Sebuah studi mengungkapkan hutan hujan Amazon akan berubah menjadi iklim 'hipertropis'. Dengan keadaan itu, banyak pepohonan akan mati karena mengalami kekeringan panas ekstrem.
Dalam studi yang terbit di jurnal Nature pada 10 Desember 2025 lalu, Jeffrey Chambers dan timnya memprediksi suatu kondisi yang disebut hipertropis. Iklim tersebut akan 'memanggang' hutan hujan Amazon selama 150 hari dalam setahun.
"Ketika kekeringan panas ini terjadi, itulah iklim yang kita kaitkan dengan hutan hipertropis, karena berada di luar batas apa yang kita anggap sebagai hutan tropis saat ini," kata penulis utama studi, Jeff Chambers , seorang profesor geografi di Universitas California, Berkeley, dikutip dari Live Science.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terjadi pada 2100
Prediksi iklim ekstrem di Amazon terjadi pada tahun 2100. Ini menjadi pertama kalinya terjadi selama 10 juta tahun terakhir.
Menurut peneliti, iklim hipertropis terakhir melanda bumi antara 40 dan 10 juta tahun lalu, ketika periode Eosen dan Miosen. Sebagai gambaran, suhu global saat itu bisa 14-28 derajat Celsius lebih hangat dibanding sekarang.
Jika saat ini normalnya, hutan hujan Amazon mengalami kekeringan hanya beberapa hari atau minggu dalam setahun. Namun semakin tahun, kekeringan panas semakin panjang imbas perubahan iklim yang terjadi, menurut peneliti.
Dalam 30 tahun terakhir, para peneliti menganalisis suhu, kelembapan tanah dan udara, hingga intensitas sinar matahari. Hasilnya, pohon-pohon di hutan Amazon semakin sulit mengakses air dan berhenti menyerap karbon dioksida (CO2).
Jika kondisi ini bertahan sampai masa iklim hipertropis, maka pohon-pohon akan mati. Bahkan, tingkat kematian pohon di hutan hujan Amazon meningkat hingga 1,55 persen pada 2100.
Pohon yang Bertahan
Menurut peneliti, pohon-pohon yang tumbuh cepat lebih rentan terhadap kekeringan panas dibandingkan pohon-pohon yang tumbuh lambat. Ini karena pohon yang tumbuh cepat lebih membutuhkan air dan CO2 yang melimpah.
Ini berari, pohon-pohon yang tumbuh lambat, seperti ipê kuning (Handroanthus chrysanthus) dan Shihuahuaco (Dipteryx micrantha) akan bertahan. Pada akhirnya jenis pohon itu akan mendominasi Amazon seiring dengan kenaikan suhu, terutama jika mampu mengatasi peningkatan tekanan air dan laju perubahan suhu.
Tak hanya di hutan Amazon, hutan hujan di bagian lain dunia, seperti Afrika Barat dan Asia Tenggara, juga berpotensi sedang mengalami transisi menuju kondisi iklim hipertropis. Pergeseran ini memiliki implikasi dramatis bagi siklus karbon Bumi, karena hutan hujan menyerap sejumlah besar CO2 yang jika tidak diserap akan berakhir di atmosfer.
Kondisi mengerikan ini dinilai akan bergantung pada bagaimana akan merespons perubahan iklim yang terjadi. Apakah manusia akan memperparahnya, atau segera mengatasinya.
"Jika kita hanya akan memancarkan gas rumah kaca sebanyak yang kita inginkan, tanpa kendali apa pun, maka kita akan menciptakan iklim hipertropis ini lebih cepat," tutur Chambers.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
