Durasi waktu satu hari jika dikonversikan ke dalam jam saat ini berdurasi 24 jam. Namun, apakah detikers tahu, dahulu satu hari ternyata bukanlah 24 jam?
Hal ini diungkap oleh ilmuwan geofisika dari Institute of Geology and Geophysics, Chinese Academy of Sciences (CAS) yakni Ross Mitchell bersama tim. Mulanya ia ingin mengetahui bagaimana rotasi bumi dan siklus orbit yang terekam dalam batuan yang membentuk sejarah iklim.
Setelah melakukan analisis, Mitchell menemukan hal lain. Apa itu?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dahulu, Satu Hari Hanya Berdurasi 19 Jam
Mitchell dan tim menghimpun data global dari puluhan perkiraan hari purba. Data dilihat lewat batuan sedimen yang berasal dari 2,5 miliar tahun yang lalu.
Batuan-batuan tersebut memiliki pola yang terkait dengan metode siklostatigrafi. Metode tersebut adalah cara membaca lapisan batuan secara berulang.
Dari beberapa pola yang ditemukan, Mitchell berhasil menemukan informasi mengenai sejarah rotasi bumi yang dahulu cukup sederhana. Saat itu, durasi satu hari hampir tidak berubah.
Ia melihat, dahulu bumi memiliki periode datar yang panjang. Periode-periode datar yang paling mencolok terjadi sekitar 1-2 miliar tahun yang lalu.
"Panjang hari di Bumi tampaknya berhenti bertambah dalam jangka panjang dan mendatar di sekitar 19 jam antara dua hingga satu miliar tahun lalu," kata Mitchell dikutip dari laman Earth, Jumat (26/12/2025).
Adanya Tarik-menarik Bulan dan Dorongan Matahari
Penyebab durasi zaman dahulu pendek, menurut Mitchell dikarenakan adanya tarik-menarik antara Bulan dan dorongan Matahari. Bulan menyebabkan pasang surut air laut.
Sementara sinar matahari memanaskan atmosfer, membuat adanya gelombang tekanan di udara. Hal itu mempercepat rotasi planet.
Jika Bumi berputar cepat, maka waktu pasang surutnya juga selaras dengan durasi hari. Hal itu yang membuat dalam satu hari hanya sekitar 19 jam.
Bukti Lain Dilihat dari Mikroba Penghasil Oksigen
Pada masa 1-2 miliar tahun lalu, sebagian besar oksigen dihasilkan oleh mikroba fotosintetik yang hidup dalam lapisan-lapisan sianobakteri. Mereka menutupi dasar laut yang dangkal.
Mereka juga merupakan komunitas berlendir yang melepaskan oksigen setiap siang hari. Kemudian mereka akan mengisapnya kembali pada malam hari.
Tim penelitian lain yang dipimpin Judith Klatt menganalisis hal ini. Ia mencoba mengungkap perbedaan hari yang memengaruhi pelepasan oksigen mikroba tersebut.
Penelitian menunjukkan panjang siang sangat berpengaruh pada jumlah oksigen yang dilepaskan mikroba ke lingkungan. Jika hari terlalu pendek, mikroba akan menyerap lebih banyak oksigen daripada lebih banyak menghasilkannya.
Sebaliknya, hari yang lebih panjang akan membuat oksigen lebih banyak dilepaskan ke laut atau udara. Pada periode 19 jam, kadar oksigen meningkat lambat dibandingkan periode 24 jam sekarang.
Bumi Kemudian Berdurasi 24 Jam Sehari
Bumi akhirnya mencapai kondisi seimbang, di mana putarannya melambat dan panjang hari perlahan bertambah. Hingga saat ini, berdurasi 24 jam sehari.
Waktu ini memuat organisme fotosintetik bisa menghasilkan oksigen lebih banyak. Dari oksigen inilah kehidupan semakin beragam.
Saat ini, Bumi sudah tidak lagi dalam periode datar. Angin hingga arus laut seiring waktu mempengaruhi panjang durasi yang terkadang bisa berubah sepersekian milidetik dari 24 jam.
(cyu/nah)











































