Ilmuwan Catat Ratusan Ribu Ton Bakteri Dilepaskan dari Lelehan Gletser

Ilmuwan Catat Ratusan Ribu Ton Bakteri Dilepaskan dari Lelehan Gletser

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 28 Nov 2022 11:30 WIB
Gunung es terbentuk dari bongkahan besar es yang pecah dari gletser dan mengambang diperairan terbuka. Berikut deretan 8 gunung es terbesar di dunia.
Foto: Getty Images/Ilustrasi Ilmuwan Catat Ratusan Ribu Ton Bakteri Dilepaskan dari Lelehan Gletser
Jakarta -

Kini, tiap tahunnya ratusan ribu ton bakteri dilepaskan ke lingkungan melalui lelehan gletser di garis lintang utara. Fakta tersebut diungkap oleh sekelompok tim peneliti melalui sebuah artikel dalam jurnal Communications Earth & Environment.

Studi tersebut bertajuk "Spatially Consistent Microbial Biomass and Future Cellular Carbon Release from Melting Northern Hemisphere Glacier Surfaces".

Para ahli yang menunjukkan fakta ini telah berafiliasi dengan berbagai institusi di seluruh Eropa, Inggris, dan Kanada. Mereka mengambil sampel dari berbagai lokasi di Eropa, Greenland, dan Amerika Utara.

Diperkirakan Berlanjut Selama 80 Tahun

Salah satu klaim mengkhawatirkan mengenai perubahan iklim adalah virus atau jenis bakteri dari es purba yang kebal sistem imun manusia akan muncul. Keberadaan mereka disebut mengancam manusia.

Pada penelitian ini, para peneliti mengambil sampel lelehan gletser untuk menganalisis lebih lanjut tentang ekosistem mikroba guna menemukan apakah ada ancaman atau tidak. Jika iya, lantas ancamannya seperti apa.

Mengutip dari phys.org, riset ini melibatkan sampel dari delapan lelehan gletser di Amerika Utara dan Eropa serta dua dari permukaan tudung Greenland.

Berdasarkan penelitian ini, para ahli menemukan puluhan ribu mikroba, bahkan hanya dalam ukuran milimeter air. Pada penelitian ini, mereka turut memperkirakan jumlah bakteri dan alga yang sekarang dilepaskan dari gletser di belahan Bumi utara.

Menurut ilmuwan-ilmuwan itu, fenomena ini diperkirakan akan terus berlanjut sampai kurang lebih 80 tahun, di mana gletser akan menghilang.

Para ahli tersebut memang tidak mempelajari bakteri satu per satu, sehingga bisa dikatakan mereka belum menemukan spesies bakteri yang mungkin mengancam kesehatan manusia.

Mereka mencatat, sebagian besar bakteri terbunuh oleh sinar matahari segera setelah terpapar. Ini menunjukkan bahwa apabila ada patogen di antaranya, maka kemungkinan infeksi kecil.

Namun, para ahli juga mencatat, bakteri dalam sampel air cenderung punya pigmen yang menyerap sinar matahari. Oleh sebab itu semakin menambah pemanasan di wilayah utara.



Simak Video "2023 Akan Jadi Tahun Lebih Panas Dibanding 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia