Lonjakan kasus influenza A (H3N2) subclade K tengah terjadi di sejumlah negara. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan potensi pandemi setelah COVID-19.
Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat, telah mendeteksi lonjakan kasus super flu pada Oktober lalu. Tetangga Indonesia, Malaysia dan Thailand, juga tengah mengalami 'flu misterius' yang diduga berasal dari varian influenza yang sama.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 62 kasus super flu subclade K per akhir Desember 2025. Jawa Timur mencatat 23 kasus, Kalimantan Selatan 18 kasus, Jawa Barat 10 kasus, serta Sumatera Selatan melaporkan 5 kasus. Adapun masing-masing satu kasus tercatat di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenkes menemukan kasus super flu paling awal terdeteksi di Jawa Tengah, sedangkan temuan terbaru terjadi di Jawa Barat. Pola penyebaran ini menjadi dasar penguatan kewaspadaan di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi.
Kemunculan istilah 'super flu' sendiri berkaitan dengan dugaan kecepatan penularan. Kendati demikian, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menilai kondisi kasus super flu saat ini belum mengarah ke pandemi.
"Kalau melihat perkembangan sekarang, maka super flu ini hanya akan mengakibatkan gelombang penyakit flu yang lebih hebat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jadi tidak, atau setidaknya belum mengarah ke pandemi," kata Prof Tjandra dalam detikHealth dikutip Jumat (2/1/2025).
Penilaian suatu penyakit berpotensi menjadi pandemi tidak bisa dilakukan secara prematur. Menurut Prof Tjandra, ada sejumlah faktor kunci yang perlu diperhatikan.
3 Faktor Super Flu Berkembang Menjadi Pandemi
Menurut Prof Tjandra, terdapat tiga faktor utama yang menentukan super flu berpotensi menjadi pandemi, yaitu:
- Jika terjadi mutasi lebih signifikan yang membuat virus H3N2 menjadi baru dan sangat berbeda dari varian sebelumnya.
- Peningkatan tajam penularan dan keparahan penyakit.
- Meluasnya penularan lintas negara secara masif.
"Kalau ketiga faktor ini tidak terjadi secara bersamaan, peluang menjadi pandemi relatif kecil," ujarnya.
Varian Influenza A (H3N2) subclade K Telah Bermutasi Tujuh Kali
Virus H3N2 subclade K ini disebut telah mengalami tujuh kali mutasi. WHO pada November 2025 telah menyatakan virus ini menyebar cepat dan mendominasi kasus influenza di sejumlah negara.
Data dari Amerika Serikat per 30 Desember 2025 menunjukkan influenza berada pada kategori tinggi. Jumlah pasien influenza yang dirawat di rumah sakit melonjak menjadi 19.053 orang, hampir dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat 9.944 pasien.
(nir/nah)











































