Studi Ungkap Alasan Mengapa Suatu Kenangan Bisa Diingat Sampai Tua

ADVERTISEMENT

Studi Ungkap Alasan Mengapa Suatu Kenangan Bisa Diingat Sampai Tua

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 29 Des 2025 10:30 WIB
Studi Ungkap Alasan Mengapa Suatu Kenangan Bisa Diingat Sampai Tua
Ilustrasi ingatan di otak. Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Berbagai momen-momen yang sarat akan emosi cenderung meninggalkan jejak yang sangat lama di otak. Momen-momen ini biasanya menjadi salah satu tonggak penting dalam hidup seseorang.

Namun, mengapa hal ini bisa terjadi?

Tim dari The University of Chicago (UChicago) yang dipimpin oleh mahasiswa doktoral Jadyn Park mencoba menjawabnya. Mereka menemukan rangsangan emosional dapat meningkatkan pengkodean memori, sehingga kenangan lebih lekat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rangsangan emosional pada memori juga bisa memperkuat kohesi (hubungan yang erat) di seluruh jaringan otak. Temuan yang diterbitkan di jurnal Nature Human Behavior ini dinilai berhasil menjelaskan satu aspek tentang memori yang telah lama membingungkan para peneliti.

ADVERTISEMENT

Peran Rangsangan Emosi dalam Sebuah Kenangan

Asisten Profesor Psikologi yang juga penulis senior dari studi tersebut, Yuan Chang Leong menggambarkan otak bak sebuah satuan orkestra. Setiap bagian memiliki peran berbeda-beda.

"Terkadang mereka bermain secara terpisah, dan pada lain waktu mereka bersatu dalam harmoni. Hal ini kita sebut (dengan) 'keadaan terintegrasi'," tuturnya dikutip dari laman resmi UChicago.

Rangsangan emosional mampu menjadi konduktor yang membantu mengarahkan orkestra otak agar bisa bersatu dalam harmoni. Aspek ini mampu menyatukan bagian-bagian yang terpisah.

"Ketika itu terjadi, ingatan kita menjadi lebih tahan lama," sambungnya.

Studi sebelumnya memang telah mengamati tentang peran emosi pada ingatan. Namun, yang ditemukan adalah informasi tentang rangsangan sederhana dan mengeksplorasi reaksi terhadap kata tunggal atau gambar statis.

Dalam kehidupan sehari-hari, ingatan tercipta tidak sesederhana itu. Leong mencatat, ingatan manusia berasal dari pengalaman kompleks yang terus berkembang, mirip film atau cerita.

Tim UChicago ingin memahami bagaimana rangsangan emosional dapat membentuk ingatan secara alami. Mereka juga ingin mengetahui sejauh mana wilayah otak seseorang, karena pada studi lain biasanya hanya fokus di satu area, seperti amigdala dan hipokampus.

Gunakan Tiga Metode Berbeda

Untuk menjawab pertanyaan yang ada, para peneliti menggabungkan kumpulan data fMRI (metode pencitraan otak) dari berbagai institusi dan lokasi. Tujuannya agar peneliti bisa memiliki sampel yang besar.

fMRI memungkinkan para peneliti untuk mengukur seluruh otak secara bersamaan. Selain itu, metode pencitraan otak itu juga memberikan gambaran yang komprehensif tentang area dan koneksi otak yang distimulasi.

Stimulasi otak peserta studi dilakukan dengan menonton cuplikan film dan mendengarkan cerita.

Tidak hanya fMRI, para peneliti juga menggunakan tiga metode berbeda untuk menentukan seberapa kuat pengaruh emosional pada berbagai rangsangan alami. Setelah persiapan mantap, eksperimen akhirnya dimulai.

Peneliti meminta peserta studi secara subyektif menilai seberapa besar emosi bisa bangkit ketika mereka menonton suatu adegan tertentu. Berdasarkan hal ini, peneliti menggunakan metode penilaian model bahasa yang mampu mengukur seberapa besar emosi bisa hadir di suatu adegan.

Selain itu, peneliti juga mengukur pelebaran pupil mata peserta. Pengukuran ini masuk dalam kriteria fisiologis dari gairah.

Selanjutnya, peneliti menggunakan kerangka kerja matematika teori graf. Melalui penilaian ini, mereka akan menemukan bila emosi berperan penting dalam memperkuat suatu ingatan.

Caranya dengan mengubah cara kerja seluruh otak secara bersama-sama, bukan hanya bagian-bagian tertentu. Tim menemukan bukti ini ketika peserta menonton adegan yang sangat menggugah, terlihat otak beralih ke keadaan yang saling terintegrasi.

Pada akhirnya, peningkatan integrasi ini dapat memprediksi seberapa baik orang itu mengingat adegan yang dilihatnya.

Cara Baru Studi tentang Ingatan

Temuan dari studi yang dipimpin Jadyn Park ini mengarah pada intervensi medis, di mana ingatan bisa dibuat lebih atau kurang melekat. Kesimpulan dari studi tersebut menyatakan bila ketika bagian-bagian jaringan otak yang berfungsi sebagai "jembatan" distimulasi atau ditekan, proses memperkuat ingatan mungkin terjadi.

"Kami menemukan ketika peserta mengalami peristiwa yang sangat emosional, berbagai wilayah otak cenderung lebih terkoordinasi satu sama lain, atau lebih terintegrasi," beber Park.

"Jika kita dapat dengan sengaja mengganggu atau meningkatkan integrasi tersebut, hal itu dapat membuka pintu bagi intervensi medis, di mana mampu membantu melemahkan ingatan traumatis," kata dia lagi.

Lebih lanjut, studi ini menawarkan cara baru untuk menyelidiki ingatan seseorang. Ini akan menjadi langkah besar yang memungkinkan peneliti mengukur dengan lebih baik tentang bagaimana ingatan emosional bisa melekat hingga tua.

Studi ini telah terbit di jurnal Nature Human Behaviour dengan judul "Emotional arousal enhances narrative memories through functional integration of large-scale brain networks" pada 13 Oktober 2025.



(det/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads