La Nina: Pengertian dan Dampaknya bagi Indonesia

La Nina: Pengertian dan Dampaknya bagi Indonesia

Siti Nur Salsabilah Silambona - detikEdu
Jumat, 07 Nov 2025 07:30 WIB
La Nina: Pengertian dan Dampaknya bagi Indonesia
Foto: Dok. NASA/ilustrasi La Nina
Jakarta -

Fenomena La Nina kembali menjadi sorotan menjelang akhir tahun 2025. Menurut laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 2 Oktober 2025, sebagian kecil model iklim global memprediksi potensi La Niña lemah akan terjadi di penghujung tahun.

BMKG memantau bahwa awal musim hujan di Indonesia tidak terjadi secara serentak. Sebanyak 333 Zona Musim (ZOM) atau 47,6% wilayah Indonesia diperkirakan akan memasuki musim hujan pada September-November 2025. Beberapa daerah di Sumatera dan Kalimantan bahkan sudah lebih dulu diguyur hujan sejak sebelum September.

Musim hujan diprediksi meluas ke wilayah selatan dan timur Indonesia, dengan puncak hujan terjadi pada November-Desember 2025 di Indonesia bagian barat, serta Januari-Februari 2026 di wilayah selatan dan timur. Musim hujan tahun ini juga diperkirakan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama dibandingkan biasanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun demikian, akumulasi curah hujan 2025/2026 secara umum berada pada kategori Normal, tidak terlalu basah maupun terlalu kering.

Apa Itu La Nina?

Mengutip penjelasan BMKG, La Niña adalah kondisi suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature/SST) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang lebih dingin dari normalnya. Kondisi ini memicu perubahan pada sirkulasi Walker, yaitu pola angin di atmosfer yang bergerak dari timur ke barat di sekitar ekuator.

ADVERTISEMENT

Fenomena ini biasanya berulang setiap beberapa tahun dan dapat bertahan dari beberapa bulan hingga dua tahun. Selama periode tersebut, perubahan suhu laut dapat berdampak luas terhadap pola cuaca global.

Berdasarkan buku "Tanya Jawab: La Nina, El Nino, dan Musim di Indonesia" oleh BMKG pada 2020, La Niña umumnya diawali oleh penumpukan massa air laut dingin di bawah permukaan Samudra Pasifik. Penguatan angin pasat timur meningkatkan proses upwelling (naiknya air laut dingin ke permukaan), sehingga suhu permukaan laut turun jauh di bawah normal.

Sebagai contoh, selama La Niña 1988-1989, suhu permukaan laut tercatat turun hingga 4°C di bawah rata-rata. Fenomena ini biasanya memuncak saat musim dingin di belahan bumi utara, yakni antara Desember-Januari-Februari.

Dampak La Nina Secara Global

Secara umum, La Nina memiliki dampak yang berlawanan dengan El Niño. Jika El Nino sering menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah dunia, maka La Niña justru cenderung membawa kondisi lebih basah dan lembab.

Beberapa wilayah seperti Australia, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan sering mengalami peningkatan curah hujan dan risiko banjir selama periode La Niña. Sebaliknya, bagian barat Amerika Serikat dan Afrika Timur bisa mengalami kekeringan karena distribusi uap air global yang berubah.

Dampak La Nina bagi Indonesia

Di Indonesia, La Nina berdampak besar terhadap pola curah hujan musiman. Selama periode Juni-Juli-Agustus (JJA), La Niña biasanya menyebabkan peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.

Pada September-Oktober-November (SON), curah hujan meningkat di wilayah tengah hingga timur Indonesia, sementara pada Desember-Januari-Februari (DJF) dan Maret- April-Mei (MAM), peningkatan curah hujan lebih terasa di wilayah timur Indonesia.

Menurut BMKG, curah hujan selama La Niña bisa naik 20-40% dibandingkan kondisi normal, bahkan di beberapa wilayah dapat melebihi 40%. Hal ini membuat potensi banjir, tanah longsor, dan genangan air lebih tinggi, terutama di daerah rawan bencana.

Meski begitu, La Niña juga membawa sisi positif, terutama untuk pertanian dan sumber air di wilayah yang biasanya kering. Fenomena La Nina telah menjadi bagian dari dinamika alami iklim global yang memengaruhi banyak aspek kehidupan, mulai dari pertanian, perikanan, hingga mitigasi bencana.

Dengan potensi La Niña lemah pada akhir 2025, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap cuaca ekstrem dan terus mengikuti pembaruan informasi resmi dari BMKG.




(faz/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads