Bendera putih dilaporkan telah dikibarkan di Aceh di tengah penanganan bencana di Pulau Sumatera. Pengibaran bendera putih sejak Desember 2025 lalu dinilai sebagai simbol lambatnya penanganan pemerintah pusat terhadap korban bencana Sumatera.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyebut pengibaran bendera putih merupakan suara rakyat atas kekecewaan yang dialami. Hal ini terutama terkait wilayah Aceh yang dianggap kurang mendapatkan penanganan sigap dari negara.
"Pengibaran bendera putih yang marak di Aceh, mulai dari Aceh Tamiang, Bireuen, hingga Banda Aceh, adalah wujud suara rakyat. Bagi ribuan warga yang terkepung lumpur dan kelaparan, bendera putih itu adalah wujud kekecewaan mereka atas kegagalan negara bertindak sigap dan cepat," ucapnya, seperti dilansir laman Amnesty.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di tengah malapetaka ekologis yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang sudah berlangsung lebih dari tiga pekan, fenomena ini menjadi tamparan keras bagi narasi pemerintah pusat yang selama ini mengklaim situasi 'masih terkendali'," imbuhnya.
Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (4/1/2026), jumlah korban meninggal pada bencana Sumatera telah mencapai 1.177 jiwa. Lebih dari 140 orang masih dinyatakan hilang dan lebih dari 240 ribu orang masih mengungsi.
Sampai saat ini, berdasarkan laporan terbaru, sejumlah wilayah seperti di Bintang, Aceh Tengah, masih ada daerah yang terisolasi dan akses yang terputus. Sementara di banyak wilayah terdampak, masih ada perpanjangan status tanggap darurat, demikian menurut laporan Antara.
Asal Usul Bendera Putih dalam Peperangan
Mengutip laman History, simbol bendera putih muncul dari peperangan. Ahli bendera asal Amerika Utara, James Ferrigan menyebut, bendera putih dapat digunakan saat seseorang ingin berunding dengan pihak lawan ketika perang.
Di kesempatan tertentu, bendera putih juga digunakan untuk meminta gencatan senjata sementara (untuk mengubur korban). Bukan berarti negosiasi atau menyerah, tetapi jeda sesaat saja.
Sederhananya, bendera putih berarti "jangan serang saya". Bisa dikatakan, di dunia militer, bendera putih berfungsi agar mudah mendekati lawan untuk kepentingan tertentu.
Selain itu, warga sipil juga sering menggunakannya sebagai tanda tidak terlibat peperangan dan hanya ingin damai. Lalu, apa sebenarnya makna bendera putih dalam sejarah?
Teka-teki Sejarah Bendera Putih sebagai Simbol Menyerah
Sejak dulu, warna putih dinilai praktis dan mudah diperoleh. Kain berwarna putih juga mudah dibedakan dengan baju dan perlengkapan tentara ketika perang.
Pada akhir abad ke-19, bendera putih mulai digunakan dan dianggap penting, seperti pada perang saudara di Amerika Serikat. Meski begitu, masih menjadi teka-teki bagaimana bendera putih, diartikan sebagai simbol perdamaian di era modern.
Sejarah mencatat beberapa penggunaan bendera putih pada masa lalu. Menurut Tim Marshall penulis buku Worth Dying For: The Power and Politics of Flags, Tiongkok menggunakan bendera putih sebagai simbol duka sekitar 3000 hingga 4000 tahun lalu. Seiring berjalannya waktu simbol untuk kematian dan duka itu kemudian diartikan sebagai tanda menyerah, demikian dikutip dari Business Insider.
Bendera putih kemudian diadopsi oleh Tiongkok dalam peperangan, sebagai tanda penyerahan diri dan kekalahan mereka. Setelahnya, simbol 'kain atau bendera' putih muncul pada era Romawi.
Sejarawan Romawi bernama Livy mencatat, pada Perang Punisia Kedua (Romawi Vs Kartago tahun 218-201 SM) penduduk Kartago mengemukakan isyarat damai menggunakan 'pita wol putih dan ranting zaitun'. Kejadian serupa juga dijelaskan sejarawan Romawi lainnya bernama Tacitus dalam perang saudara Romawi tahun 69 M.
Profesor sejarah di Universitas California, San Diego, Ed Watts menjelaskan bahwa kain putih dikenakan masyarakat Mediterania pada masa itu sewaktu menyembah dewa. Watts berpendapat bahwa, menunjukkan bendera putih selama peperangan adalah bentuk berserah diri dan memohon perlindungan dewa.
Sampai pada abad ke-16 tidak ditemukan contoh jelas bahwa penggunaan bendera putih sebagai simbol perdamaian. Berdasarkan catatan Kamus Bahasa Inggris Oxford dan Merriam Webster, penggunaan 'bendera putih' pertama kali terlihat pada 1578.
Pada tahun yang sama juga terbit catatan seorang pelaut Inggris George Best, tentang usahanya menemui Jalur Barat Laut di atas kapal 'Discoverie'. Tulisannya bercerita tentang perjumpaannya dengan orang-orang 'Inuit' yang berniat damai dan menunjukkan bendera putih dari kantung kemih yang dijahit menggunakan usus dan urat binatang.
Sementara itu, seorang ahli hukum Belanda Hugo Grotius menjelaskan bahwa, hukum perang dan perdamaian tahun 1625 dipengaruhi oleh bendera putih pada karyanya.
Bendera Putih sebagai Simbol Resmi
Dalam sejarah, pernah ada handuk putih yang dipakai dalam perang. Misalnya handuk dapur yang saat ini berada di Museum Museum Sejarah Amerika Nasional Smithsonian di Washington, DC.
Dahulu, handuk tersebut digunakan sebagai bendera putih dadakan. Pada perang Appomattox Court House 9 April 1865, Robert E. Lee menyerah kepada Ulysses S. Grant dengan mengirim seorang perwira konfederasi yang membawa handuk dapur sebagai permohonan gencatan senjata untuk berdialog.
Kendati demikian, pasukan militer tidak selalu membawa bendera putih saat akan berperang. Menurut pakar, mengeluarkan bendera putih akan merusak moral karena tujuan utama (saat berperang) adalah untuk meraih kemenangan.
Baru pada 1899, saat Konferensi Den Haag Pertama bendera putih diposisikan secara formal di mata hukum internasional. Konferensi tersebut menyepakati bahwa seseorang yang membawa bendera putih dapat berkomunikasi dengan musuh dan tetap dilindungi tanpa khawatir diserang.
Namun, perlindungan tidak berlaku jika seseorang terbukti menyalahgunakan bendera tersebut dan berkhianat. Kemudian pada Perang Dunia 1 & 2 mulai 1914, bendera putih juga digunakan sebagai alat komunikasi.
Saat gencatan senjata Natal tahun 1914, tentara Perancis Gervais Morillon mengirim pesan ke orang tuanya. Ia menyampaikan bahwa tentara Jerman mengibarkan bendera putih sambil berteriak 'Kamarades, Kamarades, rendez-vous' yang berarti memohon bertemu dengan pasukan lawan.
Sementara pada 1944, bendera putih digunakan para perwira Nazi untuk mendekati pasukan AS di awal pertempuran Bulge. Maksudnya ingin menanyakan 'apakah AS akan menyerah?' yang dibalas dengan pesan tertulis 'Nuts!' oleh Jenderal AS Anthony MCAuliffe. Pihak Jerman tidak mengerti maksudnya, tapi seorang perwira AS berkata itu artinya 'pergi ke neraka.'
Warga Sipil dan Bendera Putih
Walaupun bendera putih memiliki sejarah panjang dan makna penting, pasukan militer saat ini tidak lagi menghiraukan bendera putih sebagai bentuk netral dan damai. Bendera putih tak hanya menjadi simbol dalam peperangan tapi juga menyatakan sebuah kondisi darurat.
Kini, bendera putih juga digunakan warga sipil untuk memberi simbol bahwa mereka tengah menunjukkan keadaan darurat atau membutuhkan bantuan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































