PBNU Ungkap Alasan Undang RSS India Hadiri Forum R20 di Bali

Erwin Dariyanto - detikEdu
Kamis, 29 Sep 2022 21:48 WIB
Ketum PBNU Gus Yahya Konferensi Pers rerkait R20
Foto: Dokumentasi PBNU
Jakarta -

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan mengundang Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) untuk menghadiri Forum Agama G20 (R20) di Bali dan Yogyakarta pada awal November mendatang. Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), sebuah organisasi kelompok nasionalis Hindu sayap kanan India.

Dalam keterangan tertulis PBNU yang diterima Tim detikHikmah, Kamis 29 September 2022 RSS sudah mengonfirmasi kehadiran mereka. Juru Bicara R20, Muhammad Najib Azca mengatakan bahwa ada 3 alasan RSS India turut diundang dalam Forum R20. Pertama, R20 merupakan agenda yang menempel pada forum G20. Sehingga peserta yang diundang dalam forum R20 sebagian besar mewakili negara-negara yang termasuk dalam Forum G20. India merupakan salah satu peserta G20.

"R20 ini event yang menempel ke G20. Karena R20 (adalah) engagement group dari G20, maka undangan di R20 mengikuti struktur keanggotaan G20. Representasi tokoh-tokoh agama anggota G20 akan diundang. Kita mengikuti pola dan pakem G20," kata Najib.

Meskipun demikian, menurut Najib, ada pula peserta R20 yang bukan representasi dari anggota G20. Misalnya kehadiran tokoh agama dari Vatikan yang bukan merupakan anggota G20. Begitu pula tokoh agama dari Uni Emirat Arab. "Walaupun bukan anggota G20, tokoh dari kedua negara ini sangat penting," terang Najib.

Alasan mengundang RSS India kedua adalah karena organisasi itulah yang direkomendasikan oleh Pemerintah India. Sebab, RSS merupakan akar kekuatan dari Partai Bharatiya Janata (BJP) yang saat ini berkuasa di negari Dewi Gangga tersebut.

Hal ini juga terkait dengan Presidensi G20 di tahun 2023 yang akan dipegang India. Karenanya, NU sebagai penyelenggara berkoordinasi dengan Pemerintah India dan mendapatkan rekomendasi dari mereka. "Untuk India, kita mengikuti rekomendasi, [yaitu] dari RSS," kata Najib.


Berikutnya asalan ketiga adalah jika memang RSS dianggap bermasalah karena rekam jejaknya, terutama dalam memperlakukan minoritas, justru R20 merupakan forum yang tepat untuk membicarakan itu. "Selama ini, [jika] tidak senang dan tidak setuju, hanya koar-koar dari jauh. Forum ini memang mengundang tokoh-tokoh agama untuk membicarakan isu sensitif itu," kata Najib yang juga Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Najib menegaskan bahwa agenda pembahasan dalam forum R20 ditujukan untuk mencari solusi bersama, yakni: Kepedihan Sejarah, Pengungkapan Kebenaran, Rekonsiliasi, dan Pengampunan; Mengidentifikasi dan Merangkul Nilai-nilai Mulia yang Bersumber dari Agama dan Peradaban Besar Dunia; Rekontekstualisasi Ajaran Agama yang Usang dan Bermasalah; Mengidentifikasi Nilai-nilai yang Dibutuhkan untuk Mengembangkan dan Menjamin Koeksistensi Damai; serta Ekologi Spiritual.

"Setelah membicarakan luka masa lalu, apa yang akan disumbangkan agama? Termasuk dari India, dari RSS, apa sumbangannya? Kita membangun bersama, apa yang ingin dibangun, apa kontribusinya? Apakah merawat luka masa lalu itu akan diteruskan?" lanjut Najib.


Mencari Solusi Atasi Ancaman terhadap Umat Islam

Sebelumnya Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengatakan bahwa pihaknya saat ini tengah membangun dialog dengan Pemerintah India dan RSS. Tujuan dialog ini untuk mendorong proses keterlibatan yang konstruktif dalam mengatasi ancaman terhadap umat Islam dan kaum minoritas di India.

"Nahdlatul Ulama menyadari adanya berbagai pelanggaran dan ancaman terhadap umat Muslim, Kristen, dan populasi minoritas lain di India. Diskusi Nahdlatul Ulama yang sedang berlangsung dengan Pemerintah India dan RSS dimaksudkan untuk mengatasi berbagai pelanggaran dan ancaman tersebut melalui proses keterlibatan yang konstruktif," kata Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, salah satu cara mengatasi kepedihan sejarah yang mengakar dan mempromosikan hidup berdampingan secara damai adalah dengan merangkul semua pihak agar menolak terlibat dalam sentimen kebencian dan permusuhan.

"Nahdlatul Ulama mendorong setiap orang yang beriktikad baik, dari setiap agama dan bangsa, untuk menolak penggunaan identitas sebagai senjata politik dan ikut serta mendorong solidaritas dan rasa hormat di tengah keberagaman masyarakat, budaya, dan bangsa di dunia," kata Gus Yahya.



Simak Video "Melihat Lagi Sederet Momen Viral di Acara KTT G20 Bali"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/erd)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia