Spesies kucing liar kepala datar yang tergolong langka, Prionailurus planiceps, baru-baru ini memunculkan diri di Thailand. Para peneliti mendeteksi kemunculan kucing liar tersebut setelah menghilang selama 30 tahun.
Penemuan ini disampaikan oleh otoritas konservasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Thailand pada Jumat (26/12/2025). Hal ini merupakan temuan penting bagi upaya konservasi satwa langka di Asia Tenggara.
Kucing Liar Kepala Datar yang Hampir Punah
Kucing jenis ini merupakan salah satu spesies kucing paling langka di dunia. International Union for Conservation of Nature (IUCN), memprediksi ada 2.500 ekor kucing liar dewasa yang tersisa di alam, dikutip dari CBS News pada Senin (29/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Besar tubuhnya menyerupai kucing domestik kebanyakan, serta memiliki mata bulat yang berdekatan.
Selain itu, ciri fisik yang membedakan kucing langka ini dengan kucing biasa adalah bentuk kepalanya datar.
Kucing langka ini hanya ditemukan di Asia Tenggara. Mereka tinggal di lahan basah berupa lahan gambut atau hutan bakau air tawar.
Namun sayangnya, habitat asli spesies tersebut kian berkurang karena pengalihan fungsi lahan gambut menjadi lahan pertanian. Hal ini disampaikan oleh dokter hewan dan peneliti Kaset Sutasha dari Universitas Kasetsart. Di Thailand sendiri, kucing kepala datar ini terakhir terlihat pada 1995.
29 Kali Terekam Kamera
Angin segar muncul setelah Panthera (Organisasi Konservasi Kucing Liar), bersama dengan Departemen Taman Nasional Thailand mengerjakan survei ekologis di Suaka Margasatwa Putri Sirindhom. Hasilnya mengejutkan, kamera jebak berhasil memotret spesies kucing kepala datar sebanyak 29 kali.
Kendati begitu, jumlahnya sulit diketahui pasti. Hal ini disebabkan karena spesies tersebut tidak memiliki ciri khas tertentu. Namun, pihak Panthera yakin betul bahwa temuan ini menunjukkan konsentrasi populasi yang cukup tinggi di wilayah tersebut.
Rekaman Induk dan Anak: Sinyal Positif bagi Populasi
Kabar gembira terungkap dari video rekaman kamera jebak yang menampilkan seekor kucing betina dewasa bersama anaknya. Ini sebuah pertanda baik, karena kucing langka itu hanya bisa melahirkan satu anak dalam satu waktu. Mereka kesulitan berkembang biak dalam ekosistem yang telah terfragmentasi.
Meski ini pertanda baik, peneliti menegaskan bahwa penemuan ini hanyalah langkah awal upaya konservasi.
"Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah ini bagaimana memungkinkan mereka untuk hidup berdampingan dengan kita secara berkelanjutan, tanpa terancam," ujar Kaset.
Menurut Felidae Conservation Fund, kucing kepala datar ini juga ditemukan di wilayah lain di Asia Tenggara seperti, Malaysia, Sumatera dan Kalimantan. Kucing nokturnal tersebut memiliki makanan utama berupa ikan, katak dan udang.
Manajer program konservasi Panthera, Rattapan Pattanarangsan menyampaikan misteri kelangkaannya disebabkan karena sulit untuk menjangkau habitat mereka.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)











































