6 Unsur Cuaca dan Iklim, Dari Suhu hingga Angin

6 Unsur Cuaca dan Iklim, Dari Suhu hingga Angin

Putri Tiah - detikEdu
Sabtu, 26 Nov 2022 12:00 WIB
Prediksi cuaca BMKG malam ini
Pantauan cuaca di Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (Foto: Dok BMKG)
Jakarta -

Cuaca dan iklim adalah dua hal yang berbeda. Dikutip dari Seri Sains: Iklim oleh Sri Winarsih, perbedaan cuaca dan iklim terletak pada cakupan wilayah dan durasi.

Iklim dapat mempengaruhi daerah yang luas dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, cuaca hanya dapat mempengaruhi daerah yang sempit dan waktu kejadiannya relatif singkat.

Selain itu, ilmu yang mempelajari cuaca dan iklim juga berbeda. Ilmu tentang cuaca disebut dengan Meteorologi, sedangkan ilmu yang mempelajari mengenai iklim disebut dengan Klimatologi.

Sisi lain, cuaca dan iklim mempunyai kesamaan unsur-unsur. Akan tetapi, iklim mempunyai unsur yang lebih stabil ketimbang cuaca. Lalu, apa saja unsur-unsur tersebut? Berikut simak penjelasan lengkap di bawah ini.

Unsur-unsur Cuaca dan Iklim

Pengamatan terhadap keadaan cuaca dan iklim dapat diramalkan berdasarkan unsur-unsur pembentuknya. Cuaca dan iklim dapat mempengaruhi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Corak kehidupan, terutama manusia dapat dipengaruhi oleh keadaan cuaca dan iklim.

Contohnya nelayan sebelum pergi memancing di laut akan melihat bagaimana kondisi arah dan kecepatan angin, temperatur udara, keadaan awan. Sebab kondisi tersebut akan mempengaruhi arus laut. Selain itu, dapat mempengaruhi kegiatan perekonomian lainnya yang bergantung pada iklim dan cuaca

Berikut penjelasan unsur-unsur cuaca dan iklim, dikutip dari buku IPS Terpadu: Jilid 1B oleh Sri Pujiastuti dan buku IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) oleh Nana Supriatna.

1. Suhu (Temperatur Udara)

Suhu udara adalah kondisi udara pada waktu dan tempat tertentu. Jika diperhatikan dengan seksama, bahwa suhu udara di berbagai tempat berbeda. Ada yang suhunya terlalu dingin, terlalu panas, dan ada pula yang seimbangan.

Suhu juga dipengaruhi oleh beberapa faktor:

  • Penyinaran matahari: jarak dan lamanya penyinaran, beserta kecil besarnya sudut datang matahari. Sudut sinar matahari dibedakan atas dua macam, yaitu sudut miring (condong) dan sudut tegak lurus. Sudut sinar matahari yang semakin tegak lurus, maka semakin besar intensitas suatu daerah menerima cahaya matahari sehingga suhu udaranya makin tinggi
  • Tinggi rendahnya permukaan daratan. Semakin tinggi suatu daratan di atas permukaan laut, temperatur udaranya akan semakin rendah
  • Sifat permukaan. Permukaan daratan bersifat lebih cepat menyerap dan melepaskan panas dibandingkan permukaan laut.

Berkurangnya suhu udara diikuti dengan naiknya ketinggian tempat di lapisan troposfer. Setiap naik 100 meter suhu udara akan turun sebesar 0,5o C sampai dengan 0,6o C.

Alat yang digunakan untuk mengukur suhu udara adalah termometer. Termometer berisi alkohol dan air raksa. Termometer akan mengembang naik, jika suhu udara naik dan mendorong air raksa yang berada di sebelah kanannya ke atas. Adapan jika suhu turun, air raksa akan ke bawah dan alkohol menyusut.

2. Tekanan Udara

Atmosfer adalah suatu benda yang berwujud gas. Sama halnya dengan benda lain (padat dan cair), udara menempati ruang tertentu dan memiliki berat. Oleh sebab itu, udara mempunyai berat dan kekuatan untuk menekan permukaan bumi. Tekanan udara disebabkan oleh beratnya lapisan udara di atas suatu titik di permukaan bumi.

Sama seperti dengan suhu udara, tekanan udara di berbagai ruang permukaan bumi dapat berbeda juga. Ada yang bertekanan sedang, tinggi, rendah. Wilayah yang mempunyai tekanan udara paling tinggi disebut dengan wilayah bertekanan maksimum (+). Sementara untuk wilayah bertekanan udara rendah disebut dengan wilayah minimum (-).

Alat yang berfungsi mengukur tekanan udara dinamakan barometer. Satuan yang digunakan dalam alat tersebut adalah milibar (mb), milimeter air raksa (mmHg), atau skala atmosfer (atm)

Garis-garis pada peta digunakan untuk menunjukkan wilayah atau tempat yang memiliki tekanan udara sama disebut dengan isobar.

3. Kelembaban Udara (Lengas Udara)

Kelembaban udara adalah jumlah kandungan uap air yang ada di dalam udara. Alat yang digunakan untuk mengukur kandungan uap air berupa hygrometer. Kandungan udara dapat berubah-ubah, tergantung pada suhu. Semakin tinggi suhu, semakin banyak kandungan airnya.

Kelembaban udara terdiri dari dua jenis. Kelembaban absolut (mutlak) adalah jumlah yang menunjukan massa uap air dalam satuan gram yang ada dalam 1 m3.

Sedangkan kelembaban udara relatif (nisbi), adalah kelembaban yang dinyatakan dalam bilangan persen yang menunjukan perbandingan jumlah uap air dalam udara dengan jumlah uap air maksimum yang dapat ditampung oleh udara tersebut pada suhu yang sama.

4. Curah Hujan

Hujan merupakan peristiwa jatuhnya air ke permukaan bumi, baik dalam bentuk cair maupun padat. Hujan berasal dari proses penyinaran matahari mengakibatkan penguapan. Kemudian, mengalami pendinginan udara (kondensasi) membentuk butiran-butiran air. jika butiran-butiran air di dalam awan sudah cukup berat, turunlah dalam bentuk hujan.

Alat untuk menakar air hujan disebut fluviograf. Alat ini digunakan menampung air hujan yang turun dalam ruang tertutup, kemudian diukur menggunakan gelas ukur. Biasanya, tinggi rendahnya hujan dinyatakan dalam mm.

Beberapa stasiun pengamat cuaca sudah memakai alat pengukur modern dengan komputer. Dengan begitu, curah hujan dapat diketahui dengan mudah.

5. Intensitas Cahaya Matahari

Letak lintang pada suatu daerah atau wilayah dapat mempengaruhi lamanya bagian permukaan bumi menerima penyinaran matahari. Letak lintang yang semakin tinggi menuju kutub utara, lamanya waktu siang hari akan semakin pendek.

Penyinaran matahari akan berpengaruh pada tekanan udara dan banyak sedikitnya penguapan di suatu daerah.

6. Angin

Angin adalah aliran udara yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah

Hal ini, didasari oleh hukum Buys Ballot yang menyatakan "udara mengalir dari daerah bertekanan maksimum ke daerah bertekanan minimum. Arah angin akan membelok ke kanan di belahan bumi utara, serta membelok ke kiri di belahan bumi selatan"

Alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin disebut anemometer. Alat ini dapat kita jumpai di stasiun pengamatan cuaca di bandara. Anemometer modern sudah dilengkapi dengan petunjuk arah dan kecepatan angin dalam satuan meter/menit. Dan, terhubung dengan komputer. Untuk memudahkan dalam pemberian informasi, kecepatan angin biasanya menggunakan skala Beaufort

Angin memiliki jenis yang berbeda-beda, penamaan angin bergantung dari mana asal dan arah angin itu bertiup.

1) Angin Darat dan Angin Laut

Jenis angin ini merupakan angin yang biasa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya untuk penduduk yang tinggal di pesisir pantai. Angin darat merupakan angin yang bertiup dari darat ke laut dan terjadi di malam hari. Angin darat dimanfaatkan oleh nelayan tradisional untuk pergi melaut pada malam hari

Angin laut adalah angin yang bertiup dari laut ke darat. Pada siang hari, daratan lebih cepat menerima panas dan relatif lebih lambat. Hal tersebut, mengakibatkan daratan menjadi daerah pusat bertekanan rendah (minimum) dan lautan merupakan daerah pusat bertekanan tinggi (maksimum)

2) Angin Lembah dan Angin Gunung

Angin lembah terjadi pada pagi hari sampai menjelang sore hari. Pada pagi hari sampai sekitar pukul 14.00, suhu udara gunung atau pegunungan akan lebih cepat menerima panas matahari. Oleh sebab itu, pada siang hari suhu udara di gunung maupun pegunungan lebih tinggi dibandingkan lembah.

Hal ini menyebabkan tekanan udara di gunung atau pegunungan relatif lebih rendah (minimum). Adapun tekanan udara menuju lembah lebih tinggi sehingga berembusnya angin dari lembah menuju gunung

Angin gunung kondisi terbalik dengan angin lembah. Pada sore hari dan malam hari di wilayah lembah, suhu udara masih relatif panas dibandingkan gunung atau pegunungan. Hal ini disebabkan tekanan udara di lembah lebih rendah (minimum) daripada di puncak gunung. Akibatnya berembuslah angin dari arah gunung ke lembah.

3) Angin Fohn

Angin ini disebut juga angin jatuh, yaitu angin kering yang bergerak menuruni lereng pegunungan. Diamati dari prosesnya, angin jatuh hampir serupa dengan angin gunung. Faktor yang membedakan angin Fohn dengan angin gunung terletak pada sifat-sifatnya

Angin Fohn yang bersifat kering dan panas. Hal ini terjadi jika angin jatuh tertiup dari daerah yang memiliki temperatur tinggi dibandingkan daerah yang didatangi. Contohnya, angin Bahorok (Deli), angin Wambrawu (Biak), angin Kumbang (Cirebon), angin Gending (Pasuruan), dan angin Brubu (Makassar)

Angin Fohn juga dapat bersifat kering dan dingin jika angin bergerak dari puncak pegunungan yang tinggi, misalnya angin Mistral di pantai selatan Prancis, angin Bora di Samudera Atlantik, dan Angin Sirocco di pantai Laut Adriatik.

Itulah sejumlah unsur cuaca dan iklim yang perlu diketahui.



Simak Video "Analisis BMKG Soal Curah Hujan Meningkat Hingga 2 Januari 2023"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia