Arti Budaya Politik dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia

Arti Budaya Politik dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 07 Okt 2022 12:30 WIB
Seorang pemilih memasukan surat suara pemilihan suara ulang (PSU) Kota Tangerang Selatan kedalam kotak usai menggunakan hak pilihnya di TPS 15 Pamulang Timur, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (13/12/2020). Bawaslu Kota Tangsel merekomendasikan PSU di tiga TPS yang ada di Ciputat Timur dan Pamulang Timur karena adanya pelanggaran dan kelalaian yang dilakukan petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) mulai dari penggantian ketua KPSS secara sepihak hingga memilihnya warga yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/rwa.
Seorang pemilih memasukan surat suara pemilihan suara ulang (PSU) Kota Tangsel ke dalam kotak. Pilkada merupakan salah satu cerminan budaya politik partisipan (Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL)
Jakarta -

Budaya politik adalah perwujudan nilai-nilai politik yang dianut oleh sekelompok masyarakat, bangsa, atau negara yang diyakini sebagai pedoman dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas politik kenegaraan.

Dikutip dari buku Pendidikan Kewarganegaraan Kelas XI karya Rima Y dkk, guru besar ilmu politik Rusadi Kantaprawira menyatakan, budaya politik adalah pola tingkah laku individu dan orientasinya terhadap kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik.

Sementara, definisi menurut Gabriel A. Almond dan Sidney Verba, budaya politik adalah suatu sikap orientasi yang khas dari warga negara terhadap sistem politik dengan aneka ragam bagiannya dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada dalam sistem itu.

Di Indonesia, atmosfer budaya politik berubah-ubah seiring perkembangan waktu, mulai dari masa penjajahan hingga masa reformasi saat ini. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh bagaimana gaya kepemimpinan yang berlaku pada masing-masing periode.

1. Masa Penjajahan Belanda

Budaya politik yang ada pada masa penjajahan Belanda ini tentunya menyimpan banyak upaya untuk memerdekakan tanah air Indonesia. Pada masa ini, banyak partai politik yang muncul untuk memperkuat usaha perebutan kekuasaan dari Belanda.

Munculnya banyak partai politik di masa ini menimbulkan banyaknya anggota partai politik yang ditangkap, disingkirkan hingga diasingkan oleh pihak Belanda.

Beberapa partai politik yang ikut andil dalam usaha merebut kemerdekaan antara lain Partai Indonesia, Partai Indonesia Raya, Gerakan Rakyat Indonesia, Gabungan Politik Indonesia, Partai Nasional Indonesia, dan masih banyak lagi.

2. Masa Penjajahan Jepang

Pada masa penjajahan Jepang, budaya politik sangatlah ditentang keras. Masyarakat Indonesia tidak diperkenankan mengadakan kegiatan politik.

Oleh karena itu, pihak Jepang sendiri yang membentuk organisasi-organisasi bagi masyarakat Indonesia untuk berdiskusi misalnya Gerakan Tiga A, Putera, dan Jawa Hokokai.

3. Masa Orde Lama

Hasil dari budaya politik pada masa orde lama ini banyak melahirkan beberapa paham seperti komunisme, nasionalisme, hingga paternalisme. Meskipun begitu, pada masa ini tokoh-tokoh politik bisa menjaga keseimbangan budaya politik di masyarakat.

Namun seiring berkembangnya waktu, masa orde lama atau masa di mana Indonesia sudah merdeka ini banyak menyimpan sejarah tentang kelompok-kelompok yang kontra revolusi. Banyak kelompok politik pada saat itu yang tidak setuju terhadap keputusan penguasa dan berusaha untuk mendobraknya.

4. Masa Orde Baru

Masa orde baru memiliki budaya politik yang patrimonial. Artinya, politik pada masa ini hanya berlaku bagi pemerintah saja dan masyarakat diperintahkan untuk tunduk pada segala kebijakan yang dirancang penguasa.

Otoriterianisme di zaman Presiden Soeharto ini mendampak pada aksi sosial yakni kerusuhan 1998 yang berupaya untuk menjatuhkan rezim Soeharto.

5. Zaman Reformasi

Budaya politik di zaman reformasi sudah masuk kepada atmosfer masyarakat bebas peropini dan mengadakan kegiatan politik demi memperjuangkan kepentingan bersama. Pada masa ini masyarakat sudah ikut pro aktif dalam menentukan arah kebijakan publik.

Tipe-tipe Budaya Politik

Dapat disimpulkan dari perkembangan sejarah budaya politik di atas, bahwa tipe-tipe dari budaya politik yang ada di Indonesia terbagi menjadi tiga yakni Budaya Politik Parokial, Budaya Politik Kaula, dan Budaya Politik Partisipan.

1. Budaya Politik Parokial

Budaya politik parokial biasanya identik dengan sistem politik yang tradisional.

Ciri-ciri budaya politik parokial:

  • Kelompok masyarakat dipimpin oleh kepala suku atau pemimpin adat.
  • Pola budaya politik parokial ini cenderung membuat masyarakat tidak mengharapkan perubahan apa-apa dalam sistem politiknya.
  • Masing-masing dari anggota masyarakat tidak memiliki spesifikasi tugas yang berkaitan dengan sistem politik yang berlaku.
  • Hal yang kental dengan budaya politik parokial adalah keberadaan pranata dan unsur-unsur adat yang masih melekat di masyarakatnya.

Selain itu, keberadaan kepala adat mampu menggerakkan kepentingan masyarakat dalam urusan ekonomi maupun sosial.

2. Budaya Politik Kaula

Budaya politik kaula adalah budaya politik yang didominasi oleh masyarakat pada umumnya.

Ciri-ciri budaya politik kaula adalah:

  • Masyarakat dalam budaya politik kaula ini memiliki partisipasi yang berfrekuensi tinggi, tapi tidak ikut menentukan perubahan politik.
  • Masyarakat menjadi kekuatan yang lebih besar dalam budaya politik kaula ini, hanya saja keberadaannya tidak lebih berdampak dari otoritas sang penguasa. Dapat dikatakan, masyarakat tidak bisa memberikan dampak pada sistem politik yang ada.
  • Masyarakat cenderung tunduk kepada keputusan pemerintah karena menurut mereka kebijakan pemerintah tidak dapat diubah atau bersifat mutlak.

Budaya politik kaula termasuk gambaran dari kepemimpinan yang diktator.

3. Budaya Politik Partisipan

Budaya politik partisipan menunjukkan bahwa masyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan arah kebijakan pemerintah.

Ciri-ciri budaya politik partisipan adalah:

  • Masyarakat ikut serta memberi masukan dan kritik terhadap kebijakan yang kurang sesuai.
  • Masyarakat sadar bahwa peranannya sebagai kesatuan dari individu memiliki hak untuk menolak atau menerika keputusan dari penguasa.

Dari ciri-ciri di atas, budaya politik yang berkembang di masyarakat Indonesia saat ini adalah budaya politik partisipan. Budaya ini juga mendorong praktik terjadinya demokrasi di Indonesia.



Simak Video "Geger Capres Rambut Putih-Keriput"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia