Studi Ungkap Efek Liburan Bisa Terasa Lebih Lama, Begini Triknya

Studi Ungkap Efek Liburan Bisa Terasa Lebih Lama, Begini Triknya

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Rabu, 31 Des 2025 07:30 WIB
Studi Ungkap Efek Liburan Bisa Terasa Lebih Lama, Begini Triknya
Foto: Freepik.com/jcomp
Jakarta -

Bagi beberapa orang, liburan sering dianggap hanya memberi efek bahagia sesaat. Begitu kembali ke rutinitas, rasa lelah pun datang lagi. Namun, riset terbaru justru menantang anggapan tersebut.

Studi terbaru yang dimuat dalam Journal of Applied Psychology menunjukkan, dampak liburan tidak sesingkat yang selama ini diperkirakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dengan menelaah sejumlah penelitian tentang kesejahteraan dan waktu libur, Ryan S Grant dan timnya menemukan, manfaat liburan memang terasa nyata. Sementara itu, dampak setelahnya bergantung pada panjang masa liburan dan aktivitas yang dilakukan selama berlibur.

Artinya, efek positif liburan tidak langsung hilang setelah kembali beraktivitas, tetapi dapat bertahan cukup lama dan memberi pengaruh nyata pada kesejahteraan sehari-hari.

ADVERTISEMENT

Ini yang Tubuh dan Pikiran Dapatkan Saat Liburan

Liburan terbukti memberi dorongan besar bagi kesejahteraan mental, terutama saat sedang dijalani. Selama liburan, tingkat stres cenderung menurun, pikiran terasa lebih ringan, dan suasana hati membaik. Jauh dari tekanan pekerjaan atau rutinitas harian memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat dan memulihkan energi.

Manfaat ini juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas yang dilakukan. Aktivitas fisik seperti berjalan, berolahraga, atau bergerak aktif memberi dampak paling positif.

Aktivitas sosial, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman, juga membantu meningkatkan rasa bahagia. Sebaliknya, aktivitas pasif seperti hanya berdiam diri tanpa tujuan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kesejahteraan.

Selain itu, kemampuan untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan menjadi kunci. Semakin seseorang fokus menikmati waktu libur tanpa memikirkan tugas atau tanggung jawab, semakin besar manfaat yang dirasakan selama liburan.

Setelah Liburan, Efek Positifnya Bisa Masih Terasa? Begini Triknya

Manfaat liburan ternyata tidak langsung hilang saat seseorang kembali ke rutinitas. Efek positif ini bahkan masih terasa hingga sekitar tiga minggu setelah liburan berakhir dan diperkirakan bisa bertahan lebih dari satu bulan.

Jenis dan durasi liburan turut memengaruhi daya tahan manfaat tersebut. Liburan yang mengombinasikan waktu di rumah dan bepergian justru memberi dampak lebih besar bagi kesejahteraan.

Sementara itu, liburan yang lebih panjang memberikan dorongan kebahagiaan lebih besar saat dijalani, meski efeknya bisa memudar lebih cepat setelah kembali beraktivitas.

Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan, liburan bukan sekadar jeda singkat dari rutinitas. Jika dijalani dengan cara yang tepat, seperti melepas diri dari pekerjaan, bergerak aktif, dan menikmati waktu bersama orang lain, liburan dapat memberi manfaat yang bertahan lebih lama bagi kesehatan mental dan kesejahteraan sehari-hari.

Jadi, liburan bukan sekadar jeda singkat dari rutinitas, melainkan cara menjaga kesejahteraan diri. Jika dijalani dengan cara yang tepat, manfaatnya tidak hanya terasa saat liburan berlangsung, tetapi juga bertahan hingga beberapa minggu setelah kembali beraktivitas.

Temuan di atas diperoleh tim peneliti melalui analisis terhadap 32 studi yang mencari tahu perubahan kesejahteraan seseorang sebelum, saat, dan sesudah liburan. Indikator psikologis yang digunakan antara lain stres, burnout, kepuasan hidup dan dalam hubungan, serta kebahagiaan.

Indikator psikosomatis juga digunakan pada studi ini, seperti kualitas tidur, kelelahan, dan keluhan somatik umum. Karena sejumlah studi berfokus pada dampak kesejahteraan secara umum, indikator kesehatan yang lebih luas juga digunakan.

Peneliti juga menengok pengaruh perbedaan dampak aktivitas dan kegiatan liburan yang dilakukan. Aktivitas terbagi ke dalam kategori fisik seperti berolahraga, kategori sosial seperti menghabiskan waktu bersama orang lain, atau aktivitas pasif seperti istirahat.

Dalam hal ini, faktor yang ditelisik seperti skill baru yang dipelajari, seberapa santai subjek penelitian saat berlibur, seberapa jauh mereka memisahkan urusan pekerjaan dari liburan, hingga seberapa leluasa mereka merasa bisa mengatur sendiri masa liburnya.

Dari studi ini disimpulkan, mengambil waktu libur dan memanfaatkannya dengan baik bisa menjadi investasi sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan mental dan kualitas hidup.

Hasil studi Grant dan rekan-rekan telah dipublikasi dengan judul "I need a vacation: A meta-analysis of vacation and employee well-being" dalam Journal of Applied Psychology, 2025.




(twu/twu)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads