Di era serba digital, banyak orang merasa sulit fokus. Notifikasi tak berhenti bermunculan dan jari refleks membuka media sosial, bahkan saat bekerja atau belajar.
Faktanya, 81 persen orang dewasa di bawah 30 tahun mengaku terlalu sering menggunakan ponsel, menurut laporan The Harvard Gazette.
Tiga pakar dari Harvard University berbagi pandangan dan saran tentang bagaimana cara melatih kembali fokus dan perhatian di tengah derasnya distraksi teknologi. Langkahnya mulai dari pendekatan spiritual, psikologis, hingga kebiasaan kecil yang bisa dilakukan setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut saran sederhana dari tiga pakar Harvard untuk mengembalikan fokus di dunia yang serba digital.
Fokus Itu Bisa Dilatih, Mulai dari Hal Sederhana
Monica Sanford, asisten dekan di Harvard Divinity School sekaligus seorang pembimbing rohani Buddhis, mengaku juga berjuang melawan gangguan dari perangkat digital.
Ia mengatakan, kunci pertama untuk melatih fokus adalah menyadari momen ketika perhatian kita tiba-tiba hilang, lalu perlahan mengembalikannya.
"Ketika saya berhenti menggulir layar ponsel, melihat keluar jendela, atau membelai hewan peliharaan saya, rasanya hidup lebih nyata. Rasanya seperti saya kembali ke kehidupan saya sendiri," ujarnya.
Sanford juga punya kebiasaan sederhana bersama pasangannya, yaitu tidak menggunakan ponsel saat makan malam. Ia percaya, melatih perhatian seperti melatih otot, dapat dimulai dengan kebiasaan kecil setiap hari.
"Satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kendalikan dalam hidup adalah perhatian kita. Dan perhatian adalah sesuatu yang bisa dilatih," katanya.
Menurutnya, hampir semua tradisi spiritual, dari Buddhisme hingga doa dalam agama Kristen, Yahudi, dan Islam mengajarkan latihan fokus dengan cara masing-masing.
"Kita tidak sedang dihancurkan oleh teknologi. Kita punya kemampuan mental untuk menghadapi ini, sama seperti kita menghadapi penderitaan lain di dunia. Lalu muncul penderitaan baru: kecanduan layar ponsel. Tetapi solusinya masih sama, latih perhatian, latih kesadaran," ujar Sanford.
Jadikan Diri Sebagai Contoh
Pakar psikologi Bettina Hoeppner dari Harvard Medical School memiliki pendekatan praktis, yaitu batasi perangkat kerja dan buat batas waktu digital.
Ia menolak menaruh surel kantor di ponselnya. Cara ini rupanya membuat ia bisa benar-benar lepas dari pekerjaan ketika sudah meninggalkan meja kerja.
"Ketika saya tidak sedang bekerja, saya berusaha memberi contoh penggunaan ponsel yang rendah untuk anak-anak saya," ujarnya.
Sebagai peneliti kesehatan mental, Hoeppner menekankan pentingnya flow, yaitu kondisi ketika seseorang larut dalam aktivitasnya secara penuh dan menikmati prosesnya. Menurutnya, notifikasi dan distraksi digital merusak aliran konsentrasi alami otak sehingga seseorang mudah lelah, stres, dan kehilangan motivasi.
Ia juga sengaja mematikan notifikasi surel selama satu hingga dua jam setiap hari agar bisa fokus penuh menulis atau meneliti.
"Saya merasa jauh lebih baik di akhir hari ketika saya punya waktu bekerja tanpa gangguan. Itu membuat saya lebih produktif dan tenang," ujarnya.
Alihkan Perhatian ke Hal yang Bikin Bahagia
Beck Tench, peneliti di Harvard Graduate School of Education, punya cara yang unik untuk melatih fokus. Ia menyebutnya sebagai latihan "menyadari hal kecil yang baik di sekitar".
Sepuluh tahun lalu, ia mulai memotret bentuk hati yang ia temukan di jalan, awan, bahkan pada bekas permen karet. Sejak itu, kebiasaan kecil tersebut menjadi cara Tench untuk mengendalikan arah perhatiannya sendiri.
"Tindakan sederhana memilih hal apa yang ingin saya perhatikan adalah bentuk kendali diri. Ini latihan kecil sehari-hari untuk mengarahkan fokus saya sendiri, bukan membiarkannya dikendalikan orang lain," ujarnya.
Kebiasaan ini kemudian ia ajarkan kepada para mahasiswa, meminta mereka memperhatikan hal-hal langka atau menyenangkan yang mereka temui setiap hari. Menurut Tench, saat ia melakukan itu, ponselnya justru berubah fungsi, dari sumber distraksi menjadi alat koneksi dan kesadaran.
(twu/twu)











































