Ilmuwan Hidupkan Kembali 'Virus Zombi' Berusia Hampir 50 Ribu Tahun, Apa Risikonya?

Ilmuwan Hidupkan Kembali 'Virus Zombi' Berusia Hampir 50 Ribu Tahun, Apa Risikonya?

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 02 Des 2022 12:20 WIB
Virus tertua di dunia
Foto: Wikimedia Commons/ Ilustrasi Ilmuwan Hidupkan Kembali 'Virus Zombi' Berusia Hampir 50 Ribu Tahun, Apa Risikonya?
Jakarta -

Seiring semakin hangatnya Bumi, lapisan permafrost yang luas juga ikut mencair. Menurut definisi Climate Kids NASA, permafrost adalah tanah yang membeku dengan suhu nol derajat celsius atau lebih dingin selama dua tahun atau lebih selama berturut-turut.

Bersamaan dengan mencairnya tanah beku tersebut, material yang terperangkap dalam es selama bertahun-tahun juga ikut dilepaskan. Di dalamnya juga termasuk berbagai mikroba yang telah mengendap selama ratusan ribu tahun.

Guna mempelajarinya, para ilmuwan telah membangkitkan sejumlah 'virus zombi' dari tanah beku Siberia, termasuk yang diperkirakan berusia 48.500 tahun. Usia tersebut merupakan rekor untuk suatu virus beku yang kembali ke keadaan mampu menginfeksi organisme lainnya.

Tim yang meneliti 'virus-virus zombi' ini diketuai oleh seorang ahli mikrobiologi dari French National Centre for Scientific Research, Jean-Marie Alempic. Dikutip dari Sciencealert, para peneliti tersebut mengungkap, virus-virus yang dihidupkan kembali ini berpotensi menjadi ancaman yang signifikan untuk kesehatan masyarakat.

Oleh sebab itu, menurut mereka dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap bahayanya.

"Seperempat belahan Bumi utara ditopang oleh tanah beku permanen yang disebut sebagai permafrost," tulis para peneliti dalam riset mereka yang bertajuk "An Update on Eukaryotic Viruses Revived from Ancient Permafrost".

Pada publikasi ilmiah tersebut dituliskan, dikarenakan iklim yang menghangat, tanah beku yang mencair ikut melepaskan material yang telah membeku hingga satu juta tahun. Sebagian besar terurai menjadi karbon dioksida dan metana sehingga semakin meningkatkan efek gas rumah kaca.

Masih Berpotensi sebagai Patogen

Virus amoeba berusia 48.500 tahun itu pada dasarnya hanya salah satu dari 13 virus yang dianalisis dalam penelitian. Sembilan di antaranya diperkirakan berusia puluhan ribu tahun.

Para ahli telah menegaskan bahwa setiap virus tersebut memiliki genom yang berbeda dari virus-virus yang telah diketahui di dunia ini.

Virus-virus ini ditemukan di kedalaman danau, bulu mammoth, dan usus serigala Siberia yang terkubur di kedalaman tanah beku. Para ilmuwan membuktikan bahwa virus-virus tersebut masih berpotensi sebagai patogen.

Namun, para peneliti virus ini juga mengatakan, dengan adanya antibiotik yang ada saat ini, maka mungkin dapat dikatakan bahwa virus-virus tersebut tidak terlalu mengancam.

Virus baru seperti SARS-CoV-2 bisa lebih membahayakan kesehatan masyarakat, utamanya karena Arktik menjadi lebih padat penduduknya.

"Situasinya dapat jauh lebih berbahaya bagi tanaman, hewan, atau manusia yang terkena kebangkitan virus kuno," tulis peneliti.

"Sehingga, sah-sah saja untuk menduga bahwa virus kuno tetap bisa menginfeksi dan kembali ke lingkungan seiring dengan mencairnya permukaan tanah yang membeku," lanjut mereka.

Tim tersebut dibentuk untuk menggali virus-virus yang terkubur di Siberia dengan konteks, penelitian sebelumnya telah mengungkap virus berusia 30 ribu tahun.

Virus yang dihidupkan kembali ini dinamakan sebagai Pandoravirus yedoma. Virus tersebut memiliki ukuran yang cukup raksasa untuk dilihat menggunakan mikroskop cahaya.

Ahli virologi dari University of California Eric Delwart setuju bahwa virus-virus berukuran raksasa itu hanyalah permulaan untuk mengeksplorasi apa yang tersembunyi di bawah tanah beku. Walaupun Delwart tidak terlibat dalam penelitian ini, dia memiliki banyak pengalaman mengungkap virus-virus tumbuhan purba.

"Apabila penulis benar-benar mengisolasi virus hidup dari tanah beku kuno, kemungkinan virus mamalia yang lebih kecil dan sederhana juga akan bertahan dalam keadaan beku selama ribuan tahun," ujarnya kepada New Scientists sebelumnya.

Riset ini memang belum mendapatkan peninjauan dari sejawat. Namun, publikasinya dapat dibaca di bioRxiv.



Simak Video "Seputar Temuan Virus Mirip Covid-19 pada Kelelawar di China Selatan"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia