Di luar negeri, menjelang hari Natal, banyak pasar kaget bermunculan di jalanan, lapangan atau alun-alun dengan dekorasi dan lampu-lampu meriah khas Natal. Sebenarnya sejak kapan Christmas market ini ada?
Asal-usul Christmas Market
Asal-usul Christmas market dapat ditelusuri hingga tahun 1296 di Wina, Austria ketika Duke Albrecht I sebagai otoritas saat itu mengizinkan penyelenggaraan pasar selama 14 hari pada bulan Desember. Meski digelar menjelang Natal, pasar tersebut belum memiliki keterkaitan langsung dengan perayaan keagamaan.
Seiring waktu, bentuk pasar serupa juga muncul di wilayah lain. Salah satu contohnya terdapat di Bautzen, Jerman, pada 1384, saat Raja Bohemia Wenceslas IV memberikan hak pasar bebas di mana para penjagal daging bisa menjual dagingnya hingga menjelang Natal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, keberadaan pasar di Wina, Austria pada Abad 13 dan di Bautzen, Jerman pada Abad 14 jelang Natal ini belum disepakati para ilmuwan sebagai asal-usul Christmas market modern.
Dirk HR Spennemann dan Murray Parker, pakar manajemen warisan budaya dari Charles Sturt University, Australia, menulis dalam jurnal Heritage bahwa penetapan pasar pasar awal tersebut sebagai Christkindlesmarkt atau Pasar Anak Kristus masih diperdebatkan.
"Apakah hal ini dapat dianggap sebagai Christkindlesmarkt, yang secara harfiah berarti pasar Anak Kristus dalam bahasa Jerman, masih menjadi perdebatan. Sejumlah pihak menilai bahwa awal mula Christmas market kemungkinan terjadi lebih belakangan dibandingkan dengan gambaran yang kerap ditampilkan dalam media dan sains populer," tulis Spennemann dan Parker dalam jurnal Heritage.
Meski asal usulnya diperkirakan lebih muda daripada yang sering diklaim dalam narasi populer, beberapa Christmas market tercatat beroperasi secara berkelanjutan hingga kini. Spennemann dan Parker mencatat Dresden Striezelmarkt yang dimulai pada 1434 serta Nuremberg Christkindlesmarkt yang telah ada setidaknya sejak 1628.
Dari kawasan Jerman, tradisi Christmas market kemudian menyebar ke wilayah berbahasa Jerman lainnya, termasuk Italia, Swiss, dan Prancis. Penyebaran ini menunjukkan bagaimana praktik pasar Natal berkembang seiring meluasnya budaya dan kebiasaan perayaan Natal di Eropa.
Pola tersebut sejalan dengan munculnya tradisi Natal lain, seperti pohon Natal yang pertama kali tercatat di Jerman pada abad ke 16. Catatan tertulis tertua mengenai pohon Natal berasal dari Mainz, Jerman pada 1527, sebagaimana disebutkan oleh Robert Kolb, teolog dari Concordia Seminary di St. Louis, dikutip dari Smithsonian Magazine.
Komersialisasi Christmas Market
Christmas market berkembang pesat di Eropa pada abad ke-17 hingga awal abad ke-18. Pasar ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan lintas kelas sosial.
Spennemann dan Parker mencatat bahwa Christmas market kerap berlokasi di dekat gereja, sehingga menjadi tempat berkumpulnya beragam lapisan masyarakat, mulai dari pekerja, jemaat gereja, pelancong asing, hingga kalangan bangsawan.
Seiring meningkatnya popularitas, pemerintah mulai memberlakukan regulasi. Di Berlin, pada 1750, pemerintah menetapkan lokasi khusus serta durasi operasional Christmas market dari 11 Desember hingga 6 Januari. Berdasarkan data dari jurnal Heritage, jumlah lapak di pasar Natal Berlin meningkat signifikan, dari sekitar 50 pada 1650 menjadi sekitar 600 pada 1840.
Memasuki paruh kedua abad ke-19, perubahan waktu dan selera masyarakat turut mempengaruhi penyelenggaraan Christmas market. Pada 1869, kepolisian Frankfurt membatasi operasional pasar Natal dari 5 Desember hingga 1 Januari, melarang aktivitas jual beli selama misa, serta hanya mengizinkan penjualan barang yang dianggap sebagai produk Natal asli, seperti mainan anak-anak, pohon Natal, dan aneka manisan.
Pada periode yang sama, Christmas market juga menghadapi persaingan dari department store. Toko-toko besar tersebut menawarkan barang hasil produksi massal dengan harga lebih murah dan akses yang lebih mudah dibandingkan produk buatan tangan yang dijual di lapak terbuka.
Spennemann dan Parker menulis bahwa department store yang bernuansa lebih modern yang banyak bermunculan membuat Christmas market semakin terpinggirkan. Lokasi pasar dipindahkan ke area yang semakin ke pinggiran, sementara sebagian pedagang banyak, di antaranya anak-anak, terpaksa berjualan sambil berkeliling jalanan.
"Sehubungan dengan kekuatan politik yang tersirat dari toko-toko serba ada yang sedang berkembang, pasar Natal semakin terpinggirkan, dan para pedagang (terutama anak-anak) berkeliaran di jalanan dengan barang dagangan mereka," tulis Spennemann dan Parker.
Masa Keemasan hingga Era Modern
Menjelang akhir abad ke-19, Christmas market sempat mengalami kemunduran. Pada 1920-an, jurnalis Hans Ostwald menggambarkan Berlin sebagai kota yang hanya menyisakan sisa-sisa kecil pasar Natal di bagian timur, yang masih mampu membangkitkan harapan dan keinginan anak-anak.
Situasi ini berubah pada 1930-an, ketika rezim Nazi menghidupkan kembali Christmas market sebagai simbol propaganda nasionalisme Jerman. Pasar Natal Berlin dipindahkan ke pusat kota dan mencatat lonjakan pengunjung, dari sekitar 1,5 juta orang pada 1934 menjadi dua juta orang dua tahun kemudian.
Pada periode tersebut, pemerintah Nazi mewajibkan Christmas market hanya menjual barang-barang yang berkaitan langsung dengan Natal, seperti hiasan pohon, mainan, kue jahe dan sebagainya. Kebijakan ini secara bertahap menggeser makna Natal dari akar religiusnya menuju tradisi nasionalis Jerman, yang diperkuat melalui dekorasi meriah serta kehadiran lapak makanan khas.
Spennemann dan Parker mencatat bahwa meskipun diklaim berakar pada tradisi lama, fase ini justru menandai perubahan penting dalam karakter Christmas market. Pasar Natal tidak lagi sekadar menjadi ruang jual beli, melainkan berkembang menjadi sebuah pengalaman perayaan yang mengutamakan suasana dan kebersamaan.
"Meskipun mengklaim berakar pada tradisi, perkembangan penting yang terjadi adalah perubahan pasar Natal dari kegiatan yang semata bersifat komersial menjadi sebuah pengalaman," tulis Spennemann dan Parker.
Sempat meredup selama Perang Dunia II, Christmas market kembali bangkit seiring meningkatnya konsumerisme pascaperang. Pada akhir 1960-an hingga 1970-an, pasar Natal bahkan mulai dibuka sejak akhir November. Saat ini, Jerman menyelenggarakan sekitar 3.000 Christmas market setiap tahun, meskipun sebagian besar pasar berskala kecil baru berusia sekitar 50 hingga 60 tahun.
Dalam beberapa dekade terakhir, Christmas market juga menyebar ke berbagai belahan dunia. Kini Christmas market diadakan setiap tahun jelang Natal di puluhan kota di seluruh dunia, dari Zagreb, Kroasia; Dresden, Jerman; Moskow, Rusia; Shanghai, China, hingga Chicago, Illinois, Amerika Serikat (AS). Christmas market biasanya menampilkan kios-kios terbuka yang menjual hadiah, makanan khas musiman, dan minuman hangat. Aktivitas jual-beli dilakukan di sela pajangan lampu yang indah, dekorasi, hingga pertunjukan meriah.
Simak Video "Video: Melihat Pengamanan Ketat di Pasar Natal Jerman Usai Teror Pada 2024"
[Gambas:Video 20detik]
(nwk/nwk)











































