Lembah Indus dikenal sebagai peradaban tertua dengan kota-kota terencana, infrastruktur yang luas dan sistem air yang inovatif serta sistem penulisan yang canggih pada masanya. Peradaban ini berada pada zaman yang sama dengan peradaban Mesir kuno.
Sebuah studi terbaru yang membahas penyebab runtuhnya Peradaban Lembah Indus, yang terbit pada jurnal Communications Earth & Environment, yang terbit pada tanggal 25 November 2025 berjudul 'River drought forcing of the Harappan metamorphosis'.
Studi tersebut melaporkan serangkaian kekeringan besar yang masing-masing terjadi selama lebih dari 85 tahun, menjadi penyebab utama runtuhnya peradaban kuno tersebut. Penelitian juga menyoroti bagaimana tekanan lingkungan yang berkepanjangan dapat menghancurkan suatu peradaban besar dan kuat. Namun, para ilmuwan dunia masih memperdebatkan mengapa ini bisa terjadi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari ScienceDaily, peradaban Lembah Indus atau Indus Valley Civilization (IVC) mengalami perkembangan pesat sekitar 5.000 hingga 3.500 tahun lalu, terletak di daerah yang saat ini merupakan Pakistan dan India barat laut. Peradaban kuno tersebut mencapai puncak kejayaannya sekitar 4.500 hingga 3.900 tahun lalu.
Wilayah mereka diklaim memiliki kota-kota yang terencana dengan baik, sistem pengelolaan air yang canggih, sampai sistem penulisan yang canggih.
Namun, penyebab runtuhnya peradaban luar biasa ini masih menjadi pertanyaan dan membutuhkan kepastian. Faktor penyebab yang dikemukakan meliputi perubahan iklim, penyusutan air laut, kekeringan, banjir, dan pergeseran dinamika sungai yang berhubungan dengan perubahan sosial dan politik.
Di antara faktor penyebab yang ada, kekeringan berkontribusi secara signifikan atas hilangnya peradaban kuno tersebut.
Menelusuri Alur Iklim di Masa Lalu
Tim peneliti yang dipimpin oleh Vimal Mishra menggambarkan kembali pola iklim yang terjadi 5.000 hingga 3.000 tahun lalu. Riset mereka menggabungkan pemodelan iklim, stalaktit dan stalagmit dari gua-gua di India, serta catatan sejarah permukaan air di seluruh India barat laut.
Hasilnya cukup mengejutkan, pada periode ini suhu naik sebesar 0,5 derajat Celcius, berbarengan dengan anjloknya curah hujan tahunan sebesar 10-20%.
Selain itu tim peneliti juga menemukan empat periode kekeringan ekstrem sekitar 4.450 hingga 3.400 tahun yang lalu. Setiap periode kekeringan berlangsung hampir seabad lamanya dan memengaruhi sebanyak 65% hingga 91% area peradaban Lembah Indus. Hal ini sangat menyulitkan masyarakat pada masa itu perihal kebutuhan air mereka.
Pergeseran Peta Pemukiman akibat Kekeringan
Para peneliti menuliskan akibat kekeringan panjang yang melanda, terjadi perubahan peta pemukiman. Sekitar 5.000 hingga 4.500 tahun lalu masyarakat kuno IVC berada di wilayah dengan curah hujan lebih tinggi.
Namun 4.500 tahun lalu pola pemukiman bergeser ke sumber air mendekati Sungai Indus. Perpindahan ini menjadi penyebab berubahnya peta pemukiman peradaban Lembah Indus karena berkurangnya sumber air akibat kekeringan yang melanda.
Periode kekeringan paling panjang berlangsung selama 113 tahun, yang terjadi antara 3.531 dan 3.418 tahun yang lalu. Hal ini sejalan dengan bukti arkeologis tentang deurbanisasi secara massal di wilayah tersebut.
Hilang Perlahan, Bukan Tiba-tiba
Berdasarkan bukti arkeologis dan rekonstruksi iklim, menurut para peneliti, peradaban Lembah Indus tidak runtuh secara tiba-tiba akibat satu peristiwa iklim tunggal.
"Sebaliknya, masyarakat tersebut kemungkinan mengalami penurunan yang berkepanjangan dan tidak merata di mana kekeringan berulang menjadi faktor penyebab yang signifikan."
Tekanan lingkungan yang berkepanjangan membuat penduduk berpindah dan meninggalkan tempat mereka. Artinya Peradaban Lembah Indus bukan mengalami kehancuran, tapi hilang perlahan menjauhi tempat asal mereka.
Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.
(nah/nah)










































