Banda Neira dan Sejarah Monopoli Pala

Banda Neira dan Sejarah Monopoli Pala

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 12 Okt 2022 10:00 WIB
Warga memecahkan biji pala di Kepulauan Banda Naira, Maluku.Kepulauan Banda Neira jadi salah satu saksi bisu perjuangan Indonesia merdeka dari penjajah. Wilayah tersebut menyimpan kisah tentang rempah pala yang diperebutkan bangsa Eropa di abad ke-16 dan 17.
Banda Neira, saksi sejarah monopoli perdagangan pala. Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Jakarta -

Banda Neira mungkin dikenal sebagai sebagai nama grup musik di kalangan anak muda. Tahukah detikers, Banda Neira juga dahulu merupakan tempat monopoli perdagangan pala?

Banda Neira merupakan salah satu pulau vulkanik di Kepulauan Banda. Di samping itu, ada Pulau Banda Besar, Run, Ai, Hatta, Sjahrir, Gunung Api, Karaka, Manukan, Nailaka, dan Batu Kapal di kepulauan ini, seperti dikutip dari laman World Heritage Centre UNESCO.

Kepulauan Banda tercatat dalam Daftar Tentatif Situs Warisan Dunia UNESCO dari Indonesia yang menggambarkan sejarah kolonial dan pengaruhnya pada sejarah dunia.

Banda Neira berfungsi sebagai pusat utama Kepulauan Banda di masa penjajahan Belanda, yang menjadi lokasi monopoli dagang pala dunia.

Banda Neira di Masa Eksploitasi Pala oleh Belanda

Hingga abad ke-19, Kepulauan Banda sumber satu-satunya pala dan lada untuk makanan hingga pengobatan. Banda Neira merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah besar di Kepulauan Benda.

Untuk memonopoli perdagangan pala, VOC menduduki Banda Neira sebagai pusat Kepulauan Banda pada 1602, sementara EIC (Inggris) menduduki Pulau Run, seperti dikutip dari The Sea in World History: Exploration, Travel, and Trade oleh Stephen K. Stein.

Kondisi tanah di Kepulauan Banda membuat petani setempat sulit menanam padi sehingga berfokus pada penanaman tanaman rempah-rempah. Orang Banda lalu mengimpor beras.

Orang-orang China datang ke Kepulauan Banda di akhir abad ke-14, sementara pedagang di Jawa dan Malaka tiap tahun berlayar ke Banda. Di sana, mereka berdagang kain katun, sutra, beras, gading, dan keramik dengan imbalan pala, lada, dan rempah-rempah lainnya.

Orang Banda lalu menjual kembali sebagian komoditas tersebut ke Maluku, yang berjarak dua minggu berlayar dari sana, untuk mendapat cengkih. Umumnya, pedagang asing menghindari pelayaran ke Maluku karena angin muson.

Orang Banda saat itu disebut lebih suka menghindari orang asing. Mereka cenderung mendelegasikan urusan perdagangan ke penduduk di pelabuhan Banda Neira. Penduduk tersebut kelak menikah dengan orang Jawa yang menetap di sana. Kelompok makmur elite ini memonopoli perdagangan lokal dan dipanggil orang kaya.

Orang-orang setempat disebut lebih menyukai perdagangan damai. Namun, kedatangan orang Eropa menimbulkan konflik. Kendati berhasil melewati invasi Portugis pada 1529, Banda Neira diduduki VOC pada 1602 dan perdagangan pala dimonopoli pihak Belanda tersebut.

Kemudian, EIC Inggris berhasil menanam pala di Ceylon. Perlahan, Banda pun tak lagi jadi rebutan monopoli perdagangan pala dunia.



Simak Video "Meski Banjir 1 Meter, Warga Kebon Pala Ogah Mengungsi"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia