Wabah Black Death Ternyata Dipicu Faktor Iklim, Pertanian, hingga Ekonomi

ADVERTISEMENT

Wabah Black Death Ternyata Dipicu Faktor Iklim, Pertanian, hingga Ekonomi

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Selasa, 23 Des 2025 10:30 WIB
Wabah Black Death Ternyata Dipicu Faktor Iklim, Pertanian, hingga Ekonomi
Black Death. Foto: Getty Images
Jakarta -

Penelitian terbaru mengungkap letusan gunung berapi sekitar tahun 1345 memicu serangkaian peristiwa yang kemudian menyebabkan pandemi paling mematikan di Eropa.

Black Death merupakan salah satu bencana terbesar dalam sejarah manusia. Antara 1347 hingga 1353, wabah ini menewaskan jutaan orang di seluruh Eropa, dengan angka kematian yang masih diperdebatkan. Disebut-sebut di beberapa wilayah bahkan mendekati 60% dari populasi.

Wabah ini merupakan gelombang pertama dari pandemi kedua yang meninggalkan dampak jangka panjang, tidak hanya secara demografis, tetapi juga ekonomi, politik, budaya, dan agama, bagi Eropa serta wilayah Mediterania secara lebih luas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gelombang pertama dari pandemi kedua, Black Death, menghancurkan sebagian besar populasi Eropa hanya dalam beberapa tahun setelah 1347 Masehi.

Meski diketahui bakteri penyebabnya, Yersinia pestis, berasal dari populasi hewan pengerat liar di Asia Tengah dan masuk ke Eropa melalui wilayah Laut Hitam. Alasan di balik waktu, penyebaran, dan virulensi wabah ini masih menjadi perdebatan.

ADVERTISEMENT

Dalam jurnal yang diterbitkan di Communications Earth & Environment pada 4 Desember, tim peneliti dari University of Cambridge di Inggris dan Leibniz Institute for the History and Culture of Eastern Europe (GWZO) di Jerman mengatakan satu atau beberapa letusan gunung berapi sekitar tahun 1345 memicu pandemi yang akhirnya menewaskan 30 hingga 50 persen populasi di Afrika, Asia Tengah, dan Eropa.

"Ini adalah sesuatu yang sudah lama ingin saya pahami," kata Profesor Ulf BΓΌntgen dari Departemen Geografi Universitas Cambridge, dikutip dari Eurekalert.

"Apa saja faktor-faktor yang memicu munculnya dan penyebaran Wabah Hitam, dan seberapa tidak biasa faktor-faktor tersebut? Mengapa wabah ini terjadi tepat pada waktu dan tempat tertentu dalam sejarah Eropa? Pertanyaan ini sangat menarik, tetapi tidak ada yang dapat menjawabnya sendirian," tambahnya Prof. Ulf.

Cincin Pohon

Tim BΓΌntgen bekerja sama dengan sejarawan iklim dan epidemiologi abad pertengahan GWZO, Martin Bausch, untuk meneliti kondisi sebelum kedatangan Black Death. Fokus penelitian adalah sistem ketahanan pangan dan kelaparan pada masa itu sebagai konteks badai sempurna bagi wabah.

Terobosan muncul dari pohon-pohon berusia berabad-abad di Pegunungan Pyrenees, Spanyol. Setiap cincin pada batang pohon menceritakan kisah tahun tertentu. Banyak cincin menunjukkan musim panas yang sangat dingin dan basah antara 1345 hingga 1347, sebuah kondisi langka yang terjadi berturut-turut.

Para peneliti kemudian memverifikasi musim-musim tersebut melalui sumber tertulis, yang mencatat langit yang berawan dan gerhana bulan gelap.

Hal ini diperkuat dengan mengenai hasil panen yang buruk, panen yang lemah, dan kelaparan yang diakibatkannya. Pada 1347, republik maritim Italia seperti Genoa, Pisa, dan Venesia mulai mengimpor gandum dari wilayah Mongol dekat Laut Azov.

"Selama lebih dari satu abad, negara-kota Italia yang kuat ini telah membangun jalur perdagangan jarak jauh di seluruh Mediterania dan Laut Hitam, memungkinkan mereka mengaktifkan sistem yang sangat efisien untuk mencegah kelaparan," jelas Bauch.

"Namun pada akhirnya, ini secara tidak sengaja memicu bencana yang jauh lebih besar," tambah Bauch.

Para peneliti meyakini kapal-kapal pengangkut gandum ini datang dengan penumpang tak diundang yaitu kutu yang terinfeksi pes. Setelah tiba di Eropa, kutu-kutu ini berpindah ke tikus, dan Black Death pun memulai penyebarannya yang terkenal.

Peringatan untuk Masa Kini

Para peneliti mengatakan perpaduan dari faktor iklim, pertanian, sosial, dan ekonomi setelah 1345 yang memicu Black Death juga bisa dianggap sebagai contoh awal dari konsekuensi globalisasi.

"Di begitu banyak kota dan desa Eropa, Anda masih bisa menemukan bukti Black Death, hampir 800 tahun kemudian," kata BΓΌntgen.

"Di Cambridge misalnya, Corpus Christi College didirikan oleh warga kota setelah wabah menghancurkan komunitas lokal. Ada contoh serupa di banyak wilayah Eropa lainnya," tambah BΓΌntgen.

"Namun, kami juga dapat menunjukkan bahwa banyak kota Italia, bahkan yang besar seperti Milan dan Roma, kemungkinan besar tidak terpengaruh oleh Black Death, tampaknya karena mereka tidak perlu mengimpor gandum setelah 1345," kata Bauch.

"Hubungan iklim-kelaparan-gandum memiliki potensi untuk menjelaskan gelombang wabah lainnya," tambah Bauch.

BΓΌntgen menambahkan, meski rangkaian efek beruntun seperti ini terdengar jarang terjadi, kondisi serupa bisa menjadi lebih mungkin di masa depan akibat perubahan iklim.

"Meski kebetulan faktor-faktor yang berkontribusi pada Black Death terdengar jarang, probabilitas munculnya penyakit zoonosis akibat perubahan iklim dan berkembang menjadi pandemi kemungkinan meningkat di dunia yang terglobalisasi," ujar BΓΌntgen.

"Ini sangat relevan mengingat pengalaman kita baru-baru ini dengan COVID-19," tambah BΓΌntgen.

Para peneliti menekankan ketahanan terhadap pandemi di masa depan membutuhkan pendekatan holistik untuk menghadapi berbagai ancaman kesehatan. Penilaian risiko modern sebaiknya menggabungkan pengetahuan dari contoh sejarah tentang interaksi antara iklim, penyakit, dan masyarakat.

Penulis adalah peserta program Magang Hub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads