Burung bangau Jawa atau Leptoptilos Javanicus merupakan spesies langka yang masuk ke dalam daftar merah IUCN ( International Union for Conservation of Nature). Burung ini telah dinyatakan langka dan dilindungi termasuk di Indonesia dan Vietnam
Burung bangau Jawa atau dikenal dengan bangau serigala/heron serigala dan bangau tongtong, memiliki populasi tidak lebih dari 10.000 ekor di seluruh dunia. Selain di Indonesia, burung langka ini banyak ditemukan di beberapa negara di kawasan Asia seperti India, Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Myanmar dan Thailand.
Habitat dan Bentuk Fisik yang Unik
Bangau Jawa memiliki bentuk tubuh yang cukup unik. Bagian kepala dan lehernya botak dengan sedikit bulu coklat atau tanpa bulu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara wajah, punggung, sayap serta ekornya berwarna hijau gelap, dengan bagian perut berwarna putih serta kaki berwarna hitam muda. Bangau Jawa dewasa dapat mencapai tinggi hingga 1,2 meter serta berat 6 sampai 8 kg.
Mereka memilih habitat berupa lahan basah, rawa-rawa, padang rumput yang tergenang air, tepi hutan dan daerah pesisir. Habitat ini dipilih untuk memudahkan burung bangau Jawa untuk memperoleh makanan berupa ikan, katak, serta ular kecil.
Di Vietnam, burung bangau Jawa hanya ditemukan di wilayah bagian selatan dan selatan tengah. Selama bertahun-tahun bangau Jawa dianggap menghilang, tapi baru-baru ini muncul kembali di Taman Nasional U Minh Thuong menurut laporan yang dikutip dari laman resmi Pemerintah Vietnam (Vietnam.vn).
Hampir Punah karena Kehilangan Habitat
Wakil Direktur Taman Nasional U Minh Thuong, Tran Van Thang, mengatakan burung bangau Jawa berkembangbiak dan menetap di kawasan taman nasional sejak dicatat tahun 2002. Pada saat itu, pihak Taman Nasional menemukan tujuh sarang, yang masing-masing berisi dua sampai empat ekor anak burung bangau Jawa di kawasan lahan gambut hutan Melaleuca.
Survei lebih lanjut mengungkapkan bahwa tercatat 42 bangau Jawa hidup di Taman Nasional U Minh Thuong.
"Pada Juni 2003, taman telah mencatat 114 individu, jumlah tertinggi yang pernah tercatat," ujarnya, dikutip dari Vietnam.vn.
Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah spesies ini kian menyusut. Penyebab menghilangnya spesies ini selama bertahun-tahun, kemungkinan disebabkan oleh menyempitnya lahan bersarang atau karena kebakaran hutan Melaleuca.
Kemunculan Bangau Jawa Jadi Pertanda Positif
Penemuan kembali bangau Jawa berawal dari pengunjung Taman Nasional U Minh Thuong, Tran Cong Minh dari Ca Mau, yang tengah memancing bersama teman temannya. Mereka tanpa sadar melihat burung bangau Jawa dari jarak lumayan dekat.
Karena cukup jinak, ia tidak menghiraukan kehadiran spesies langka tersebut karena terlihat seperti burung bangau biasa.
"Sekarang saya tahu ini adalah burung langka dan terancam punah yang terdaftar dalam Daftar Merah. Bertemu dengannya adalah keberuntungan, jadi hari ini saya menangkap lebih banyak ikan gabus, termasuk seekor gabus berbintik besar yang beratnya lebih dari 5 kg," ujar Minh.
Pengakuan juga datang dari seorang pemandu wisata di Taman Nasional U Minh Thuong, Truong Be Diem. Dirinya mengakui pernah sesekali melihat burung bangau Jawa yang sedang mencari makan di kawasan tersebut. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ia belum melihat lagi spesies langka tersebut.
"Kali ini, jarang sekali bangau Jawa muncul di luar mencari makan. Mungkin semak belukar yang lebat di dalam hutan membuat makanan sulit ditemukan, sehingga mereka bermigrasi ke area terbuka," jelasnya.
Kembali munculnya bangau Jawa ini, membuat pihak Taman Nasional U Minh Thuong mengaku mendapat pertanda positif. Mereka disebut akan berupaya terus untuk melestarikan ekosistem taman nasiona.
"Ini adalah pertanda positif, dan unit tersebut berupaya untuk terus melestarikan ekosistem yang beragam agar bangau Jawa, serta semua spesies lainnya, dapat hidup dan berkembang biak lebih banyak," ujar Wakil Direktur, Thang.
Untuk diketahui, Taman Nasional U Minh Thuong memiliki empat ekosistem utama: hutan Melaleuca di tanah gambut, hutan campuran di tanah gambut, hutan Melaleuca di tanah liat, dan ekosistem padang rumput. Di sana terdapat 334 spesies tumbuhan, 32 spesies mamalia, 190 spesies burung, 53 spesies reptil dan amfibi, 33 spesies ikan, dan banyak spesies hewan air.
Saat ini, terdapat 57 spesies hewan dan tumbuhan langka dan terancam punah, termasuk bangau Jawa, pelikan berkaki abu-abu, bangau berleher putih, kuntul berkepala hitam bermahkota putih, kuntul, dan kuntul teratai.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































