Riset Buktikan 5 Kebiasaan Ini Dapat Menjaga Otak Tetap Muda

ADVERTISEMENT

Riset Buktikan 5 Kebiasaan Ini Dapat Menjaga Otak Tetap Muda

Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 11 Feb 2025 20:00 WIB
doctor with human Brain anatomy model and tablet. World Brain Tumor day, Brain Stroke, Dementia, alzheimer, parkinson and world mental health concept
Ilustrasi otak. Foto: Getty Images/Panuwat Dangsungnoen
Jakarta -

Menjelang masa lanjut usia, otak manusia akan mengalami penurunan kognitif yang menyebabkan demensia (kepikunan). Sehingga beberapa peneliti telah melakukan riset sedemikian rupa untuk mencari tahu cara menjaga otak agar tetap muda.

Prof Emily Rogalski di Universitas Northwestern di Illinois, AS pada tahun 2008 menciptakan istilah SuperAger. Itu adalah sebutan bagi orang-orang yang berusia 80 tahun tetapi memilih kinerja ingatan seperti pada usia 50-60 tahun.

"Yang biasanya terjadi seiring bertambahnya usia adalah lapisan luar menyusut sedikit. Dan itu terkait dengan perubahan dalam daya ingat dan kemampuan berpikir kita. Pada SuperAgers kita tidak melihat penipisan biologis itu," jelas Rogalski dikutip dari The Telegraph.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari para SuperAger tersebut Rogalski mempelajari beberapa kebiasaan yang bisa menjaga otak mereka tetap terjaga dari kepikunan. Berikut di antaranya:

Kebiasaan-kebiasaan yang Menjaga Otak Tetap Muda

1. Mampu Beradaptasi

Dari sekian para SuperAger yang ditinjau, rata-rata dari mereka mampu beradaptasi setelah mengalami masa sulit. Tantangan dan masalah yang sempat dialami dapat mereka coba lupakan.

ADVERTISEMENT

"Saya berkesempatan bertemu dan belajar dari orang-orang yang inspiratif ini. Mereka mengajari saya tentang kemampuan beradaptasi," kata Rogalski.

Mereka tak berfokus pada kemalangan yang menimpa, tetapi melihat lebih jauh hal baik yang bisa disyukuri. Para SuperAger ini memilih untuk menyoroti hal lain daripada terus berkabung atas suatu duka.

"Kita punya penyintas holocaust, individu yang kehilangan seluruh keluarga mereka dan mereka adalah satu-satunya yang selamat, orang yang kehilangan anak di usia muda atau hidup dalam kemiskinan, pengalaman hidup yang sangat buruk di mana mudah untuk berkata 'Wah, ini keterlaluan', tetapi mereka memilih jalan yang berbeda," tuturnya.

2. Bersikap Positif terhadap Penuaan

Banyak dari orang dewasa yang takut menghadapi penuaan. Namun, para SuperAger ini alih-alih merasa demikian tetapi mereka menerimanya dengan keyakinan positif.

Hal ini diungkapkan oleh Prof Becca Levy, dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Yale di AS. Ia telah melakukan penelitian tentang dampak keyakinan negatif dan positif terkait usia.

Ia menemukan orang-orang yang mempunyai sikap positif cenderung punya kesehatan fisik dan mental yang lebih baik. Penelitian juga menunjukan sikap ini membantu seseorang dapat pulih dari penyakitnya lebih cepat.

Orang-orang yang positif pun terbukti punya keunggulan bertahan hidup 7,5 tahun lebih lama. Hal ini Levy temukan setelah mencocokkan hasil temuannya dengan studi populasi yang dilakukan Oxford sebelumnya.

Adapun metode untuk memerangi persepsi negatif soal penuaan adalah Metode ABC. A adalah awareness atau kesadaran.

"Jadilah lebih peka dalam memperhatikan cara Anda menerima pesan tentang penuaan. Baik yang negatif maupun positif," kata Levy.

Lalu B adalah Blame ageism. Artinya, seseorang tidak boleh langsung menyalahkan penuaan itu sendiri.

Terakhir adalah C atau Challenge. Tantang keyakinan negatif tersebut maka perasaan positif akan perlahan muncul.

3. Sering Bersosialisasi

Banyak studi yang menunjukan bahwa kesepian membuat orang berisiko 50 persen lebih tinggi terkena demensia. Sehingga kedekatan dengan keluarga atau lingkungan sosial menjadi kebiasaan lain agar menjaga otak tetap muda.

"Otak Anda akan terlatih untuk berpikir bagaimana menanggapi sebuah pertanyaan," kata Rogalski.

Banyak berkomunikasi membuat otak banyak berpikir tentang berbagai isu dan topik. Sehingga, para SuperAger masih bisa relevan dengan perbincangan di masa kini.

4. Menjadi Sukarelawan

Banyak dari para SuperAger yang mendedikasikan hidupnya sebagai relawan. Mereka menggunakan pikirannya untuk menyalurkan manfaat sosial kepada sesama.

"Banyak dari mereka yang menjadi sukarelawan, dan menemukan cara untuk menjalin hubungan antargenerasi," kata Rogalski.

Bergabung ke dalam komunitas sosial dan ikut menyalurkan partisipasi bagi masyarakat diyakini dapat menghindarkan seseorang dari masalah mental dan sosial.

"Kita sering berpikir bahwa komunitas tidak ada lagi. Namun, orang-orang ingin menjadi bagian dari komunitas dan mereka mencari peluang untuk melakukannya. Sering kali, ada banyak hal yang terjadi di daerah setempat daripada yang Anda kira," tutur Rogalski.

5. Berpikir Kreatif

Riset Rogalski juga melihat bahwa kreativitas dapat memperlambat demensia. Orang yang kreatif akan lebih banyak berpikir sehingga tak membiarkan otaknya berhenti.

"Sebenarnya ada banyak bukti bahwa orang-orang benar-benar berkembang pesat di usia lanjut dalam hal kreativitas," kata Levy.

Untuk meningkatkan kreativitas ini, seseorang bisa mempelajari keterampilan baru. Belajar keterampilan baru dapat menjaga elastisitas otak.

"Kami tahu dari penelitian lain tentang pentingnya menjaga elastisitas otak. Kami menganggapnya seperti otot," katanya.




(cyu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads