Skill atau keterampilan lulusan kampus dipandang sebagai bekal penting untuk mendapatkan pekerjaan. Di sisi lain, syarat nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kerap tercantum dalam persyaratan lowongan kerja. Menurut perusahaan, skill atau IPK yang lebih dilihat?
Dalam sebuah laporan bertajuk 'Prospek Pekerjaan 2025' dari National Association of Colleges + Employers (NACE), disebutkan bahwa hanya 38 persen pemberi kerja yang menyeleksi calon pekerja dengan IPK. Sebaliknya, mayoritas perusahaan kini lebih mengutamakan skill dan pengalaman industri serta magang yang sudah dimiliki oleh calon pekerja.
"Enam puluh lima persen pemberi kerja juga mengatakan kepada kami bahwa mereka menggunakan praktik perekrutan berbasis keterampilan dalam perekrutan lulusan perguruan tinggi," tulis NACE dalam laman resminya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampus Mulai Mempersiapkan Lulusan Siap Kerja
Di dunia pendidikan tinggi, integrasi kompetensi kesiapan karier semakin meluas. Survei Career Services Benchmark Quick Poll oleh NACE menunjukkan 83,3 persen perguruan tinggi menerapkan kompetensi ini pada tahun akademik baru, meningkat hampir sembilan persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Implementasi dilakukan di berbagai tingkatan, 31 persen di tingkat institusi, 37 persen di tingkat departemen, 15 persen di tingkat divisi, dan 17 persen melalui program khusus, kelas pengalaman mahasiswa tahun pertama, atau program lain.
Penerapan kesiapan karier di kampus juga melibatkan dosen, yang turut melakukan presentasi di kelas, demikian menurut laporan NACE.
"57% responden mengintegrasikan kompetensi karier ke dalam program/kelas pengalaman tahun pertama, 48% mengintegrasikannya ke dalam program magang, 38% mengintegrasikannya ke dalam pekerjaan di kampus, dan 22% menjadikannya bagian dari pengalaman pada semester-semester akhir," tulis laporan tersebut.
Kampus Membantu Mahasiswa Menemukan Keterampilannya
Dalam hal ini, kampus juga melaporkan ikut membantu mahasiswanya menemukan keterampilan mereka. Misalnya dengan menyediakan pusat konsultasi karier untuk menerjemahkan bagaimana keterampilan bisa sesuai dengan kebutuhan industri.
Perguruan tinggi juga membekali mahasiswa kemampuan untuk mengartikulasikan kompetensi kepada calon pemberi kerja. Hampir 79 persen kampus menyediakan sesi konsultasi, 70 persen mengadakan workshop, 77 persen melakukan presentasi di kelas, sementara sebagian menggunakan program sertifikat atau badging dan alat vendor.
Sementara sekitar 28 persen kampus, bahkan sudah bekerja sama dengan beberapa mitra perusahaan untuk membantu mahasiswa menemukan keterampilannya. Hanya ada 6 persen responden yang melaporkan bahwa mereka tidak memiliki layanan untuk membantu siswa mencapai kompetensinya.
Untuk diketahui, Asosiasi profesional dari Amerika Serikat yang sudah ada sejak 1956. NACE telah menghubungkan lebih dari 17.000 profesional layanan karir perguruan tinggi, perekrutan talenta muda dan profesional hubungan universitas.
Survei NACE tentang tren seputar integrasi kompetensi dan kesiapan karier dilakukan dari tanggal 12 Agustus 2025 hingga 6 September 2025. Sebanyak 448 perguruan tinggi dan universitas memberikan tanggapan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)











































