Kisah 23 Menit Menegangkan di Luar Angkasa, saat Astronot Hampir Tenggelam

Kisah 23 Menit Menegangkan di Luar Angkasa, saat Astronot Hampir Tenggelam

Fahri Zulfikar - detikEdu
Senin, 21 Nov 2022 19:00 WIB
Astronaut in space above the clouds of the Earth..
Foto: Thinkstock/ilustrasi astronot
Jakarta -

Beberapa peristiwa menegangkan pernah dialami astronot di luar angkasa. Mulai dari astronot Sergei Krikalev yang ditinggal saat Uni Soviet bubar hingga astronot Luca Parmitano yang hampir tenggelam karena air di helmnya.

Dikutip dari IFL Science, peristiwa yang menimpa astronot Luca Parmitano terjadi pada Juli 2013. Kala itu, ia sedang melakukan perjalanan luar angkasa di luar Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

23 Menit yang Menegangkan bagi Luca Parmitano

Dalam salah satu insiden paling berbahaya dalam sejarah spacewalk itu, Parmitano sedang melakukan Extravehicular Activity (EVA) yang direncanakan berlangsung selama enam jam.

Namun, ketika pekerjaan sedang berlangsung, ia melihat air menumpuk di dalam helmnya. Parmitano segera memberitahu NASA tentang situasinya, tetapi respons pertama NASA saat itu, belum menyadari betapa seriusnya insiden itu.

Selama 23 menit, Parmitano tetap berada di luar ISS. Sedangkan cairan di helmnya terus bertambah dan mulai bergerak.

Melihat hal itu, ia segera kembali ke ISS. Pada saat masuk ke dalam ruangan, air telah masuk ke matanya dan di dekat hidung dan mulutnya.

"Ketika saya bergerak kembali di sepanjang rute saya menuju airlock, saya menjadi semakin yakin bahwa air semakin meningkat," terang Parmitano.

"Saya merasakannya menutupi spons di earphone saya dan saya bertanya-tanya apakah saya akan kehilangan kontak audio. Air juga hampir sepenuhnya menutupi bagian depan pelindung saya, menempel di sana dan menutupi penglihatan saya."

Perjalanan Tak Mudah Kembali ke ISS

Perjalanan Parmitano untuk kembali ke ISS juga sempat menemui kendala. Hal itu karena dia harus memposisikan tubuh dengan kondisi air yang ada di helmya.

Bahkan air yang menutupi mata membuat penglihatan tertutup. Saat ia mencoba memindahkan air dengan menggelengkan kepala, justru memperburuk keadaan.

Parmitano menjadi bingung dan tidak tahu arah mana yang akan membawanya kembali ke tempat aman di airlock.

Kondisi berlangsung lama, saat penglihatannya tidak bisa melihat pegangan di luar stasiun ruang angkasa yang digunakan untuk bergerak di EVA.

Kemudian radionya juga menjadi sangat sunyi karena Parmitano tidak bisa mendengar rekan-rekannya lagi. Pada saat itu, dia menyadari bahwa sedang sendirian, tidak bisa melihat, dan tidak bisa mendengar di ruang hampa.

Namun, hal itu tidak membuatnya panik. Parmitano menghadapinya dengan sangat tenang. Dia mulai meraba-raba sepanjang kabelnya menuju airlock.

Lalu menemukan pegangan sambil bertanya-tanya apa yang harus dilakukan jika air mencapai mulutnya.

"Satu-satunya ide yang dapat saya pikirkan adalah membuka katup pengaman di telinga kiri saya. Jika saya membuat depresurisasi terkontrol, saya harus mengeluarkan sebagian air, setidaknya sampai membeku melalui sublimasi, yang akan menghentikan alirannya," paparnya.

Sesaat kemudian, dia akhirnya berhasil kembali ke airlock, dengan posisi mata terpejam. Dia juga belum mendengar instruksi dari NASA sejak dia diberitahu untuk mengabaikan semua protokol biasa dan masuk kembali ke ISS.

Akhirnya, dia merasakan kehadiran rekannya, Chris Cassidy yang memasuki airlock dan menutup pintu.

Cassidy memegang erat sarung tangan Parmitano untuk meyakinkan bahwa dia sudah aman untuk melepas helmnya.

Saat ditarik keluar oleh tim yang menunggu, di situ ia telah menyadari kondisi yang menegangkan itu, telah dilewatinya dengan aman.

Investigasi atas insiden tersebut, kemudian mengungkapkan bahwa kontaminasi telah menyumbat filter di pakaian luar angkasa milik Parmitano, yang menyebabkan penumpukan cairan.



Simak Video "Cahaya Hantu dari Bintang-bintang di Luar Galaksi"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia