Mahasiswa doktoral (S3) The University of Chicago (UChicago), Naomi Harris berhasil menerjemahkan puisi berusia 3 ribu tahun. Puisi ini berasal dari bahasa Het (Hittite) yang disebut telah lama punah.
Puisi tersebut berjudul "The Moon that Fell From Heaven" atau "Bulan yang Jatuh dari Surga". Dijelaskan puisi ini mengisahkan Dewa Badai yang mengirimkan hujan ke Bulan, akibatnya timbul sebuah kejutan dan kesedihan bagi keduanya.
Berasal dari bahasa yang telah punah, kisah itu diukir pada tablet tanah liat pada abad ke-14 SM (sebelum Masehi). Kisah tersebut kemudian dipilih Harris bersama dua puisi lainnya dan kemudian terbit di majalah sastra ternama, The Paris Review.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terjemahkan 3 Puisi dengan Bahasa Kuno
Kartu arsip leksikal, dengan paragraf ini dari "Hilangnya Telipinu" dalam Kamus Het Chicago. Foto: Naomi Harris |
Mengutip laman UChicago, Harris diketahui sedang mengejar gelar gabungan dalam studi Timur Tengah dan sastra komperatif. Publikasi yang dilakukan menjadi tanda perpaduan dunia yang luar biasa.
The Paris Review merupakan majalah puisi yang bergengsi. Karya berbagai penulis terkenal dalam 75 terakhir terbit di sana, seperti Adrienne Rich dan Italo Calvino.
"The Moon that Fell From Heaven" yang sempat mati bak terlahir kembali melalui terjemahan Harris. Karya itu memiliki perpaduan ritme Het dengan drama ilahi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sehingga bisa diterima penikmat seni masa kini.
Namun, bagaimana mungkin sebuah bahasa yang telah lama punah bisa dipahami oleh manusia masa kini?
Pertanyaan itu ternyata bisa terjawab melalui studi yang dilakukan Harris. Ketika menerjemahkan karya tersebut, ia mengeksplorasi bagaimana keindahan bisa bertahan dalam fragmen (potongan karya seni) dan puisi menjadi perantara antara yang mati dan hidup.
Ada tiga puisi yang telah berhasil Harris terjemahkan, yakni "Telipinu Went" berasal dari tahun 1450-1350 SM, "They Sent an Ox" berasal dari akhir abad ke-14 SM, dan "The Moon that Fell From Heaven" berasal dari tahun 1350-1190 SM. Ketiganya memberikan renungan antara kepergian dan pembaharuan.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Harris menemukan garis besar warisan bersama umat manusia. UChicago disebut menjadi salah satu kampus yang mengajarkan bahasa Het yang langka.
Setelah menyelesaikan gelar di bidang sastra Inggris dan studi Timur Tengah, ia memilih program S3 di UChicago. Program ini dipilihnya untuk melakukan penelitian sastra Timur Tengah dan sastra komparatif.
Para dosen mendorongnya untuk memperlakukan proses menerjemahkan karya sebagai model penyelidikan yang analitis, historis, dan kreatif. Ia bahkan merasa dosen-dosennya membantunya untuk membentuk suatu karya.
"Mereka mendorong saya untuk menggunakan puisi sebagai cara lain untuk mengakses teks-teks kuno dan menghubungkannya dengan masa kini," tuturnya.
Tak hanya jadi mahasiswa, Harris juga menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Anatolian Thought and Literature. Mata kuliah ini memperkenalkan mahasiswa pada adaptasi film, lukisan, cerita pendek, dan drama.
Selama kuliah, mahasiswa diajak untuk berinteraksi dengan teks-teks kuno melalui proyek kreatif. Contohnya, memanggang roti dari resep berusia berabad-abad yang mereka rekonstruksi sebelumnya.
"Saya merasa hal itu sangat luar biasa karena melihat semua adaptasi dan interpretasi yang berbeda ini menghidupkan berbagai aspek yang belum pernah saya perhatikan sebelumnya," kata Harris.
"Dan kita membutuhkan perspektif yang berbeda ini untuk membantu kita membayangkan keseluruhan sejarah yang selamanya tak terjangkau," imbuhnya.
Perjalanan Sebagai Penerjemah Bahasa Kuno
Bagi Harris, penerjemahan sebuah karya tidak dapat dipisahkan dengan interpretasi. Hal ini menurutnya tak jauh berbeda dengan kajian ilmiah.
"Anda harus memutuskan aspek apa dari sebuah kata atau kalimat yang ingin disampaikan. Misalnya, kata Het 'wastul' dapat berarti dosa, pelanggaran, penyimpangan, atau sekedar meleset dari sasaran," bebernya.
Perjalanan kariernya sebagai penerjemah bahasa kuno berawal dari mata kuliah pascasarjana Exploratory Translation. Mahasiswa diajak mempraktikkan berbagai macam strategi penerjemahan.
Melalui strategi inilah yang membuatnya menghargai berbagai cara teks-teks dalam bahasa Het agar bisa diterjemahkan ke bahasa modern. Ia juga bertemu dengan komunitas yang berisi ahli bahasa Hittit untuk memperkaya ilmunya.
Ekosistem yang kolaboratif di kampus dan penulisan kreatif bertemu di dalam karya Harris. Selama ujian kualifikasinya, Harris bahkan menggubah puisi dan analisis orisinal sebagai pengganti esai. Pilihan ini telah didukung oleh dosen pembimbingnya.
Karyanya Terbit di Majalah Sastra Ternama
Usai menerjemahkan puisi berusia 3 ribu tahun, Profesor Bahasa Inggris yang juga anggota dewan redaksi The Paris Review, Chicu Reddy, membaca karyanya. Setelah itu, Reddy mendesak Harris untuk mengirimkan karya tersebut.
"Ketika kami di majalah pertama kali melihat terjemahan puisi Het karya Naomi, rasanya seperti sesuatu yang benar-benar baru bagi kami. Terutama karena itu adalah karya yang sangat kuno," ungkap Reddy.
"Seperti Autobi Autobiografi Red karya Anne Carson atau Memorial karya Alice Oswald, terjemahan Naomi membuat karya-karya kuno terasa baru bagi saya," katanya lagi.
Setelah gayung bersambut, keduanya berdiskusi panjang untuk menyajikan puisi tersebut kepada pembaca kontemporer. Karya yang dihadirkan, baik sebagai terjemahan, adaptasi, atau sesuai di antaranya.
Kini, terjemahan Harris memberikan teks-teks kuno yang awalnya tersimpan, kehidupan baru yang lebih luas. Mereka tak hanya jadi alat pembelajaran di lingkungan akademis, tetapi suatu karya nyata.
"Menciptakan terjemahan yang berfungsi sebagai puisi dalam bahasa Inggris berarti memberikan audiens baru bagi karya-karya ini," pungkas Naomi Harris.
(det/nah)












































