Mengapa Iklim Mudah Berubah? Ini Penjelasan Dosen Undip

Anatasia Anjani - detikEdu
Selasa, 25 Jan 2022 14:15 WIB
Ilustrasi Kendaraan Saat Hujan
Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Musim hujan di Indonesia berlangsung lebih lama dari seharusnya. Perubahan cuaca ini juga terlihat dari cuaca yang sangat panas menjadi turun hujan lebat disertai kilat.

Perubahan cuaca yang drastis ini juga dipengaruhi akibat perubahan iklim. Perubahan iklim adalah perubahan jangka panjang statistik pola cuaca dalam rentan waktu yang sangat panjang dan dapat terjadi pada suatu daerah tertentu hingga seluruh permukaan bumi.

Iklim yang mudah berubah juga disebabkan oleh perilaku manusia dan tidak hanya pengaruh dari alam saja.

"Cuaca merupakan keadaan udara yang terjadi di suatu tempat dengan waktu yang singkat atau sesaat. Musim juga bisa diartikan sebagai keadaan cuaca yang paling sering terjadi dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan iklim adalah rata-rata cuaca dalam suatu tempat dan untuk jangka waktu yang lebih lama," ujar dosen Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro (Undip) Rahmat Gernowo yang dilansir dari laman Undip.

Rahmat mengatakan, cuaca dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti kelembaban udara, kecepatan angin, dan suhu udara di daerah tertentu. Selain itu kondisi cuaca dan iklim juga saling mempengaruhi. Contohnya adalah bencana hidrometeorologi yang terjadi seperti banjir dan puting beliung.

Lalu ada fenomena el nino dan la nina. El nino dan la nina merupakan pola iklim yang terjadi di Samudera Pasifik dan dapat mempengaruhi cuaca di berbagai daerah. Hal ini disebabkan adanya perubahan suhu lautan di lautan pasifik.

Fenomena el nino menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering sedangkan la nina menyebabkan musim hujan yang datang lebih awal dari biasanya.

"Dampak dari dua fenomena tersebut yaitu kekeringan dan banjir. Banyak sektor-sektor seperti pertanian, transportasi, manajemen pengelolaan air dan sektor lainnya menjadi sangat tergantung pada prediksi musim yang akurat, apakah akan terjadi el nino, atau la nina," kata Gernowo.

Ia juga berpendapat jika El Nino Southern Oscillation (ENSO) hanyalah salah satu fenomena yang mempengaruhi sistem iklim di Indonesia dalam skala waktu.

"Kondisi cuaca bisa diketahui dari satelit Himawari, jika kita lihat citra satelit yang paling penting adalah warna merah, menunjukkan siklon tropis yang terkait dengan terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah wilayah tertentu," ujar Gernowo.

"Perubahan iklim sudah terasa karena banyak bencana di mana-mana, ada banjir, tanah longsor yang merupakan efeknya. Fenomena terakhir adalah turbulensi puting beliung," lanjut Gernowo.

Adapun Gernowo menjelaskan upaya yang paling tepat untuk menghadapi perubahan iklim adalah dengan beradaptasi. Maksudnya adalah lebih peduli terhadap lingkungan dengan melakukan kegiatan-kegiatan cinta lingkungan dan upaya mitigasi bencana.

"Perubahan iklim bisa diantisipasi walaupun bencana bisa terjadi, tetapi bagaimana cara kita untuk dapat mengantisipasi sebelum terjadinya bencana dan sebelum tindakan-tindakan yang besar. Kita memulainya dengan hal yang paling sederhana misalnya membersihkan selokan dan lingkungan," kata Gernowo.



Simak Video "Arus Balik Mudik Lebaran 2022, BMKG Analisa Curah Hujan Meningkat"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia