Sosok Pulau di Indonesia yang Pernah Diperebutkan Amerika-Belanda

Sosok Pulau di Indonesia yang Pernah Diperebutkan Amerika-Belanda

Nikita Rosa - detikEdu
Minggu, 16 Okt 2022 14:00 WIB
Pantai Wolo jadi lokasi primadona di Miangas, Sulawesi Utara. Pantai yang memiliki gelombang lembut, dan pasir putih ini, menjadi bagian penting bagi masyarakat karena tempat dilaksanakannya kegiatan adat, Festival Manami.
Pulau Miangas, Sulawesi Utara. (Foto: 20detik)
Jakarta -

Pulau Miangas atau Las Palmas (Palmas Island) adalah pulau Indonesia yang berbatasan dengan negara lain yaitu Filipina. Pulau ini termasuk ke dalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia.

Pulau Miangas memiliki luas 3,15 km2 atau 210 Ha dan berada pada koordinat 5° 34' 02" U - 126° 34' 54" T/ 05° 33' 57" U - 126° 35' 29" T. Posisi dan luas Pulau Miangas sendiri tercantum dalam PP No. 38 Tahun 2002 Tentang Koordinat Geografis Titik-titik Garis Pangkal Kepulauan Indonesia.


Untuk menjangkau Pulau Miangas dari Manado, Sulawesi Utara, kamu perlu menaiki jalur udara penerbangan ke Pulau Tahuna selama kurang lebih 1 Jam. Kemudian menyambung perjalanan laut selama 14 jam.

Sebelumnya, Miangas pernah diperebutkan dua negara besar yakni Amerika Serikat (yang kala itu masih menjajah Filipina) dengan Kerajaan Belanda (yang juga menjajah kepulauan Nusantara atau Hindia Belanda). Dilansir dari situs Sumber Belajar Kemendikbud, berikut sejarahnya.

Perebutan Pulau Miangas oleh Amerika dan Belanda

Kasus Pulau Miangas masuk ke Pengadilan Internasional pada tahun 1932 oleh Amerika dan Belanda. Kasus Miangas menjadi salah satu kasus paling berpengaruh terkait dengan konflik wilayah kepulauan.

Miangas pada saat diperebutkan adalah pulau yang mempunyai nilai ekonomis sangat rendah namun mempunyai lokasi strategis. Lokasi Miangas berada di perbatasan Indonesia dan Philipina, tepatnya sebelah Selatan Mindanao Philipina yang masuk wilayah protektorat Amerika dan di sebelah Utara Pulau Nanusa Indonesia yang masuk wilayah Netherlands East Indies.

Pada tahun 1989, Amerika kembali menghadapi Belanda dalam perebutan Pulau Miangas di Pengadilan Arbitrase Internasional. Kedua negara meminta Pengadilan Arbitrase Internasional untuk memutuskan apakah Miangas masuk ke dalam wilayah Belanda atau Amerika.

Adapun isu hukumnya adalah apakah Miangas menjadi hak milik penemu pertama yaitu Spanyol meskipun tidak menunjukan otoritas kekuasaannya terhadap wilayah tersebut, atau Miangas menjadi wilayah negara yang secara berkelanjutan menunjukkan kedaulatan terhadapnya.

Hasil putusan Pengadilan Arbitrase menyatakan Pulau Miangas masuk ke dalam Wilayah Belanda/Indonesia. Keputusan ini masuk ke dalam Traktat Paris (Paris Treaty).

Kepemilikan Pulau Miangas

Pasca kemerdekaan masing-masing kedua negara, Indonesia dan Filipina, mengakui keputusan Arbitrase Internasional tentang pulau Miangas. Pengakuan ini diperjelas lebih lanjut di dalam perjanjian Lintas Batas (Border Crossing Agreement) antara Indonesia dan Filipina yang ditandatangani pada tahun 1956.

Di dalam perjanjian ini, kedua negara mengakui bahwa Pulau Miangas merupakan pos lintas batas di pihak Indonesia. Keputusan Arbitrasi Internasional ini diperkuat oleh hasil penelitian dari 2 orang pakar hukum internasional, yaitu Willem Johan Bernard Versfelt dan Daniel-Eramus Khan.

Kondisi Pulau Miangas

Pulau Miangas yang terletak di tepi Samudera Pasifik, membuat pulau tersebut bagaikan terisolasi.

Jika gelombang laut sedang tinggi, masyarakat hanya bisa berdiam di pulau. Begitu juga sebaliknya, kapal-kapal urung mendekat ke Pulau Miangkas.

Apabila pasang, air bisa menjangkau hingga 200 meter ke daratan. Padahal masyarakat Miangas harus berlayar ke kota untuk berbelanja kebutuhan hidup.

Masyarakat Miangas harus menempuh semalaman suntuk jika ingin berbelanja ke Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Dan jika ingin berbelanja ke Manado, mereka bisa menghabiskan waktu hingga empat hari. Alternatifnya, masyarakat Miangas akan berbelanja di Filipina sembari mencari ikan.

Struktur Pemerintahan Pulau Miangas

Struktur pemerintahan adat masih dipelihara di Miangas. Pemerintahan dipimpin oleh seorang Ratumbanua atau Mangkubumi I dengan wakilnya Inanguanua atau Mangkubumi II. Kemudian di bawahnya ada 12 kepala suku yang membawahi masing-masing kelompok keluarga besar.

Pemimpin-pemimpin adat ini tidak memiliki periode tetap, tetapi apabila melakukan kesalahan atau mengundurkan diri maka bisa diganti, yang melakukan pergantian adalah masyarakat.

Kepala suku diangkat oleh masyarakat oleh anak-anak kepala suku dan Ratumbanua tidak bisa memberhentikan kepala suku. Kemudian kepala desa dipilih oleh masyarakat, dalam pemilihan kepala desa, warga Pulau Miangas lebih melihat figur calon kepala desa meskipun dari suku kecil.



Simak Video "Banjir-Longsor di Manado Telah Merenggut 5 Nyawa, Ini Datanya"
[Gambas:Video 20detik]
(nir/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia