianggap bernilai rasa negatif oleh penutur yang lain, begitu juga sebaliknya.

2. Entri Diproses oleh Editor

Setelah kata ini diusulkan, tim editor KBBI akan menyunting kata tersebut. Diketahui, sebanyak 181.220 atau 70,89% dari total jumlah usulan sudah disunting editor.

Jika ada perbaikan, usulan akan dikembalikan kepada pengusul dan diteruskan ke redaktur.

3. Diserahkan Kepada Redaktur

Kata yang sudah disunting oleh editor akan diserahkan terlebih dahulu kepada redaktur. Pada tahap ini, segala hal tentang kata tersebut akan diperiksa kembali.

4. Validator

Jika usulan disetujui oleh redaktur, kata akan masuk ke proses validator untuk disahkan masuk ke dalam entri yang akan dimutakhirkan pada periode berikutnya.

"Penyuntingan berjenjang dilakukan untuk memastikan bahwa entri yang masuk ke dalam KBBI sudah benar-benar melalui proses penyaringan dan penyuntingan yang terstandar. Rapat redaksi dilakukan secara berkala untuk membahas persoalan apa saja yang muncul dalam penyuntingan," papar Badan Bahasa.

Syarat Kata Masuk KBBI

Ada berbagai syarat utama agar kata bisa masuk ke KBBI, yaitu:

  • Unik
  • Eufonik (enak didengar)
  • Sesuai kaidah bahasa Indonesia
  • Tidak berkonotasi negatif
  • Sering dipakai di masyarakat
  • Berasal dari bahasa daerah atau asing yang populer dan mengisi kekosongan makna dalam bahasa Indonesia.

"Pengusulan dari masyarakat ini merupakan wujud dari partisipasi semesta dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia," tandas Badan Bahasa.




(det/pal)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads