Asal-Usul 5 Simbol Natal: Pohon Cemara hingga Warna Merah-Hijau

ADVERTISEMENT

Asal-Usul 5 Simbol Natal: Pohon Cemara hingga Warna Merah-Hijau

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Kamis, 25 Des 2025 16:56 WIB
Asal-Usul 5 Simbol Natal: Pohon Cemara hingga Warna Merah-Hijau
Foto: Freepik/gpointstudio
Jakarta -

Natal memiliki beragam simbol yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan, mulai dari pohon cemara yang hijau, lagu-lagu meriah, hingga kue manis yang menggugah selera.

Setiap simbol membawa cerita dan sejarahnya sendiri, melintasi berbagai budaya, tradisi, dan agama, dari praktik pagan kuno hingga perayaan Kristen modern. Lantas, bagaimana asal-usul simbol-simbol ini dan makna yang terkandung di baliknya? Simak penjelasannya berikut ini seperti dilansir dari Reader's Digest.

Pohon Natal

Asal-usul pohon Natal memiliki beberapa versi. Pohon cemara hijau abadi adalah dekorasi musim dingin universal. Kaum pagan memajang ranting-rantingnya sebagai pengingat bahwa musim semi akan datang kembali. Bangsa Romawi menempatkannya di sekitar kuil untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian. Tetapi pertama kali pohon cemara hijau abadi digunakan sebagai pohon Natal adalah di Tallinn, Estonia atau Riga, Latvia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Legenda lain menyebutkan bahwa pada abad ke-8, biarawan Benediktin Inggris, Boniface, menebang pohon ek di Jerman untuk menghentikan praktik penyembahan dewa pagan. Dari lokasi pohon ek yang ditebang itu, tumbuh pohon cemara yang kemudian dijadikan simbol Kristus. Bentuk segitiga pohon cemara melambangkan Tritunggal Mahakudus sekaligus kehidupan baru.

Pada abad ke-16, orang Kristen Jerman membawa pohon-pohon itu ke dalam rumah mereka sebagai simbol Natal kehidupan abadi. Ketika berita menyebar bahwa Ratu Victoria meminta suaminya yang berkebangsaan Jerman, Pangeran Albert, untuk memasang pohon Natal di istana mereka, praktik tersebut tiba-tiba menjadi puncak simbolisme Natal di Inggris dan Amerika.

ADVERTISEMENT

Umat Kristen menghiasnya dengan kacang, apel, dan kue jahe. Ada juga yang membuat piramida kayu dan menempatkan cabang cemara beserta lilin sebagai pengganti pohon. Seiring migrasi orang Jerman ke berbagai wilayah di dunia, tradisi menghias pohon Natal menyebar dan berkembang, hingga menjadi simbol Natal yang populer dan dikenal luas hingga saat ini.

Lilin

Umat Kristiani menyalakan lilin saat Ibadah Misa Malam Natal di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Kemayoran,  Jakarta Pusat, Sabtu (24/12/2022).  Menyalakan lilin itu dimaknai dengan menyambut malam kudus yang suci serta menyampaikan doa kepada Tuhan.Umat Kristiani menyalakan lilin saat Ibadah Misa Malam Natal di Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/12/2022). Menyalakan lilin itu dimaknai dengan menyambut malam kudus yang suci serta menyampaikan doa kepada Tuhan. Foto: Pradita Utama

Natal yang jatuh 25 Desember di belahan bumi Utara sedang musim dingin dan beberapa wilayah tak mendapatkan sinar matahari selama beberapa pekan meski siang hari (polar night). Selama hari-hari tergelap dalam setahun, lilin dan api melambangkan harapan, kehangatan, dan kelahiran kembali dalam tradisi titik balik matahari musim dingin di seluruh dunia.

Tradisi ini akhirnya menyatu dengan tradisi Kristen untuk Natal. Di Skandinavia, gadis-gadis muda mengenakan karangan bunga di kepala mereka yang diterangi lilin untuk Hari Santa Lucia pada tanggal 13 Desember. Di New Mexico, luminaria, atau lilin dalam kantong kertas, menerangi jalan setapak saat Natal. Tradisi Meksiko yang serupa, Las Posadas, melibatkan anak-anak muda yang membawa lilin untuk secara simbolis menerangi jalan bagi perjalanan Maria dan Yusuf sebelum kelahiran Yesus. Karangan bunga Adven juga menggunakan lilin untuk menghitung mundur empat minggu sebelum Natal.

Kaos Kaki

Ide Dekorasi Natal 2024 Terbaru yang Unik, Sederhana, hingga ModernIde Dekorasi Natal 2024 Terbaru yang Unik, Sederhana, hingga Modern Foto: Freepik/freepik

Kaos kaki Natal menjadi salah satu dekorasi ikonik yang menghiasi rumah saat perayaan Natal. Hiasan ini tidak hanya mempercantik suasana, tetapi juga menghadirkan sentuhan personal, baik berupa kaos kaki tradisional maupun yang menampilkan simbol-simbol Natal favorit.

Asal-usul tradisi ini terkait dengan Santo Nicholas, yang konon mendengar tentang seorang duda miskin dengan tiga putri yang khawatir tidak akan bisa menikah karena tak punya mas kawin.

Suatu malam, Santo Nicholas menyelinap ke rumah mereka melalui cerobong asap, melihat kaos kaki yang dijemur di dekat perapian, dan mengisinya dengan koin emas sebelum menghilang. Keesokan harinya, ketiga putri itu menemukan hadiah tersebut, yang cukup untuk menjadi mas kawin dan memungkinkan mereka menikah.

Sejak saat itu, kaos kaki Natal menjadi simbol kemurahan hati dan tradisi memberi hadiah yang diteruskan hingga kini.

Lonceng

Ilustrasi lonceng Natal.Ilustrasi lonceng Natal. Foto: Unsplash/Oleksandr Skochko

Lonceng menjadi salah satu simbol yang identik dengan perayaan Natal, mulai dari lonceng kereta salju, lonceng gereja, hingga lonceng hias atau jingle bells. Lonceng memiliki sejarah yang kaya, baik dari sisi simbolik maupun fungsional.

Dalam tradisi pagan maupun Kristen, lonceng diyakini mampu mengusir roh jahat dan memberikan perlindungan. Di gereja, lonceng dibunyikan untuk menandai momen penting, seperti kelahiran Kristus, sekaligus memberi sinyal kepada umat bahwa ibadah akan segera dimulai.

Sementara lonceng kereta salju (jingle bells) memiliki fungsi praktis, yaitu memperingatkan orang bahwa kereta sedang melintas, terutama di salju tebal di mana suara tapak kuda hampir tidak terdengar. Dengan berbagai fungsi dan maknanya, simbol ini kini menjadi bagian dari dekorasi dan suasana perayaan Natal.

Warna Merah-Hijau

Setiap perayaan memiliki warna khas, dan Natal tidak terkecuali. Kombinasi merah dan hijau, misalnya, kerap menghadirkan nuansa hangat dan kenangan, seperti suasana Malam Natal di rumah nenek yang penuh kegembiraan.

Sejarah warna Natal klasik ini bermula dari kartu Natal era Victoria pada 1800-an dan populer kembali lewat ilustrasi seniman pada 1920-an. Namun, akar penggunaannya lebih tua, berasal dari masyarakat Celtic kuno yang menghormati tanaman holly (Ilex sp) berwarna merah dan hijau karena selalu hijau, sebagai simbol perlindungan dan keberuntungan di musim dingin.

Di gereja-gereja abad pertengahan, merah dan hijau juga kerap digunakan pada layar roods untuk menghias altar. Selain faktor ketersediaan pigmen, kombinasi ini kemudian dikaitkan dengan Yesus Kristus. Tradisi ini berlanjut hingga era Victoria, diterapkan pada dekorasi dan kartu Natal, memadukan simbolisme musim dingin dan religius.

Secara khusus, warna merah melambangkan darah Yesus, cinta, keberanian, dan keceriaan, sekaligus identik dengan pakaian Santa Claus. Sementara hijau, seperti pada holly dan mistletoe, merepresentasikan kehidupan Kristus dan sifat-Nya yang abadi. Pada masa pagan, hijau juga mengingatkan manusia bahwa alam tetap hidup meski di musim dingin.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Suasana Menyambut Natal di Berbagai Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads