Satu Pendiri UII Akan Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Pernah Belajar di Makkah

Satu Pendiri UII Akan Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Pernah Belajar di Makkah

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 04 Nov 2022 11:30 WIB
Profil KH Ahmad Sanusi yang Bergelar Pahlawan Nasional di 2022
Satu pendiri UII, KH Ahmad Sanusi akan dapat gelar Pahlawan Nasional. Foto: Sudirman Wamad
Jakarta -

Pemerintah akan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima tokoh. Salah satunya adalah KH Ahmad Sanusi yang merupakan salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia (UII).

KH Ahmad Sanusi dikenal sebagai salah satu tokoh agama terpopuler di wilayah Priangan pada abad 20. Ini disebabkan oleh perannya yang cukup menonjol di masyarakat Sunda kala itu.

KH Ahmad Sanusi lahir pada 18 September 1888 dan wafat tanggal 31 Juli 1950. Dijelaskan dalam Sosiologi Tafsir: Kritik Fenomena Bid'ah dalam Tafsir Tamshiyyah Al Muslimin Karya KH Ahmad Sanusi oleh Ulvah Nur'aeni, ada perbedaan pendapat mengenai tahun lahirnya.

Beberapa sumber mengatakan, dia lahir tahun 1889 karena merujuk pada bukti tertulis di nisannya. Sementara itu, tahun 1888 didapat dari pengakuan KH Ahmad Sanusi sendiri yang dituliskan dalam Pendaftaran Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa nomor 2119.

Kiai dan Penafsir yang Berjuang di Bidang Pendidikan

Keluasan ilmu agama mengantarkan KH Ahmad Sanusi memperoleh gelar kiai atau ajengan di lingkungan pesantren ataupun daerah Priangan. Dia giat menulis karya-karya keagamaan sehingga juga memiliki dua peran sekaligus, yaitu sebagai pengarang dan penafsir.

KH Ahmad Sanusi menulis cukup banyak tafsir Al Quran yang berbahasa Sunda maupun Indonesia. Ketekunannya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui pendidikan, sosial, dan politik turut membuatnya digolongkan sebagai pejuang.

Nyantri di Banyak Pesantren

Putra KH Abdurrahim ini dididik oleh ayahnya sendiri sejak umur 7-15 tahun. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal.

Setelah itu, salah satu pendiri UII ini mendapat kesempatan untuk belajar di banyak pesantren lain kurang lebih selama 4,5 tahun. Lembaga pesantren tersebut di antaranya pesantren Sukamantri, Selajambe, dan Sukaraja di Sukabumi, juga pesantren Cilaku, Ciajag, Gentur Warung, dan Bunikasih di Cianjur.

Selain itu, keturunan Sheikh Abdul Muhyi Pamijahan ini juga nyantri di Kresek Blubur Limbangan dan Sumursari di Garut serta pesantren Gudang di Tasikmalaya.

Dirikan Pesantren Sepulang dari Makkah

Setelah menikah dengan Siti Djuwaerijah, KH Ahmad Sanusi menunaikan haji bersama istri. Selama lima tahun di Makkah, dia juga sempat belajar ke beberapa ulama mazhab Syafi'i.

Sepulang dari Makkah, KH Ahmad Sanusi mengajar di pesantren ayahnya. Tak jarang dia mendiskusikan pembaharuan pemikiran Islam yang tengah berkembang waktu itu.

Pada 1921, KH Ahmad Sanusi pun mendirikan pesantrennya sendiri di daerah Genteng, Cibadak, Sukabumi. Kedalaman ilmu dan banyaknya kitab agama yang telah ia tulis membuatnya dikenal luas oleh masyarakat. Sejak itulah dia memperoleh gelar kiai haji.

Hijrah ke Yogyakarta dan dirikan UII

Belasan tahun berikutnya, pada 1933 KH Ahmad Sanusi mendirikan pesantren lagi di perkampungan Gunung Puyuh, namanya Pesantren Syamsul 'Ulum.

Pesantren itu dia dirikan karena menjadi tahanan kota di Sukabumi. Dia pun tak dapat kembali ke pesantren sebelumnya yang dia bangun.

Pascakemerdekaan, KH Ahmad Sanusi diangkat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) bersama rekannya, KH Abdul Halim. Dia juga hijrah ke Yogyakarta setelah Perjanjian Renville.

Di Yogyakarta, KH Ahmad Sanusi mendirikan Sekolah Tinggi Islam bersama tokoh-tokoh lainnya seperti KH Abdulkahar Mudzakkir, KH Abdul Halim, KH Mas Mansur, dan sebagainya. Selanjutnya, STI itu kemudian diubah menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang kita kenal kini.



Simak Video "Pecah Tangis Ibu yang Putranya Tewas di Ponpes Gontor: Cukup Anak Saya"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/twu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia