Begini Pemilu di Zaman Kuno, Pemungutan Suara Pakai Jempol & Mesin Undi

Begini Pemilu di Zaman Kuno, Pemungutan Suara Pakai Jempol & Mesin Undi

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 14 Nov 2022 11:00 WIB
Ilustrasi jari yang dicelupkan ke tinta usai pemilu
Ilustrasi pemilu. Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Warga Yunani kuno di Athena merupakan warga pertama di dunia yang melaksanakan pemilihan umum (pemilu) dengan sistem demokrasi langsung sejak abad ke-5 sebelum Masehi (SM). Seperti apa pemilu di zaman kuno ini?

Pemilu di sistem Demokrasi Athena dilakukan untuk memilih staf militer, pejabat keuangan, pejabat publik, kehakiman, hingga anggota dewan.

Khusus pemilihan pejabat publik dan anggota dewan, diterapkan sistem penyortiran (undian acak). Dikutip dari Encyclopaedia Britannica, sistem pemilu ini digunakan di Demokrasi Athena untuk mendukung kesetaraan setiap warga sehingga tidak hanya suara si kaya yang punya kekuatan. Di sisi lain, sistem acak ini membuat pemerintahan tidak dijalankan ahlinya.

Lain halnya dengan demokrasi semu di Republik Romawi di abad ke 5 SM. Pada pemerintahan ini, orang dari kelas-kelas terkaya di senat bisa berpengaruh lebih besar daripada kaum pekerja. Padahal secara teori, rakyat berdaulat dan senat hanya berwenang memberikan nasihat.

Baik di Athena maupun Roma, demokrasi atau kekuatan rakyat hanya terbatas pada dēmos, yang artinya warga negara laki-laki yang bebas. Perempuan dan orang-orang yang diperbudak tidak punya hak suara.

Pemilu dan Demokrasi di Zaman Yunani Kuno

Anggota Dewan Dipilih Pakai Mesin Acak

500 anggota Dewan 500, badan perwakilan rakyat di di Athena, dipilih dengan sistem penyortiran. Sepuluh suku di di Athena wajib menyediakan masing-masing 50 warga untuk bertugas selama satu tahun di Dewan 500, dikutip dari History.

Setiap warga negara yang memenuhi syarat diberi token yang sudah dipersonalisasi. Token tersebut dimasukkan ke dalam mesin khusus bernama kleroterion dengan teknologi tabung dan bola untuk memilih secara acak kandidat setiap suku yang bisa masuk jadi anggota Dewan 500.

Satu Laki-laki Satu Suara di Majelis Rakyat

Athena punya majelis Ekklēsia, badan demokrasi rakyat yang terdiri dari warga laki-laki Athena. Majelis ini memilih beberapa posisi publik, termasuk jenderal militer. Setiap tahun, 10 jenderal dipilih dengan mengacungkan jempol atau jempol ke bawah.

Ekklēsia juga bertugas memutuskan semua hukum dan kasus pengadilan. Agenda harian majelis ditetapkan oleh Dewan 500.

Pemungutan suara dilakukan dengan mengangkat tangan dan pemenang ditentukan oleh sembilan "presiden" (proedroi). Sembilan penghitung suara ini dipilih acak pagi hari sebelum acara majelis untuk menyulitkan suap dan penipuan sistem.

Sekitar 6.000 warga laki-laki rutin menghadiri majelis di amfiteater alami Pnyx di puncak bukit, dar total 30.000-60.000 warga Athena. Mereka harus hadir secara fisik agar suaranya dapat dihitung.

"Anda harus hadir secara fisik. Di situlah kita mendapatkan kata republik (res publica adalah bahasa Latin untuk 'tempat umum'). Anda datang dan berkumpul dengan warga negara lain dan Anda memutuskan masalah di hadapan majelis hari itu," kata Del Dickson, dosen ilmu politik dari Universitas San Diego dan penulis The People's Government: An Introduction to Democracy.

Sparta: Perhitungan Suara dengan Teriak Paling Kencang

Di samping Athena, kota-negara Yunani kuno juga mempraktikkan pemungutan suara. Sparta contohnya, mengisi kursi kosong Dewan Tetua dengan pemilihan berdasarkan teriakan paling kencang.

"Setiap kandidat akan bergiliran berjalan ke ruang pertemuan yang besar, dan orang-orang akan berteriak dan menyemangati persetujuan mereka. Di ruangan lain, tersembunyi dari pandangan, juri akan membandingkan volume teriakan untuk memilih pemenang," jelas Eric Robinson, dosen sejarah di Indiana University yang menulis Democracy Beyond Athens.



Simak Video "Petugas Datangi Rumah Warga di Kherson, Kumpulkan Suara untuk Referendum"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia