32 Contoh Teks Anekdot, Struktur, dan Ciri-cirinya

32 Contoh Teks Anekdot, Struktur, dan Ciri-cirinya

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 01 Des 2022 08:30 WIB
Ilustrasi menulis teks laporan percobaan.
32 Contoh teks anekdot, struktur, dan ciri-cirinya. Foto: Christin Hume/Unsplash
Jakarta -

Teks anekdot adalah cerita atau kisah singkat dan lucu berdasarkan pengalaman hidup tentang berbagai topik, mulai dari politik, pendidikan, hukum, dengan sindiran atau kritikan. detik.com/tag/teks-anekdot

Tujuan teks anekdot adalah membangkitkan tawa bagi pembaca, sebagai sarana penghibur, dan sebagai sarana pengkritik, seperti dikutip dari Teks Anekdot oleh Maharani Sikumbang.

Ciri-ciri teks anekdot adalah bersifat humor, menyindir, menggelitik, umumnya menyangkut orang penting atau isu publik, serta memiliki makna tersurat dan tersirat. Makna tersirat dari teks anekdot berisi pesan moral bagi pembacanya.

Anekdot dapat menggambarkan kejadian atau orang sebenarnya. Namun, biasanya terdapat modifikasi saat penceritaan sehingga menjadikannya sebuah fiksi dan kadang terlalu baik untuk menjadi kenyataan.

Anekdot dapat dikemas dan disampaikan dalam acara sketsa humor, film komedi, sinetron komedi, bincang-bincang di televisi dan podcast, dan stand up comedy. Sebagai salah satu jenis humor, isinya satir dan menghibur.

Struktur Teks Anekdot

  • Abstraksi, yaitu pengenalan latar cerita
  • Orientasi, yaitu pembuka peristiwa dan tokoh
  • Event, berisi rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam teks
  • Krisis, berisi pemunculan masalah yang terjadi di teks anekdot
  • Reaksi, berisi langkah penyelesaian masalah yang timbul di dalam bagian krisis
  • Koda, berisi perubahan yang terjadi pada tokoh di dalam teks

Contoh Teks Anekdot

Contoh Teks Anekdot 1: Kursi

Di suatu siang, ada dua bocah yang sedang bercanda di bawah pohon rindang, Bagus dan Anton.

Bagus: "Anton, kita main tebak-tebakan, yuk! Kursi apa yang membuat orang lupa ingatan?"
Anton: " Kursi goyang! Orang yang duduk di atas kursi goyang akan mengantuk dan tertidur Saat tidur, orang, kan, lupa."
Bagus: "Hahahaha, lucu, tapi jawabanmu salah."
Anton: "Hmm, kursi apa dong?"
Bagus: "Jawabannya adalah kursi jabatan!"
Anton: "Lho, kok begitu?"
Bagus: "Jelas lah! Coba kamu ingat, sebelum duduk di kursi jabatan, banyak calon berjanji macam-macam. Tetapi setelah duduk di kursi itu, mereka lupa ingatan soal janji-janjinya!"
Anton: "Hahahahaha betul juga."

Sumber: Teks Anekdot oleh Millah Af'idah dan Silvia Sri Asmarani

Contoh Teks Anekdot 2: Reaksi Kimia

Seorang guru mengajarkan reaksi kimia di kelas. Ia menerangkan, proses pembuatan makanan merupakan proses kimiawi. Ia pun memulai sesi pertanyaan.

"Susi, sebutkan contoh reaksi kimia yang sudah kamu tahu!" kata Bu Guru.

"Dalam pembuatan etanon, glukosa diubah jadi alkohol lewat fermentasi, rumusannya C6H12O6 -> 2C2H5OH + 2CO2 + 1NADH2 + energi," jelas Susi.

"Bagus, Susi!" Puji Bu Guru. " Sekarang Juki, sebutkan contoh yang lain!"

Juki waktu itu sedang melamun. Maklum, ia belum sarapan karena bangun kesiangan. Padahal, ibunya sudah menyiapkan nasi pecel ayam yang sangat enak untuk ia dan adiknya. Juki pun tidak berkonsentrasi dengan pertanyaan Bu Guru sehingga menjawab sekenanya.

"Beras dimasak jadi nasi, Bu. Lalu tempe mentah dicampur garam, bawang, dan ketumbar, kemudian digoreng jadi gurih. Kalau nasi dan tempe dicampurkan, ditambah sambal pecel, rebusan sayur, dan kecambah, perpaduan unsur ini menjadi sarapan enak, Bu," sahut Juki.

Seisi kelas tertawa kencang, termasuk Bu Guru.

"Tenang..tenang..hahaha. Juki, kenapa jawabanmu demikian?" tanya Bu Guru.

"Itu reaksi kimiawi, Bu," jawab Juki.

"Maksudnya bagaimana?"

"Tadi kata Ibu, semua proses makanan adalah proses kimiawi. Saya jawab proses sederhananya, Bu, tidak pakai rumus kimia. Soalnya susah, nanti bikin lapar," jelasnya.

Sekali lagi siswa tertawa karena jawaban Juki yangs sedang lapar.

Sumber: Teks Anekdot oleh Millah Af'idah dan Silvia Sri Asmarani

Contoh Teks Anekdot 3: UUD

Suatu hari, guru Pendidikan Kewarganegaraan menjelaskan perubahan Undang-Undang Dasar (UUD) dari periode ke periode. Ia juga menjelaskan alasan perubahan UUD di Indonesia.

Di tengah kelas, Amin tampak tertidur di kelas. Guru tersebut menegurnya.

"Amin, jelaskan perubahan UUD, lalu apa maksud peraturan diatur di UUD," kata sang guru.

"Kalau kenapa diatur di UUD, saya tahu Bu. Soalnya, semuanya akhirnya memang UUD, Ujung-ujungnya Duit," celetuk Amin.

Kawan-kawan Amin cekikikan, sang guru geleng-geleng kepala.

Sumber: Teks Anekdot oleh Millah Af'idah dan Silvia Sri Asmarani

Contoh Teks Anekdot 4: Hukuman

Di pagi hari yang cerah, di sebuah ruang kelas, sedang berlangsung proses pembelajaran. Karena kondisinya santai, guru kelas bercakap-cakap dengan salah satu siswa.

"Bu, Ibu Guru! Mau bertanya, Bu!" kata seorang siswa bernama Meta.

"Ya, silakan, mau bertanya apa, Ta?" jawab Bu Guru.

"Bu Guru, sebenarnya boleh tidak, seseorang dihukum karena perbuatan yang belum dia lakukan?" tanya Meta.

"Jelas tidak boleh, ya. Seseorang baru boleh dihukum saat dia terbukti bersalah," terang Bu Guru.

"Syukurlah Bu, jadi saya bebas hukuman, ya Bu? Soalnya saya belum mengerjakan PR," sahut Meta.

"Hahahahaha, dasar!" gelak Bu Guru dan siswa-siswa kelas.

Sumber: Teks Anekdot oleh Maharani Sikumbang

Contoh Teks Anekdot 5: Mimpi

Tiga orang musafir dalam perjalanan jauh kelelahan. Mereka bersama-sama melanjutkan perjalanan.

Setelah berhari-hari, mereka menyadari bahwa makanan yang tersisa hanya satu helai roti dan seteguk air di kendi. Mereka bertengkar soal siapa yang berhak makan dan minum sisa perbekalan tersebut.

Malam tiba. Seseorang dari musafir mengusulkan agar semuanya tidur.

"Saat bangun besok, kita ceritakan mimpi kita. Orang yang punya mimpi paling menakjubkan, berhak atas bekal ini," katanya.

Pagi berikutnya, mereka bangun.

"Aku mimpi begini, berada di tempat yang indah dan tenang, berjumpa dengan orang bijaksana. Ia bilang bahwa aku berhak atas makanan kita karena kehidupan masa lalu dan masa depanku berharga," kata musafir pertama.

"Aneh sekali," kata musafir kedua. "Di mimpiku, aku melihat orang serba tahu, ia bilang aku berhak atas makanan itu karena aku lebih berpengetahuan. Aku perlu makan karena ditakdirkan menuntun," tuturnya.

Musafir ketiga berkata," Dalam mimpiku, tidak ada yang kulihat. Aku hanya merasakan kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air, lalu makan di situ juga. Itulah yang kulakukan semalam."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 6: Filsuf

Seorang raja berada dalam satu perahu dengan seorang hamba sahaya asal Persia yang sebelumnya tidak pernah berlayar. Hamba itu merasa sangat takut.

Kondisi ini membuat Raja tidak senang. Kebetulan, di dalam perahu ada seorang filsuf.

"Jika diizinkan, biarkan saya menenangkan hatinya," kata si filsuf.

"Akan sangat terpuji jika usaha Anda berhasil," sahut si Raja.

Filsuf itu lalu menceburkan si hamba ke dalam air. Hamba itu meronta-ronta, lalu segera ditangkap sebelum tenggelam.

Hamba itu lalu didudukkan di pojok buritan. Hatinya kini lebih lega.

Raja merasa heran karena ia tidak mengerti hikmah tindakan si filsuf.

"Kenapa si hamba kini jadi tenang? Kenapa engkau melakukan itu?"

Sebelum ia mengerti penderitaan tenggelam, ia tidak akan tahu bahwa berada di dalam perahu lebih aman," kata si filsuf.

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 7: Kebijaksanaan

Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasruddin. Nasruddin pun bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktik. Si darwis pun menyanggupi.

Malam itu, Nasruddin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya.

"Mengapa api itu engkau tiup?" tanya sang darwis.

"Agar lebih panas dan lebih besar apinya," sahut Nasruddin.

Setelah api besar, Nasruddin memasak sup. Sup menjadi panas. Ia menuangnya ke dalam dua mangkuk. Nasruddin mengambil mangkuknya dan meniup-niup sup.

"Mengapa sup itu kau tiup?" tanya sang darwis lagi.

"Agar lebih dingin dan enak dimakan," kata Nasruddin.

"Ah aku rasa, au tidak jadi belajar darimu," ketus sang darwis. "Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 8: Sombong

Seorang ahli tata bahasa yang sombong naik perahu tambang. Ia melihat tukang perahu bersiap melajukan perahu.

"Naik! Berangkat!" seru tukang perahu.

Menganggap seruan tukang perahu tidak jelas, ia berseru pada tukang perahu, "Hei, sudah kah kamu mempelajari tata bahasa?"

"Belum," kata tukang perahu. Ahli bahasa itu berkata lagi, "Kalau begitu, hidupmu sia-sia."

Tukang perahu itu sedih. Angin tiba-tiba bertiup kencang dan terjadi gelombang di danau. Tuka perahu itu berseru pada si ahli bahasa.

"Hei, sudahkah kamu belajar berenang?"

"Belum," jawab si ahli bahasa.

"Kalau begitu, seluruh hidup dan kepandaianmu akan sia-sia," jawab tukang perahu. "Sebentar lagi perahu ini akan tenggelam."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 9: Takhta

Bahlul sering menyembunyikan kecerdasannya di balik kegilaan. Dengan begitu, ia bisa keluar masuk istana Harun Al-Rasyid dengan bebas.

Suatu hari, Bahlul masuk ke istana dan menemukan singgasana raja kosong. Ia langsung mendudukinya.

Menempati takhta raja termasuk kejahatan berat. Para pengawal pun menangkap Bahlul, memaksanya turun dari takhta, dan memukulinya. Jeritan Bahlul lalu terdengar oleh raja yang segera menghampirinya.

"Kasihan! Orang ini gila. Jangan khawatir, cepat hapus air matamu," kata Raja.

Bahlul berkata, " Wahai Raja, bukan karena pukulan aku menangis, tetapi karena kasihan padamu!"

"Kenapa?" tanya Raja heran.

"Wahai Raja, aku cuma duduk di takhtamu sekali, mereka langsung memukuliku dengan keras. Kau sudah mendudukinya 20 tahun, pukulan apa yang kau terima? Sungguh sedih aku memikirkannya."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 10: Racun

Ketika masih muda, Abu Nawas sempat bekerja di perusahaan jasa jahit pakaian. Suatu hari, majikannya datang membawa satu kendi madu.

Khawatir madu diminum Abu Nawas, majikannya berbohong dan berkata, "Abu Nawas, kendi ini berisi racun dan saya tidak mau kamu mati meminumnya!"

Sang majikan pun pergi ke luar. Pada saat itu, Abu Nawas menjual sepotong pakaian, lalu menggunakan uangnya untuk membeli roti. Ia lalu menghabiskan madu itu dengan rotinya.

Majikannya pun datang. Ia tersadar satu pakaian hilang dan madu di kendi habis. Ia bertanya pada Abu Nawas.

"Abu! Apa yang sebenarnya terjadi?"

Abu Nawas berpura-pura tewas dan menjawab, "Maaf Tuan, apakah Tuan sudah meninggal seperti saya? Tadi ada yang mencuri pakaian Tuan. Karena saya takut dimarahi, saya putuskan menenggak racun dalam kendi saja."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Anekdot 11: Makan

Nasruddin memandangi beberapa ekor bebek yang terlihat lezat jika dimasak. Bebek itu sedang berenang di kolam.

Ia berencana menangkap bebek-bebek itu. Namun, bebek itu terbang. Ia berusaha menangkap dengan susah payah. Setelah 45 menit, ia putus asa dan duduk di pinggir kolam karena kelelahan.

Ia pun mencelupkan beberapa potong roti ke kolam tempat bebek tadi berenang. Roti itu lalu dimakannya.

Beberapa orang yang melewati Nasruddin keheranan dan bertannya, "Nasruddin, apa yang kau lakukan?"

Dengan santai ia menjawab, "Aku sedang makan sup bebek."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 12: Lampu

Seorang buta membawa gentong di atas pundak sambil menenteng lampu. Ia berjalan ke sungai untuk mengisi gentong itu.

Seseorang yang melihatnya berkata, "Wahai, orang buta. Malam dan siang hari sama saja bagimu. Mengapa kau gunakan lampu?"

Orang buta itu menjawab, "Hai, orang yang suka mencampuri urusan orang lain! Lampu ini kuperuntukkan bagi orang yang buta pikiran agar tidak terpeleset atau menabrakku!"

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 13: Sarjana

Seorang turis asing tersesat di Jakarta. Karena bingung, ia bertanya pada seorang penjual kopi keliling, "Apa betul ini Jalan Sudirman?" "Ho-oh," jawab penjual kopi.

Karena bingung dengan jawaban tersebut, ia bertanya lagi ke polisi yang sedang mengatur lalu lintas, "Apa ini Jalan Sudirman?" "Betul," jawab sang polisi.

Mendapat jawaban berbeda, ia bertanya pada seorang pejalan yang melintas, "Apa ini Jalan Sudirman?"

Si pejalan menjawab, "Benar."

Bingung mendapat tiga jawaban berbeda, ia menanyakannya pada si pejalan. Si pejalan terdiam berpikir, lalu berkata, "Begini, kalau Anda bertanya pada tamatan SD, jawabannya adalah ho-oh. Kalau bertanya pada tamatan SMA, jawabannya adalah betul. Kalau ke tamatan perguruan tinggi, jawabannya benar."

Turis itu mengangguk dan memastikan, "Jadi, Anda ini seorang sarjana?"

Dengan spontan si pejalan menjawab, "Ho-oh!"

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 14: Guru dan Murid

Suatu hari, seorang guru tertidur di kelas. Ia pun dibangunkan siswanya.

Untuk menutupi rasa malu, sang guru berkata, "Saya selalu berharap bertemu Konfusius, Sang Guru Agung. Beberapa saat yang lalu, saya berjumpa dengannya."

Keesokan harinya, sang siswa yang gantian tertidur di kelas. Sang guru membangunkan dan memarahinya.

"Berani sekali tidur saat belajar di kelas," kata si guru.

Siswa yang cerdik itu menjawab, "Saya juga baru saja berjumpa dengan Sang Guru Agung."

Guru bertanya, "Apa yang beliau katakan?"

"Beliau bilang, ia tidak berjumpa Guru, kemarin!" sahut siswa.

Sang guru tertawa malu.

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 15: Unta Milik Salmo

Di padang pasir yang panas, hidup seekor unta dengan majikannya yang bernama Salmo. Unta Salmo akan berjalan jika Salmo berkata, "Syukurlah." Unta itu juga akan berhenti jika Salmo berkata, "Cukup."

Suatu hari, Salmo ingin berjalan-jalan dengan untanya. Setelah menaiki unta, Salmo berkata, "Syukurlah.

Untanya berjalan, tetapi lambat. Salmo jadi kesal. Ia berkata "Syukurlah" hingga sepuluh kali, sampai-sampai untanya berjalan cepat.

Tiba-tiba, sekitar 10 meter di depannya, terdapat jurang yang sangat dalam. Dengan berteriak, Salo berkata "Cukup!" Unta itu berhenti tepat di bibir jurang.

Mengusap keringat dan menghela napas, Salmo berkata lega, "Syukurlah." Alhasil, unta itu kembali berjalan. Sampai sekarang, tidak ada lagi yang melihat Salmo.

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 16: Baju Nasruddin

Suatu hari, Nasruddin sedang berbelanja di pasar. Ia bertemu tetangganya di sana.

"Nasruddin, tubuhmu kok banyak bekas luka? Apa yang terjadi?" tanya tetangganya.

"Kucing-kucingku bertengkar tadi malam. Baju dan seisi lemariku dicakarnya!" kata Nasruddin.

"Tetapi kan itu cuma baju dan isi lemarimu?" tanya tetangganya.

"Itulah, masalahnya, aku sedang memakai bajuku."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 17: Mencuri Rambutan

Suatu hari, anak kecil memanjat pohon rambutan tetangganya. Ia tiba-tiba ketahuan pemilik pohon.

"Hoi! Anak bandel! Turun kamu! Ambil rambutan orang seenaknya. Nanti saya laporkan bapak kamu, biar tahu rasa! Mana bapakmu?" bentak si pemilik pohon.

Dengan gugup, anak itu melihat ke atas pohon sambil berkata, "Ayah, kita ketahuan!"

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 18: Kotak Amal

Seorang pemuda sedang mendengar khotbah dari khatib saat salat Jumat. Beberapa saat kemudian, kotak amal diedarkan dan tiba di hadapannya.

Pemuda ini lalu merogoh-rogoh saku belakangnya, lalu memasukkan uang Rp 1.000 untuk sedekah Jumatny.

Tida lama, ada seorang kakek yang duduk di belakangnya. Si kakek menepuknya sambil memberikan uang Rp 100.000. Tanpa pikir panjang, ia memasukkannya ke kotak amal. Ia lalu menengok si kakek sambil mengagumi kemuliaan hati si kakek dalam hati.

Setelah kotak amal berlalu, kakek itu berkata pada si pemuda sambil tersenyum, "Nak, itu tadi uangmu yang jatuh dari kantung celana belakang."

Sumber: Pasti Bisa Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas X oleh Tim Ganesha Operation

Contoh Teks Anekdot 19: Meja

Seorang kakek hidup serumah bersama anak, menantu, dan cucu berusia 6 tahun. Si kakek sudah pikun, matanya rabun, dan tangannya bergetar, sehingga susah menyantap makanan. Sendok dan garpunya kerap jatuh.

Saat si kakek meraih gelas, susu sering tumpah dan membasahi meja. Anak dan menantunya jadi kesal. Mereka menempatkan meja di sudut ruangan agar si kakek makan sendirian di dana. Mereka juga memberi mangkuk plastik agar si tidak gampang pecah.

Saat si kakek meratap di sudut ruangan, keluarga itu sibuk dengan piring masing-masing. Kadang, mereka mengomeli si kakek agar tidak menghamburkan makanan lagi. Sang cucu melihat semua kejadian tersebut dalam dia.

Suatu hari, si cucu tampak bermain-main dengan kayu bekas. Ayahnya bertanya, "Sedang apa, sayang?"

"Ini, bikin meja buat Ayah dan Ibu, persiapan kalau aku sudah besar nanti," sahutnya.

Ayah anak kecil itu langsung terdiam. Mulai hari itu, si kakek kembali diajak makan di meja yang sama. Tidak ada lagi omelan saat piring jatuh, makanan tumpah, atau taplak ternoda kuah.

Sumber: Guru Gokil Murid Unyu oleh J Sumardianta, dikutip dari Bahasa Indonesia Kelas X oleh Suherli dkk.

Contoh Teks Anekdot 20: Umur Dinosaurus

Anak-anak TK mengunjungi Museum Purbakala pada suatu sore. Di museum itu, ada petugas berdiri di samping kerangka dinosaurus.

Seorang anak TK menghampiri petugas museum.

"Pak, berapa umur dinosaurus ini?"

"Satu juta tahun, lebih empat bulan," terang si petugas.

"Wah kok tahu?" tanya si anak TK.

"Soalnya ketika saya pertama kali kerja di sini, umurnya sudah satu juta tahun."

Sumber: Anekdot Superior oleh Miranti

Contoh Teks Anekdot 21: Covid

Suatu hari, WHO menayangkan rapat terbatas di media sosial. Setiap negara mengirimkan juru bicara untuk mengabarkan situasi terkini.

Juru bicara Italia berkata, "Covid sudah menggila di negara kami. Kenaikan penderita terjadi secara drastis, rumah sakit kesulitan menampung pasien darurat."

Juru bicara Taiwan membanggakan diri, "Walau berbatasan langsung dengan China, kami mampu menanganinya sejak wabah merebak. Alhasil, kasus kematian karena Covid masih nol."

Tampak tenang, juru bicara Korea Utara juga menyampaikan laporan.

"Kami tentu juga dapat menangani sendiri. Ketika pidato dimulai 09.00, saya mendapat pesan, teridentifikasi 4 kasus positif. Tepat pukul 10, kasus positif menjadi nol kasus. Hebat bukan," jelasnya.

Sumber: Anekdot Superior oleh Miranti

Contoh Teks Anekdot 22: Rokok

Suatu hari, anak-anak SMA sedang berkumpul di warung depan sekolah. Mereka hendak coba-coba merokok.

"Gue bawa rokok, tapi nggak ada koreknya," kata Andi.

"Gue ada korek. Ada asbak, nggak?" tanya Beni.

"Nih asbak. Lu bawa apa, Don?" tanya Carli sambil menoleh ke Doni.

"Gue cuma bawa paru-paru doang" sahut Doni.

Sumber: Bawa Apa oleh Siti Diana Syam, dikutip dari Anekdot Superior oleh Miranti

Contoh Teks Anekdot 23: Impor

Seorang teman yang baru ditempatkan di Belanda bercerita, ia pernah makan siang di restoran Indonesia sederhana di Amsterdam. Ia kaget, ternyata salah satu menunya ada masakan gudeg Yogya.

Ia pun penasaran dan memesan satu porsi Setelah dicoba, entah kenapa rasanya lebih enak dari gudeg Yogya yang asli. Ia pun bertanya ke si penjual.

"Mas, apa rahasianya, kok gudeg di sini lebih enak dibandingkan dengan aslinya?"

"Oh itu, nangkanya, Mas. Di Yogya kan pakai nangka lokal. Kalau di sini nangka impor," terang si penjual.

"Memangnya, nangkanya impor dari mana, Mas?" tanya dia.

"Dari Yogya, Mas."

Sumber: Bahasa Indonesia Kelas X oleh Suherli dkk.

Contoh Teks Anekdot 24: Ambulans

Sebuah mobil ambulans mengangkut beberapa pasien gangguan jiwa, tetapi terpaksa berhenti di tengah jalan karena bannya bocor. Saat mengganti ban, sopir ambulans tak sengaja menendang baut sehingga empat baut masuk selokan.

Si sopir ambulans berteriak. "Waduh! Bagaimana ini mau pasang ban?"

Seorang pasien melihat dari balik ambulans dan berkata, "Mas, copot aja satu baut dari tiap ban. Jadi, masing-masing dapat tiga baut."

"Wah, pintar juga kamu! Kok, bisa masuk rumah sakit jiwa?" tanya si sopir.

"Mas, saya ini katanya gangguan jiwa, bukan bodoh."

Sumber: Bahasa Indonesia Kelas X oleh Suherli dkk.

Contoh Teks Anekdot 25: CCTV

Seorang warga melaporkan kemalingan ke polisi Kerajaan Laba-laba.

"Kemalingan apa?" tanya polisi Laba-laba.

"Mobil, Pak. Tapi untung Pak, CCTV merekam wajah malingnya dengan jelas," kata pelapor.

"Sudah minta izin malingnya untuk merekam?"

"Eh? Belum..," kata si pelapor heran.

"Itu ilegal. Anda saya tangkap," tukas si polisi Laba-laba.

Sumber: Bahasa Indonesia Kelas X oleh Suherli dkk.

Contoh Teks Anekdot 26: Korupsi

Pada puncak pengadilan korupsi politik, jaksa penuntut umum menyerang saksi.

"Apakah benar bahwa anda menerima 5.000 dollar untuk berkompromi dalam kasus ini?"

Saksi menatap keluar jendela seolah-olah tidak mendengar pertanyaan.

"Bukankan benar bahwa anda menerima 5.000 dollar untuk berkompromi dalam kasus ini?" ulang pengacaranya.

Saksi masih tidak menanggapi.

Hakim akhirnya berkata, "Pak, tolong jawab pertanyaan Jaksa."

"Oh, maaf," kata si saksi terkejut melihat hakim. "Saya kira dia bertanya pada Anda."

Sumber: Bahasa Indonesia Kelas X oleh Suherli dkk.

Contoh Teks Anekdot 27: Harta

Suatu hari, Raja Harun Al-Rasyid mencari sahabatnya yang bernama Bahlul. Ia meminta nasihat pada Bahlul hal yang sangat penting bagi dirinya sebagai seorang raja.

Setelah bertemu Bahlul, ia berkata, "Hai Bahlull, berilah aku sebuah nasihat yang sangat penting bagiku sebagai seorang raja!"

Bahlul berkata, "Katakan padaku, kalau Tuan Raja kebetulan di padang pasir dan hampir mati karena kehausan, tuan akan membayar berapa untuk seteguk air?"

"Seratus dinar," kata sang Raja.

"Kalau orang yang punya air itu tidak mau uang, maukan Tuan Raja menyerahkan setengah dari kerajaan Tuan kepadanya?"

"Tentu."

"Jika setelah minum air, Tuan terkena penyakit keras, Tuan mau memberikan apa untuk memulihkan kesehatan Tuan?"

"Ya, setengahnya lagi."

"Oh, kalau begitu, Tuan Raja janganlah sombong dengan kerajaan Tuan. Sebab, harga kerajaan Tuan itu sama dengan seteguk air."

Sumber: Buku Siswa Bahasa Indonesia SMA/MA Kelas 10 oleh Drs. Subadiyana

Contoh Teks Anekdot 28: Anak

Setiap hari orang tua Iwan selalu bekerja. Mereka jarang pulang ke rumah karena harus mengisi acara seminar hingga diklat.

Satu bulan tidak bertemu, ayahnya rindu. Ia menelepon anaknya untuk menguji, apakah si anak juga rindu.

"Wan, apakah kau sayang orang tuamu?"

"Sayang, aku selalu merindukan ayah dan ibu saat sendiri di rumah," kata Iwan berbohong.

Bapaknya lega mendengar perkataan Iwan. Ia berdoa, "Ya Tuhan, terima kasih sudah titipkan anak yang baik, berikan ia hukuman jika ia salah."

Seketika Iwan pingsan.

Sumber: Teks Anekdot oleh Millah Af'idah dan Silvia Sri Asmarini

Contoh Teks Anekdot 29: Kebersihan

Singaparwa adalah negara bersih yang melarang buang sampah sembarangan. Saat Azam sedang berlibur, ia tak tahu akan larangan ini.

Ia merokok sendirian di bangku taman. Puntung rokoknya ia buang dan injak dengan kaki kanan.

"Maaf, Anda didenda karena buang puntung rokok sembarangan," kata petugas yang menghampirinya.

"Maaf Pak, saya tidak tahu, saya turis dari negara Iwawawa," dalih Iwan.

"Oh, ya, sudah. Sudah sering," kata petugas berlalu.

Sumber: Teks Anekdot oleh Millah Af'idah dan Silvia Sri Asmarini

Contoh Teks Anekdot 30: Kaos Tahanan

Suatu hari, Zaki melihat pejabat negara di TV mengenakan baju mahal bermerek asal luar negeri.

"Ckck, tingginya gaya hidup pejabat negeri ini, baju pun harus merek luar negeri," kata Zaki.

Amir di sampingnya tertawa, "Ah, belum seberapa. Ada yang harus sudah maling besar dulu, baru bisa pakai satu baju spesial."

"Apa maksudmu?"

"Baju tahanan KPK."

Sumber: Buku Ajar Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Tingkat Dasar oleh Asyhari Dwi Rukmana

Contoh Teks Anekdot 31: Rumah

Suatu hari, seorang teman mengeluh pada Nasruddin. Si teman bilang, rumahnya tidak terkena sinar matahari.

"Ladangmu, apa tidak terkena sinar matahari juga?" tanya Nasruddin.

"Terkena," kata temannya.

"Kalau begitu, pindahkan ladangmu ke rumahmu."

Sumber: 360 Kisah Jenaka Nasruddin Hoja: Sang Mullah yang Mendunia oleh Irwan Winardi

Contoh Teks Anekdot 32: Bau

Nasruddin sedang tidak punya uang. Ia berselimut saja saat angin bertiup kencang.

"Alangkah nikmatnya punya semangkuk sup saat dingin begini," pikir Nasruddin.

Saat melamun, tiba-tiba pintunya diketuk.

"Ibu menyuruhku menanyakan, apakah Mullah punya sup?" tanya perempuan di pintunya.

"Ya Allah, rupanya tetanggaku bisa mencium isi pikiranku," kata Nasruddin.

Sumber: 360 Kisah Jenaka Nasruddin Hoja: Sang Mullah yang Mendunia oleh Irwan Winardi

Yuk detikers, coba buat contoh teks anekdot versimu sendiri!



Simak Video "Momen Jackson Wang Minta Belajar Bahasa Indonesia di Panggung HITC 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia