Di Forum R20, Gus Yahya Ajak Tokoh Agama di Dunia Jujur Ungkap Kebenaran

Di Forum R20, Gus Yahya Ajak Tokoh Agama di Dunia Jujur Ungkap Kebenaran

Erwin Dariyanto - detikEdu
Kamis, 13 Okt 2022 05:30 WIB
Ketum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf dalam Editorial Meeting bersama sejumlah pimpinan media massa
Ketum PBNU Gus Yahya saat Editors Meeting bersama sejumlah pemimpin redaksi media massa, Rabu, 12 Oktober 2022. (Foto: Erwin Dariyanto/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengakui adanya sejumlah problem intoleransi yang masih terjadi di Bumi Pertiwi. Namun hal itu bukan berarti harus menghentikan upaya Indonesia dalam mengampanyekan perdamaian di tingkat global.

Bahkan, kata Gus Yahya, Indonesia harus terus bergulat juga secara internasional. Langkah ini tentu saja tanpa menafikan upaya mengharmonisasi hubungan persaudaraan antaragama sesama bangsa dalam negeri. Seperti gagasan pendirian negara Islam, kesulitan pembangunan gereja, diskriminasi terhadap kelompok Syiah dan Ahmadiyah, serta kasus lainnya.

Semua masalah di dalam negeri tersebut harus dicarikan solusinya secara bersama. "Di samping tentu melakukan upaya dalam negeri, kita juga harus bergulat secara internasional," kata Gus Yahya dalam Editorial Meeting bersama sejumlah pemimpin redaksi media massa di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta, Rabu (12/10/2022).

Menurut Gus Yahya, masalah-masalah intoleransi serupa masih akan terjadi lagi di kemudian hari. Sehingga energi bangsa ini akan terbuang percuma jika hanya fokus pada ranah dalam negeri atau domestik saja.

Karenanya, lanjut Gus Yahya, persoalan domestik ini juga perlu dibawa ke tingkat internasional. Hal ini mengingat masalah serupa tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di India, di Eropa, dan di banyak negara lainnya.

"Memang ada masalah di mana-mana. Makanya ada tema truth telling. Kita ingin mengajak ke masa depan bersama. Kita tidak bisa terus-terusan begini. Mereka sekarang bersikap diskriminatif terhadap minoritas. Mereka mencari pembenaran dari grevances masa lalu," papar Gus Yahya.

Gus Yahya mengatakan, Forum Religion Twenty atau R20 dilaksanakan dalam rangka menciptakan perdamaian dan kehidupan yang harmoni di tingkat global. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu pun mengajak tokoh-tokoh agama dunia untuk bersama-sama mengatasi problem intoleransi yang masih sering terjadi di dunia.

Di dalam Forum R20 nanti, Gus Yahya mengajak semua tokoh agama di dunia saling mengungkap kebenaran dan berbicara secara jujur mengenai masalah yang dialami masing-masing. "Sebab kalau tidak (berbicara bersama), tidak ada penyelesaian," kata dia.

Menurut Gus Yahya masalah-masalah tersebut terkadang memang ada yang sengaja dikirim dari luar atau dinamika global. Selain itu juga karena hubungan yang semakin dekat antarkawasan dunia. Sebagian lagi juga karena dampak dari politisasi dan polarisasi di wilayah domestik.

Gus Yahya menegaskan bahwa tidak boleh lagi ada diskriminasi. Sudah saatnya tidak berpikir alasan untuk marah atau benci terhadap kelompok lain. Sebaliknya, justru antarumat beragama dan berbangsa harus bisa saling menjaga perdamaian satu sama lain.



Simak Video "Wanti-wanti Gus Yahya Kampanye di Tempat Ibadah: Berbahaya Sekali"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia