Kisah Manusia Paling Radioaktif dalam Sejarah, Hidup Tanpa DNA

Kisah Manusia Paling Radioaktif dalam Sejarah, Hidup Tanpa DNA

Devita Savitri - detikEdu
Sabtu, 19 Nov 2022 09:30 WIB
Hisashi Ouchi tidak pernah menyangka kehidupan indahnya terenggut dan berakhir dengan siksaan rasa sakit di 83 hari terakhir masa hidupnya. Semua karena paparan radiasi besar yang dialami dirinya.

Kembali pada 30 September 1999, Hisashi Ouchi terkena kejadian buruk di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Tokaimura yang membuat organ internalnya hancur dan kulitnya mengelupas.  Hisashi Ouchi tidak sendiri, ia bekerja saat itu dengan dua rekannya untuk mengisi tangki pengendapan. Ialah Masato Shinohara dan Yutaka Yokokawa.

Hisashi Ouchi merupakan salah satu teknisi yang bekerja di sebuah fasilitas yang dioperasikan oleh JCO (formerly Japanese Nuclear Fuel Conversion Co) di Tokai, Ibaraki Perfecture.
Pegawai PLTN Tokaimura Jepang yang kena kecelakaan saat bekerja (Foto: Komunitas Muda Nuklir Nasional)
Jakarta -

Akhir September 1999 menjadi hari paling naas bagi Hisashi Ouchi serta dua kawannya Masato Sinohara dan Yutaka Yokokawa. Mereka adalah karyawan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Tokaimura, Jepang.

Kala itu Hisashi Ouchi dkk jadi korban yang terkena dampak parah dari kecelakaan nuklir terburuk di Jepang. Laman science.howstuffworks.com, menyebut Hisashi Ouchi yang berusia 35 tahun sedang memurnikan uranium oksida untuk membuat bahan bakar reaktor riset.

Ouchi mendapat dampak paling parah dalam kecelakaan itu lantaran ia berdiri di depan tangki dan memegang corong dalam proses pemurnian uranium itu. Ia bersama dengan Masato Shinohara yang bertugas menuangkan campuran uranium oksida dari sebuah ember.

Melansir jurnal National Library of Medicine disebutkan seharusnya pemurnian bahan bakar reaktor menggunakan pompa otomatis dalam mencampurkan uranium yang diperkaya hingga 2,4 kg asam nitrat.

Uranium pada akhirnya mencapai masa kritis pada pukul 10.35 pagi dan memicu reaksi berantai hingga hampir 20 jam. Namun, tanda buruk mulai terjadi dengan munculnya kilatan cahaya berwarna biru yang akhirnya disebut sebagai radiasi Cherenkov.

Kilatan tersebut akhirnya dijelaskan Buletin Ilmuwan Atom timbul dari pelepasan radiasi dari reaksi berantai nuklir yang tidak terkendali. Hisashi Ouchi bersama dua rekannya akhirnya pingsan karena mual dan diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit setempat.

Lalu mengapa Hisashi Ouchi disebut sebagai manusia paling radioaktif dalam sejarah? Begini penjelasannya.

Setiap manusia ternyata menerima efek radiasi yang berasal dari lingkungan.

Di Indonesia, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor 4 Tahun 2013 menjelaskan nilai batas dosis untuk masyarakat adalah sebesar 1 mSv (millisievert) pertahun, sedangkan untuk pekerja radiasi yakni 20 mSv untuk lima tahun.

Namun, Hisashi Ouchi sangat melebih batas dosis nuklir yang seharusnya diterima manusia.

Dalam kejadian mengerikan itu, Hisashi Ouchi menerima 17 Sv (sievert) dan Masato Shinohara menerima 10 Sv. Sedangkan Yutaka Yokawa disinari 3 Sv.

Ketiganya dibawa ke National Institute of Radiological Sciences di Chiba, tepat di sebelah timur Tokyo. Hasil tes terhadap Ouchi dan Shinohara menunjukkan jumlah darah limfatik mereka turun hingga hampir nol. Gejalanya meliputi mual, diare, dan dehidrasi.

Tiga hari setelah kecelakaan itu, kedua pria tersebut dipindahkan ke Rumah Sakit Universitas Tokyo untuk operasi transfusi yang dipandang sebagai satu-satunya harapan untuk mengaktifkan kembali fungsi penghasil darah mereka.

Ouchi juga sempat menerima sel punca periferal atau transplantasi sumsum tulang dari saudara laki-lakinya. Sedangkan Sinohara mendapat transfusi darah dari tali pusar yang membeku.

Kian hari kondisi Ouchi semakin memburuk. Ia mulai mengeluh kehausan dan kulitnya mulai terkelupas.

Tes menunjukkan radiasi telah menghancurkan kromosom atau DNA yang biasanya memungkinkan kulit untuk beregenerasi. Ia pun menjadi satu-satunya manusia yang hidup tanpa DNA.

Akibatnya epidermis atau lapisan luar yang melindungi tubuh secara bertahap menghilang. Rasa sakit yang dialaminya pun menjadi intens.

Dia mulai mengalami masalah pernapasan juga. Dua minggu setelah kecelakaan itu, dia tidak lagi bisa makan, dan harus diberi makan lewat infus. Lalu dua bulan setelah cobaan beratnya, jantungnya berhenti, meski dokter mampu menghidupkannya kembali.

Seperti dikabarkan JapanTimes.co, akhirnya Hisashi Ouchi dikabarkan meninggal dunia pada 21 Desember 1999 pukul 23.21 waktu setempat.

Kematiannya, yang terjadi 83 hari setelah insiden tersebut, diperkirakan akan memicu kembali penentangan terhadap program tenaga nuklir kontroversial negara tersebut.

Ouchi adalah orang Jepang kedua yang meninggal karena cedera terkait radiasi akut sejak 1954. Kala itu AS dari pengujian termonuklir di Bikini Atoll Kepulauan Marshall mengklaim Aikichi Kuboyama berusia 40 tahun, yang terpapar di kapal penangkap ikan Fukuryu-maru No 5.

Jenazah Ouchi dikembalikan ke rumahnya di Kanasago, Prefektur Ibaraki, ditemani oleh istrinya, Chizuru.

Pernyataan resmi akhirnya dikeluarkan oleh Perdana Menteri Jepang kala itu,Keizo Obuchi. Ia menyatakan belasungkawa kepada keluarga Ouchi dan berjanji untuk memperkuat langkah-langkah keselamatan nuklir dan mencegah kecelakaan lebih lanjut.

Itulah kisah Hisashi Ouchi yang kini dikenal sebagai manusia paling radioaktif sepanjang sejarah.

Lihat juga video 'Rencana Jepang Buang Limbah Cair Fukushima ke Laut Diprotes':

[Gambas:Video 20detik]



(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia