Studi: Meski Sedikit, Kehadiran Manusia Tetap Pengaruhi Satwa Liar

Studi: Meski Sedikit, Kehadiran Manusia Tetap Pengaruhi Satwa Liar

Novia Aisyah - detikEdu
Sabtu, 19 Nov 2022 19:00 WIB
Penghargaan Fotografi Komedi Satwa Liar Comedy Wildlife Photography Awards kini sudah menjadi ajang internasional terkemuka yang diikuti jutaan orang. Kompetisi ini bertujuan mempromosikan konservasi dengan cara menunjukkan nilai humor di alam bebas.
Foto: Dok. Bored Panda/Comedywildlifephoto/Ilustrasi Studi: Meski Sedikit, Kehadiran Manusia Tetap Pengaruhi Satwa Liar
Jakarta -

Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa kehadiran manusia berdampak pada aktivitas satwa liar yang hidup di kawasan lindung seperti taman nasional. Perilaku hewan-hewan tetap terpengaruh, bahkan ketika hanya ada sedikit manusia.

Penelitian mengenai hal ini dinahkodai oleh Universitas Washington. Studi tersebut dipublikasikan pada 13 Oktober 2022 lalu di jurnal People and Nature.

Tim peneliti melakukan riset di Taman Nasional Glacier Bay, kawasan pesisir di tenggara Alaska yang hanya dapat diakses dengan perahu atau pesawat. Sebagian besar pengunjung datang ke sana dengan kapal pesiar, tetapi tidak berlabuh di pantai.

Selain itu, taman nasional tersebut hanya punya sedikit lalu lintas pejalan kaki. Oleh karena sangat sedikit orang yang berkunjung tiap tahunnya, sekitar 40 ribu tetapi terus bertambah, maka menurut salah satu peneliti, Laura Prugh, tempatnya ideal untuk meneliti.

Para periset memasang 40 kamera yang diaktifkan dengan gerakan di 10 lokasi untuk mendeteksi orang dan empat spesies hewan, yaitu serigala, beruang hitam, beruang coklat, dan rusa besar selama musim panas.

Satwa Liar Punya Toleransi Rendah Terhadap Manusia

Mereka pun menemukan hasil yang mengejutkan di mana satwa liar memiliki toleransi rendah terhadap kehadiran orang-orang.

Pertama, jika ada manusia di suatu lokasi, kamera akan mendeteksi kurang dari lima hewan per minggu dari keempat spesies yang diteliti. Pada kebanyakan kasus, ini bisa berarti bahwa hewan menghindari area di mana ada manusia.

Kedua, di lokasi pedalaman, satwa liar yang terdeteksi turun jadi nol setiap minggunya setelah tingkat rekreasi setara dengan kira-kira 40 pengunjung per minggu.

Meski keempat spesies menunjukkan beberapa perubahan aktivitas karena manusia, serigala kemungkinan besar menghilang dari deteksi kamera saat ada orang di sekitarnya. Sementara, beruang coklat adalah hewan yang paling tidak terpengaruh kehadiran manusia.

Di sisi lain, para peneliti juga berhipotesis bahwa moose (salah satu spesies rusa) mungkin menggunakan manusia sebagai perisai pelindung mereka dari pemangsa. Hewan-hewan itu memilih menyelaraskan jam aktif dengan manusia untuk menghindari menjadi mangsa. Sehingga, lebih aktif di siang hari dan di lokasi di mana ada manusia di sana.

Peneliti memperkirakan, di taman-taman di mana hewan lebih terbiasa melihat manusia, sebagian dari mereka mungkin tidak akan bereaksi seperti di taman nasional yang mereka riset.

Meski demikian, penemuan ini menjelaskan kenyataan yang kemungkinan terjadi di taman nasional dan kawasan hutan belantara, setidaknya di seluruh Amerika Serikat. Kehadiran manusia hampir pasti berdampak terhadap perilaku satwa yang hidup di sana.

Penulis berharap penelitian mereka membantu pengelola taman nasional untuk mempertimbangkan pendekatan yang berbeda dalam merancang taman yang bisa diakses oleh manusia dan hewan. Misalnya, memusatkan jalur manusia di area tertentu untuk mengurangi jejak mereka secara signifikan atau juga membatasi waktu kunjung.



Simak Video "Kembalinya Citah ke India Setelah 70 Tahun Lenyap"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia