Waduh! Cuaca Panas Terbukti Hambat Perkembangan Anak Usia Dini

Waduh! Cuaca Panas Terbukti Hambat Perkembangan Anak Usia Dini

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 27 Des 2025 15:00 WIB
Waduh! Cuaca Panas Terbukti Hambat Perkembangan Anak Usia Dini
Ilustrasi kemampuan literasi. Foto: Thinkstock
Jakarta -

Beberapa gejala perubahan iklim, termasuk panas ekstrem dan gelombang panas, diketahui mampu merusak ekosistem, pertanian, hingga kesehatan manusia. Namun, ada yang tidak kalah mengkhawatirkan dari ini.

Peningkatan suhu ternyata juga dapat memperlambat aspek-aspek penting dalam perkembangan anak usia dini.

Suhu di Atas 30Β°C Bikin Ketinggalan Skill Literasi-Numerasi

Sebuah studi melaporkan, anak-anak yang berada di cuaca panas yang tidak biasa, khususnya suhu maksimum rata-rata di atas 86 Β°F (30 Β°C), cenderung kurang mencapai tolok ukur literasi dan numerasi yang diharapkan. Ini jika dibandingkan dengan anak-anak yang tinggal di lingkungan yang lebih dingin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Studi tersebut diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry dengan judul "Ambient heat and early childhood development: a cross-national analysis" dan ditulis oleh Jorge Cuartas dkk.

"Meskipun paparan panas telah dikaitkan dengan dampak negatif terhadap kesehatan fisik dan mental sepanjang hidup, studi ini memberikan wawasan baru bahwa panas yang berlebihan berdampak negatif pada perkembangan anak usia dini di berbagai negara," kata penulis utama Jorge Cuartas yang merupakan asisten profesor psikologi terapan di NYU Steinhardt.

ADVERTISEMENT

"Karena perkembangan awal meletakkan dasar untuk pembelajaran seumur hidup, kesehatan fisik dan mental, dan kesejahteraan secara keseluruhan, temuan ini seharusnya mengingatkan para peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi akan kebutuhan mendesak untuk melindungi perkembangan anak di dunia yang memanas," ungkapnya, dikutip dari Science Daily.

Cuartas dan rekan-rekannya menganalisis data dari 19.607 anak berusia tiga hingga empat tahun dari Gambia, Georgia, Madagaskar, Malawi, Palestina, dan Sierra Leone. Negara-negara ini dipilih karena menyediakan data terperinci tentang perkembangan anak, kondisi kehidupan rumah tangga, dan iklim. Sehingga, data tersebut memungkinkan para peneliti untuk memperkirakan frekuensi panas yang dialami setiap anak.

Untuk mengevaluasi perkembangan, tim menggunakan Indeks Perkembangan Anak Usia Dini atau Early Childhood Development Index (ECDI). Indeks ini menelusuri tolok ukur perkembangan di empat bidang yaitu keterampilan membaca dan berhitung (literasi dan numerasi), perkembangan sosial-emosional, pendekatan pembelajaran, dan perkembangan fisik.

Para peneliti menggabungkan informasi ECDI dengan data 2017-2020 dari Survei Klaster Indikator Berganda atau Multiple Indicator Cluster Surveys (MICS). Indikator yang dicakup adalah demografis dan kesejahteraan seperti pendidikan, kesehatan, gizi, dan sanitasi.

Dengan menggabungkan data ini dengan catatan iklim yang menunjukkan suhu rata-rata bulanan, para ahli menelusuri potensi kaitan antara paparan suhu panas dan perkembangan anak pada usia dini.

Anak Kurang Mampu-Tinggal di Kota Lebih Rentan

Para peneliti menemukan anak-anak yang mengalami suhu maksimum rata-rata di atas 86 Β°F (30 Β°C) memiliki kemungkinan 5 hingga 6,7 persen lebih kecil untuk mencapai tolok ukur literasi dan numerasi dasar, dibandingkan anak-anak yang terpapar suhu di bawah 78,8 Β°F selama musim yang sama dan di wilayah yang sama.

Anak-anak di rumah tangga yang kurang mampu secara ekonomi, rumah tangga dengan akses terbatas ke air bersih, dan daerah perkotaan yang padat penduduk menunjukkan dampak yang paling kuat.

"Kita sangat membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mengidentifikasi mekanisme yang menjelaskan efek ini dan faktor-faktor yang melindungi anak-anak atau meningkatkan kerentanan mereka," ujar Cuartas.

"Penelitian semacam itu akan membantu menentukan target konkret untuk kebijakan dan intervensi yang memperkuat kesiapan, adaptasi, dan ketahanan seiring intensifikasi perubahan iklim," lanjutnya.

Studi ini ditulis bersama oleh Lenin H Balza dan NicolΓ‘s GΓ³mez-Parra dari Interamerican Development Bank, serta AndrΓ©s Camacho dari Universitas Chicago.




(nah/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads