Kota Timbuktu, dari Pos Dagang Jadi Pusat Peradaban Ilmu di Afrika Barat

Kota Timbuktu, dari Pos Dagang Jadi Pusat Peradaban Ilmu di Afrika Barat

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 25 Nov 2022 18:00 WIB
Mau Berkunjung ke Kota di Komik Donal Bebek? Begini Caranya
Foto: Manuel Tuledo/BBC/Kota Timbuktu, dari Pos Dagang Jadi Pusat Peradaban Ilmu di Afrika Barat
Jakarta -

Selama beberapa abad dahulu, Kota Timbuktu di negara Mali, Afrika Barat merupakan pusat ilmu pengetahuan umum maupun keagamaan, juga kebudayaan. Periode ini terjadi pada era keemasan Islam.

Riwayat Timbuktu sebagai tujuan intelektual dapat dirujuk dari Epos Sundiata. Menurut epos abad 13 itu, Pangeran Mandinka dari Kangaba berhasil mempertahankan wilayah dari Raja Sosso, Sumaoro Kante dan mendirikan kerajaan baru.

Kemudian, setelah Mansa Musa I melakukan pencaplokan secara damai sepulangnya dari Makkah, Kerajaan Mali menjadi pusat pembelajaran, budaya, dan arsitektur.

Tempat Dagang Musiman yang Menjadi Pusat Intelektual

Timbuktu mulanya adalah pos dagang musiman yang dibentuk kira-kira 1100 M. Tempat ini adalah spot di mana Gurun Sahara dan Delta Niger bertemu dan menciptakan area subur yang menguntungkan.

Saat agama Islam memasuki komunitas Tuareg sekitar abad 8, masyarakatnya kemudian menyebarkan ajaran tersebut melalui area dagang seperti Timbuktu.

Dikutip dari History, Mansa Musa I dan pewarisnya berhasil menyulap Timbuktu dari tempat dagang menjadi pusat jual beli sekaligus pusat pendidikan. Pada era ini, Kerajaan Mali jadi salah satu aktor paling berpengaruh pada zaman keemasan Islam.

Pada abad 16, Timbuktu memiliki 150 sampai 180 pusat studi Al Quran atau Maktab. Para penguasa Mali juga membangun banyak masjid tidak hanya untuk praktik spiritual, melainkan sebagai pusat studi matematika, hukum, tata bahasa, sejarah, geografi, astronomi, sampai astrologi.

Madrasah untuk Ibadah dan Belajar

Komunitas Tuareg membangun masjid pertama di Timbuktu tahun 1100 M, yaitu Masjid Sankore. Namun, Mansa Musa I menerapkan kebijakan ekstra terhadapnya.

Penguasa tersebut mengundang para cendekiawan Islam ke sana. Dia juga membangun Masjid Djinguereber.

Selanjutnya pada abad 15, saat penguasa asal Tuareg Akil Akamalwa menjadi pemimpin Mali, dia membangun Masjid Agung Sidi Yahya.

Ketiga masjid di atas ini juga menjadi pusat pendidikan atau madrasah. Sekarang masih berfungsi sebagai Koranic Sankore University, perguruan tinggi tertua di Sub-Sahara Afrika.

Pada zaman itu, sekolah dan masjid menjamur di Timbuktu. Seorang pustakawan bernama Brent D Singleton pernah menulis, "Di Timbuktu, literasi dan buku melampaui nilai ilmiah dan melambangkan kekayaan, kekuasaan, dan berkah."



Simak Video "ISIS Luncurkan Serangan Terbaru di Mali"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia