6 Kota Kuno Ini 'Lenyap' dan Belum Ditemukan Arkeolog sampai Sekarang

ADVERTISEMENT

6 Kota Kuno Ini 'Lenyap' dan Belum Ditemukan Arkeolog sampai Sekarang

Siti Nur Salsabilah Silambona - detikEdu
Sabtu, 03 Jan 2026 20:00 WIB
6 Kota Kuno Ini Lenyap dan Belum Ditemukan Arkeolog sampai Sekarang
Peninggalan Kekaisaran Akkadia. Foto: Met Museum
Jakarta -

Para arkeolog di dunia ini telah menggali banyak titik untuk menemukan peradaban-peradaban yang hilang, tetapi belum semuanya terungkap. Ada kota-kota kuno yang masyhur, termasuk ibu kota kerajaan dan kekaisaran yang belum terjamah para ilmuwan.

Beberapa kota-kota kuno hanya diketahui lewat teks-teks kunolah yang kemudian mendeskripsikannya. Sungguh disayangkan lokasi asal barang bersejarah itu kemungkinan lenyap ditelan zaman.

Sebenarnya beberapa kota sempat ditemukan oleh penjarah, mereka mengambil banyak artefak di wilayah tersebut. Namun, hingga saat ini para perampok itu belum juga memunculkan diri dan mengungkap lokasi mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas ada kota apa saja yang belum berhasil ditemukan para arkeolog sampai hari ini? Berikut daftar kota-kota kuno yang hanya diketahui lewat peninggalan teks-teks kuno, yang dikutip dari Livescience.

Kota-kota yang Lenyap dan Belum Ditemukan

1. Irisagrig

Keberadaan kota kuno ini diketahui lewat ribuan prasasti kuno yang ada di pasar barang antik. Irisagrrig diperkirakan mencuat namanya tidak lama setelah invasi AS ke Irak pada 2003 silam.

ADVERTISEMENT

Para ilmuwan menyebut kota itu berada di Irak dan telah berkembang sekitar 4000 tahun lalu. Lempengan batu tersebut mengungkap para penguasa kota kuno itu menempati istana bersama anjing.

Selain itu mereka juga memelihara singa atau 'gembala singa' yang diberi jatah roti dan bir. Prasasti kuno tersebut juga mencatat sebuah kuil yang ditujukan untuk Enki (dewa jahil dan kebijaksanaan), terkadang di kuil tersebut juga diselenggarakan festival. Para ilmuwan meyakini para penjarah menemukan Kota Irisagrig saat invasi AS 2003 berlangsung.

2. Itjtawy

Kota ini sengaja dibangun sebagai ibu kota atas perintah Firaun Mesir Amenemhat I, yang berkuasa dari 1981 sampai 1952 SM. Itjtawy berarti 'penakluk Dua Negeri' atau 'Amenemhat adalah penakluk Dua Negeri.' Malangnya, masa pemerintahannya bubar karena ia jadi korban pembunuhan.

Meski begitu, kota kuno ini tetap menjadi ibu kota Mesir sampai tahun 1640 SM. Saat itu bagian utara Mesir masih dikuasai oleh kelompok 'Hyksos,' sebelum kerajaan ini akhirnya runtuh. Para arkeolog menduga keberadaan kota ini terletak di dekat situs Lisht, Mesir tengah.

3. Akkad

Kota Akkad atau Agade merupakan ibu kota dari Kekaisaran Akkadia yang berkembang pesat pada tahun 2.350 hingga 2.150 SM. Pada masa kejayaannya, kota ini membentang dari Teluk Persia sampai Anatolia. Banyak penaklukan yang terjadi selama pemerintahan "Sargon of Akkad," sekitar tahun 2.300 SM.

Bangunan paling penting di kota ini adalah kuil "Eulmash," ditujukan untuk seorang dewi kuno, yang berkaitan dengan perang, kecantikan, dan kesuburan bernama Ishtar. Hingga saat ini Kota Akkad belum ditemukan. Berdasarkan catatan kuno peninggalan kekaisaran Akkadia, kota ini berada di suatu tempat di Irak.

4. Al-Yahudu

Al-Yahudu merupakan kota yang berada di kawasan Kekaisaran Babilonia. Kota tersebut juga sebagai tempat tinggal kaum Yahudi, pasca Kerajaan Yehuda takluk oleh Raja Nebukadnezar II pada 587 SM.

Pada masa itu sebagian warga dipindahkan ke tempat pengasingan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penaklukan wilayah baru ala Babilonia.

Sekitar 200 prasasti kuno berasal dari kota tersebut. Prasasti-prasasti itu mengeindikasikan warga setempat begitu kokoh atas keyakinannya, dengan menggunakan nama Yahweh dalam nama personal mereka. Namun demikian, sampai sekarang kota Al-Yahudu masih belum ditemukan oleh arkeolog.

Para ahli menduga kota ini terletak di kawasan Irak modern. Hal ini dikarenakan prasasti tersebut ditemukan di pasar barang antik dan bukan melalui penggalian resmi. Besar kemungkinan lokasi itu dulunya pernah dijarah.

5. WaΕ‘Ε‘ukanni

Kota WaΕ‘Ε‘ukanni merupakan ibu kota dari Kekaisaran Mitanni, yang berdiri sekitar tahun 1550 hingga 1300 SM. Wilayahnya meliputi kawasan timur laut Suriah, Anatolia selatan, serta Irak utara.

Kekaisaran ini mengalami persaingan sengit dengan kekaisaran Het dan Asyur di selatan. Pelan-pelan, ibu kota WaΕ‘Ε‘ukanni takluk di tangan dua kekaisaran tersebut.

Lokasi pasti kota kuno ini belum ditemukan hingga sekarang. Namun, sejumlah ahli memperkirakan jika ia berada di Suriah timur laut. Penduduk asli ibukota ini terkenal sebagai bangsa 'Hurria,' serta mereka mempunyai bahasa sendiri berdasarkan catatan kuno.

6. Thinis

Kota Thinis bisa juga disebut Tjenu, yaitu kota kuno di kawasan Mesir selatan yang berkembang pesat pada masa awal peradaban kuno. Berdasarkan catatan sejarah kuno dari Manetho, sejumlah raja Mesir pernah memerintah selama kurang lebih 5.000 tahun.

Setelahnya ibu kota Mesir dipindah ke Kota Memphis. Sementara, Thinis beralih fungsi menjadi pusat administrasi tingkat provinsi selama periode kerajaan lama (2.649 sampai 2.150 SM). Hal ini disampaikan oleh seorang inspektur di Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, Ali Seddik Othman dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Jurnal Abydos .

Hingga saat ini Kota Thinis belum diketahui secara pasti keberadaanya. Namun para arkeolog memprediksi kota itu terletak di sekitar Abydos, Mesir Selatan. Wilayah tersebut merupakan area pemakaman kaum elit dari ribuan tahun lalu. Sehingga jejak artefak dari masa Thinis mungkin terpendam di bawahnya.

Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.




(nah/nah)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads