Tragedi Kanjuruhan, Guru Besar Unesa: Pelajaran untuk Perbaiki Sistem Pengamanan

Tragedi Kanjuruhan, Guru Besar Unesa: Pelajaran untuk Perbaiki Sistem Pengamanan

fahri zulfikar - detikEdu
Rabu, 05 Okt 2022 14:00 WIB
Stadion Kanjuruhan, Malang usai 131 orang meninggal
Guru besar Unesa berpendapat soal tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur. (Deny Prastyo Utomo/detikcom)
Jakarta -

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada 1 Oktober 2022 telah menjadi tragedi luar biasa dalam sejarah sepak bola di Indonesia. Bahkan tragedi yang memakan ratusan korban telah menjadi perhatian dunia.

Guru besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof Tjipto Prastowo, Ph.D., turut merespons tragedi kanjuruhan dari perspektif ilmu kebumian, bidang kepakarannya.

Dia menjelaskan, ilmu bumi atau earth sciences membedakan bencana kebumian menjadi dua yakni bencana geologi dan bencana hidrometerologi.

Bencana Akibat Ulah Manusia Harusnya Bisa Dicegah

Prof Tjipto mengatakan bahwa bencana kebumian pertama yakni bencana geologi contohnya seperti gempa tektonik, erupsi vulkanik dan tsunami.

"Bencana geologi cenderung bersifat non-antropogenik yang berarti tidak dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu tidak bisa dicegah, tetapi bisa dikurangi dampak negatifnya," ucapnya dikutip dari laman resmi Unesa, Rabu (5/10/2022).

Bencana kedua adalah bencana hidrometeorologi yang bersifat antropogenik.

"Berarti dipicu oleh aktivitas manusia. Karena itu seharusnya bisa dicegah," imbuh Prof Tjipto.

Contoh bencana kategori ini seperti banjir bandang, banjir rob, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, tanah longsor, dan likuifaksi.

Tragedi Kanjuruhan sebagai Bencana Antropogenik

Prof Tjipto memberi contoh bencana hidrometeorologi bersifat antropogenik ini di antaranya seperti kecelakaan transportasi (darat, laut, udara), kecelakaan industri (Chernobyl case), termasuk tragedi Kanjuruhan.

Menurutnya, bencana hidrometeorologi (antropogenik) seharusnya bisa dicegah, maka terminologi "bencana alam" sebagai terjemahan "natural disaster" adalah kurang tepat.

"Saya meyakini sungguh-sungguh bahwa alam diciptakan oleh Allah SWT untuk kemaslahatan umat manusia dan bukan sebaliknya (yakni) memberikan bencana," ungkapnya.

"Dengan demikian, dengan segala kerendahan hati saya mengajak semua pihak untuk menyebut bencana geologi dan bencana hidrometeorologi sebagai bencana kebumian bukan bencana alam," sambung Prof Tjipto.

Dalam Bahasa Inggris, bencana kebumian adalah earth-related disaster. Sedangkan bencana alam adalah natural disaster.

Kedua terminologi tersebut beda makna. Tragedi Kanjuruhan bisa juga dilihat dari sudut pandang psiko-sosiologi.

Masalah Sosial dan Polaritas

Lebih lanjut, Guru Besar Unesa ini menerangkan bahwa akhir-akhir ini, begitu banyak masalah sosial. Mulai dari distribusi minyak goreng sampai penegakan hukum (law enforcement) yang rendah.

Bukan tak mungkin, massa pendukung tim sepakbola yang mayoritas berasal dari golongan "akar rumput" sudah punya masalah sejak keberangkatan dari rumah.

"Mungkin belum bekerja atau sudah bekerja, tetapi gaji rendah, perut lapar tak punya uang atau punya uang tapi tak seberapa," ucap Prof Tjipto.

Kecemburuan sosial yang muncul di mana-mana dan stratifikasi memungkinkan untuk membelah massa menjadi polarisasi dua golongan, yaitu yang merasa "kalah dan dikalahkan" dan yang "diklaim menang".

Polaritas yang besar ini bisa memicu friksi sosial. Reaksi massa adalah erupsi sosial dari dalam dapur magma yang tertekan.

"Tragedi Kanjuruhan dengan demikian adalah tragedi sosial, tragedi kemanusiaan yang jelas menjadi petunjuk bahwa bencana antropogenik bisa menjadi pemicu kematian sia-sia," tutur Prof Tjipto.

Terakhir, ia mengajak seluruh elemen untuk menjadikan tragedi kanjuruhan sebagai pembelajaran untuk memperbaiki budaya dan sistem yang ada.

Baik dalam sepak bola, pertandingan, supporter, maupun pihak keamanan.

"Tanpa harus menyalahkan pihak manapun dan siapapun atas jatuhnya seratus lebih korban jiwa di tragedi Kanjuruhan, mari belajar dari sekarang. Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Ini harus menjadi pelajaran untuk memperbaiki budaya sepak bola, pertandingan, supporter dan sistem pengamanannya ke depan," tutupnya.



Simak Video "Komnas HAM Serahkan Laporan Investigasi Kanjuruhan"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia