Pakar Sejarah Ungkap Kuliner Legendaris Indonesia, Ada Sejak Abad 10 Masehi

Pakar Sejarah Ungkap Kuliner Legendaris Indonesia, Ada Sejak Abad 10 Masehi

Fahri Zulfikar - detikEdu
Sabtu, 05 Nov 2022 14:00 WIB
Penjual makanan jaman dulu
Foto: Instagram @potret.sejarahindonesia/ilustrasi penjual makanan zaman dahulu
Jakarta -

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kuliner yang beragam. Bisa dilihat sendiri, mulai dari Sabang sampai Merauke, banyak sekali kuliner yang tidak cukup untuk dituliskan secara singkat.

Menurut Dosen Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Fadly Rahman, M.A., kuliner Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang, tidak sekadar soal rasa.

Adanya keberagaman kuliner Nusantara tidak hanya ditentukan dari unsur lokal, tetapi juga disebabkan oleh pengaruh dari luar.

"Saya lihat kita bisa belajar sejarah dari makanan," ujar Fadly dikutip dari laman Unpad.

Kuliner Nusantara yang Ada Sejak Abad ke-10

Pakar yang menggeluti sejarah kuliner Indonesia ini menjelaskan, catatan kuliner di negeri ini banyak disebutkan dalam naskah kuno nusantara.

Dalam naskah tersebut, beberapa kuliner nusantara diketahui sudah ada sejak abad ke-10 Masehi, seperti pecel, sambal, rawon, kerupuk, hingga dawet.

Baik dulu maupun sekarang, makanan yang disebutkan di atas masih tetap dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Adanya catatan sejarah mengenai kuliner di Indonesia disebabkan perbedaan antara dokumentasi kuliner nusantara dengan kuliner luar.

"Negara-negara dengan tradisi kuliner yang sudah maju didasarkan atas kuatnya tradisi untuk mencatat resep makanan. Berbeda dengan Indonesia, tradisi mencatat resep tidak dilakukan oleh para leluhur. Naskah kuno hanya mencantumkan nama-nama makanannya saja," terang Fadly.

Bukti Resep Kuliner Diwariskan dengan Baik

Meski tidak mencatat resep dengan baik seperti di luar negeri, namun bukan berarti resep leluhur tersebut tidak terwariskan dengan baik hingga saat ini.

Fadly menjelaskan, resep kuliner tua tetap bertahan karena kemampuan masyarakat Indonesia yang melisankan resep secara turun-temurun.

"Ungkapan seperti 'jangan telalu banyak garam', 'sedikit gula', inilah yang membedakan tradisi kuliner kita," jelasnya.

Oleh karena itu, penulisan resep-resep kuliner nusantara ini terbilang susah. Selain karena minim sumber tertulis, proses penulisan resep juga harus merekonstruksi berbagai sumber dari setiap zaman.

"Hal inilah yang dilakukan oleh para penulis resep di era kolonial. Mereka mendokumentasikan resep yang berkembang di masyarakat pribumi yang diterbitkan menjadi buku-buku masak," imbuh Fadly.

Kuliner Indonesia dan Diplomasi Budaya

Pada zaman kolonialisme tidak hanya dilakukan penulisan resep, tapi menurunkan warisan gastronomi yang kemudian bertransformasi menjadi kuliner Indonesia.

Beberapa contoh warisan masa kolonial misalnya adalah budaya jamuan makanan secara prasmanan. Kemudian makan dengan menggunakan kursi, meja, dan alat makan.

Padahal budaya makan leluhur Indonesia tidak pernah menggunakan kursi dan meja. Leluhur menikmati jamuan dengan berlesehan atau duduk di lantai.

"Budaya makan prasmanan ini ternyata diterapkan Soekarno di awal kemerdekaan sebagai alat diplomasi kebudayaan," kata Fadly Rahman.

Berdasarkan catatan sejarah, tahun 1950-an, Soekarno pernah menyampaikan ke pengurus Dharma Wanita untuk menyajikan sajian khas Nusantara dengan penyajian yang elegan.

Kudapan-kudapan khas Indonesia disajikan secara elegan menggunakan model prasmanan dan menerapkan konsep table manner.

Sejarah tersebut, memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki khazanah kuliner yang sangat kaya dan cocok dipakai sebagai media diplomasi.

"Tinggal bagaimana strateginya agar kuliner kita bisa naik panggung ke tingkat global," ujar Fadly.

Stop Menyebut Kuliner Jadul

Terkait pelestarian kuliner Indonesia, Fadly berpendapat untuk tidak menyebut kuliner khas Indonesia dengan sebutan kuliner tradisional, kuliner jadul, atau kuliner tempo dulu.

Menurutnya, sebutan semacam itu justru bisa membunuh eksistensi kuliner Indonesia. Karena sebutan kuliner tradisional akan mudah ditekan oleh modernitas kuliner.

"Saya amati, kalau kuliner tersebut disebut 'jadul' lambat laun akan kemudian hilang," pungkasnya.



Simak Video "Berburu Kuliner Nusantara di Passer Legende PIM"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia