Bone Culture: Sejarah dan Peninggalannya

Bone Culture: Sejarah dan Peninggalannya

Devita Savitri - detikEdu
Jumat, 11 Nov 2022 11:00 WIB
Gua Lawa, Manusia Purba di Ponorogo
Penelitian di Gua Lawa, salah satu lokasi bone culture Sampung. Foto: Charolin Pebrianti/detikcom
Jakarta -

Bone culture atau kebudayaan tulang adalah budaya manusia purba di zaman Mesolitikum. Pada zaman itu, manusia yang hidup di gua-gua menggunakan alat sehari-hari dari tulang belulang.

Awalnya, bone culture berasal dari Vietnam dan Annam (kini Vietnam wilayah tengah) dan ikut tersebar ke Indonesia.

Pada 1928-1931, seorang peneliti bernama Van Stein Callenfels melakukan penelitian tentang bone culture di Indonesia, seperti dikutip dari buku Sejarah: untuk kelas 1 SMA oleh M Habib Mustopo.

Ia menemukan alat tulang dan tanduk pertama kali di Gua Lawa, Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Alat-alat Mesolitikum yang ditemukan seperti mata panah dan flake, batu-batu penggiling, dan alat-alat dari tulang dan tanduk.

Karena sebagian besar alat-alat ditemukan di daerah Sampung, maka bone culture di Indonesia disebut kebudayaan tulang Sampung (Sampung Bone Culture) hingga saat ini.

Namun, ternyata tak hanya di daerah Sampung ditemukan alat-alat batu dan tulang dari Zaman Batu Madya. Beragam peninggalan prasejarah itu ditemukan di daerah Besuki, Jawa Timur oleh Van Heekeren.

Selanjutnya, di daerah gua Bojonegoro ditemukan pula alat-alat dari kerang dan tulang bersama dengan fosil manusia Papua-Melanesoid.

Peninggalan Bone Culture

1. Alat Tulang dan Tanduk di Gua Lawa

Berdasarkan buku Sampung Bone Industries dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ternyata bukan Callenfels yang melakukan penelitian pertama kali tentang kebudayaan kebudayaan tulang, melainkan geolog asal Belanda L.J.C.Van Es pada 1926.

Namun, penelitiannya dilanjutkan oleh Callenfels yang menemukan tiga strata budaya yang berbeda di Gua Lawa.

Salah satunya adalah artefak tulang yang akhirnya terkenal dengan Sampung Bone Industries. Temuan alat-alat tulang dan tanduk rusa di Gua Lawa antara lain terdiri dari jenis lancipan, sudip dan belati.

Sayangnya, temuan-temuan tersebut masih belum jelas konteks stratigrafinya sehingga kronologi dan penanggalan situs Gua Lawa masih simpang-siur. Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif, distribusi perlapisan tanah, dan interpretasi lapisan batuan untuk menjelaskan sejarah Bumi.

2. Tulang 'Spatula' di Gua Braholo, Gunung Sewu

Gua Braholo merupakan salah satu gua hunian prasejarah di jajaran pengunungan karst Gunung Sewu, Karangmojo, Gunungkidul, Yogyakarta. Di tempat ini, ditemukan kerangka-kerangka fosil manusia purba yang kondisinya relatif utuh, seperti dikutip dari laman Kebudayaan Kemdikbud.

Jejak bone culture berupa alat tulang besar menyerupai spatula dengan teknologi cukup bagus ditemukan di Gua Braholo, seperti dikutip dari buku Prasejarah Indonesia oleh Arfan Diansyah, Flores Tanjung, dan Abdul Haris Nasution.

Kemungkinan, alat dari tulang yang ditemukan tersebut berfungsi sebagai pembersih dan pengupas kulit untuk umbi-umbian.

Meski datang dari dua tempat yang berbeda, ciri khas peninggalan bone culture Sampung adalah dibuat dari tulang yang dibelah memanjang dan satu bagiannya digosok pada sisi pecahan rongga tempat sumsum hingga rata.

Sisi tajam lebar dibentuk dengan cara menggosok ujung bagian dalam atau luar tulang sehingga membentuk lereng landai ke arah distal.

Tak hanya itu, pelaku bone culture Sampung diketahui sama dengan kebudayaan kapak di Sumatera, yakni para manusia Papua-Melanesoid.

Itulah penjelasan Bone Culture Sampung. Selamat belajar, detikers!



Simak Video "Nikita Mirzani Jalani Pengobatan untuk Persiapan Bertemu Dito Mahendra"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia