Dongeng Joko Bodo, Cerita Rakyat dari Jawa Tengah

Dongeng Joko Bodo, Cerita Rakyat dari Jawa Tengah

Anisa Rizki - detikEdu
Selasa, 22 Nov 2022 16:30 WIB
Hutan tropis dengan aliran sungai yang deras. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Dongeng Joko Bodo dan ibunya, cerita rakyat dari Jawa Tengah. Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Dongeng Joko Bodo mengisahkan seorang janda yang tinggal bersama anak laki-laki tunggalnya bernama Joko Bodo. Dongeng ini termasuk ke dalam cerita rakyat yang berasal dari Jawa Tengah.

Umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang muncul di dalamnya pun diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari dewa, binatang maupun manusia.

Cerita rakyat disampaikan secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi lainnya dan biasa dikisahkan oleh masyarakat yang lebih tua, sebagaimana dikutip dari buku Nilai Pendidikan: Intertekstualitas dalam Cerita Rakyat Buton karya Muhammad Yusnan.

Fungsi dari cerita rakyat ialah sebagai hiburan sekaligus sarana pendidikan. Sebetulnya, orang yang bercerita pada dasarnya ingin menyampaikan pesan atau amanat yang dapat bermanfaat. Pesan tersebut lebih mudah diterima jika dikemas dalam cerita yang mengasyikkan, seperti cerita rakyat.

Agar lebih paham mengenai cerita rakyat, berikut dongeng tentang Joko Bodo yang dikutip dari buku Cerita Rakyat dari Jawa Tengah Volume 1 tulisan James Danandjaja.

Dongeng Joko Bodo

Di sebuah desa tinggallah seorang janda bersama dengan anak laki-laki tunggalnya. Anak itu amat bodoh. Oleh sebab itu, ia terkenal dengan nama Joko Bodo. Walau begitu, si ibu amat sayang kepadanya. Pada suatu hari, Joko Bodo pergi ke hutan mencari kayu.

Di dalam hutan, di bawah sebatang kayu yang besar, ia menemukan seorang wanita cantik yang sedang tidur nyenyak. Joko Bodo kagum melihat kecantikan wanita tersebut. Tanpa berpikir panjang lagi Joko Bodo menggendong wanita itu dan membawanya pulang ke rumahnya.

Setibanya di rumah, wanita cantik itu dibaringkan di atas tempat tidur di kamar ibunya. Kemudian, Joko Bodo menemui ibunya dan berkata, "Ibu, saya tadi menemukan seorang gadis yang amat manis rupanya. Saya ingin mengawininya."

"Di mana gadis yang engkau katakan cantik itu sekarang anakku?" tanya ibunya girang.

"Sekarang ia sedang tidur nyenyak di kamar Ibu. Mungkin karena ia terlalu lelah menempuh perjalanan yang jauh dari hutan,"

"Ibu senang mendengar ceritamu, Joko Bodo," sambut ibunya.

Siang telah berganti malam. Di luar, alam telah menjadi gelap. Namun si gadis belum juga bangun dari tidurnya. Karena cemas akan kesehatan calon menantunya, si ibu berkata kepada Joko Bodo.

"Joko Bodo, bangunkan gadis itu agar dia makan dulu. Kasihan nanti lapar dia,"

"Bu, malam ini biarkan saja dia tidak usah makan. Tidak apa-apa. Besok pagi saja kita bangunkan dia,"

Esok paginya ketika orang-orang sudah siap untuk makan pagi, si gadis tidak muncul juga dari kamarnya. Melihat peristiwa ini, ibu Joko Bodo menjadi curiga. Mana ada orang yang mampu tidur hingga satu setengah hari.

Tanpa diketahui oleh Joko Bodo, si ibu menengok ke dalam kamar si gadis. Kemudian, ia masuk ke dalam bilik untuk memeriksa keadaan gadis yang tidak bangun dari tidurnya dengan teliti.

"Astaga," teriak si ibu sambil mengelus dadanya setelah yakin bahwa gadis yang dianggap sedang tidur itu sebenarnya sudah meninggal.

Si ibu cepat-cepat menemui Joko Bodo dan berkata, "Anakku, gadis yang engkau maksudkan itu sudah meninggal."

"Saya tidak percaya, Ibu. Ia tidak meninggal. Gadis itu sedang tidur nyenyak dan sebentar lagi akan bangun,"

Beberapa hari kemudian tercium bau busuk. Ketika Joko Bodo mencium bau busuk itu, ia menanyakan sebabnya kepada ibunya. Lalu sang ibu menjawab, "Anakku, bau itu berasal dari tubuh si gadis yang sudah mulai membusuk. Itulah tandanya bahwa gadis itu sesungguhnya sudah mati. Orang yang mati akan mengeluarkan bau busuk."

Sekarang mengertilah Joko Bodo bahwa setiap mayat akan berbau busuk. Segera diangkatnya tubuh gadis itu dan dibuangnya ke dalam sungai.

Pada suatu hari, ketika ibunya sedang memasak, tiba-tiba ibunya kentut. Bau sekali kentut orang tua itu hingga Joko Bodo mencium bau yang sangat menusuk hidung.

Tanpa pikir panjang lagi, ibunya segera digendongnya sambil menangis dengan sedih sekali, sebab disangka ibunya telah meninggal. Si ibu terus meronta-ronta ingin melepaskan diri.

"Joko Bodo, aku belum mati. Aku masih hidup. Lepaskan aku, ayo... Aku belum mati, anakku," mohon ibunya.

"Ya, tapi tubuh Ibu sudah bau. Itu artinya Ibu sudah mati," jawab Joko Bodo.

"Bau itu karena aku kentut," jawab si Ibu sambil terus meronta.

"Tidak, Ibu sudah mati," kata Joko Bodo sambil terus membawa ibunya ke tepi sungai.

Ibu yang malang itu dilemparkannya ke dalam sungai. Dia terbawa arus dan meninggal. Sore harinya, tatkala Joko Bodo sedang duduk sendiri sambil merenungkan nasibnya yang buruk, tiba-tiba ia pun kentut.

Mencium bau kentutnya sendiri yang busuk, Joko Bodo menjadi sangat terkejut, "Kalau begitu aku juga sudah mati. Tubuhku berbau busuk," pikir Joko Bodo.

Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berlari dan menceburkan dirinya ke dalam sungai. Ia terbawa arus dan meninggal oleh kebodohannya sendiri.

Itulah cerita rakyat mengenai Joko Bodo. Kisah ini tergolong ke dalam dongeng karena tidak benar-benar terjadi. Cerita Joko Bodo mengajarkan kita agar selalu kritis dan tidak berlaku sembrono.



Simak Video "Suasana Rumah Duka Ki Joko Bodo "
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia