Mahasiswa ITB Kembangkan Prototipe Aplikasi Anti Begal Rogue Signal

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 04 Okt 2022 19:30 WIB
Ilustrasi smartphone
Ilustrasi aplikasi. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta -

Angka kasus begal atau pencurian dan perampokan kendaraan bermotor dengan kekerasan di Cirebon memantik respons mahasiswa Fakultas Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (FTI ITB). Berangkat dari keresahan ini, para mahasiswa ITB mengembangkan prototipe aplikasi anti begal bernama Rogue Signal.

Tim mahasiswa ITB kelompok 4 Idea Lab ini mencatat, kasus begal tidak kunjung selesai di wilayah Cirebon. Berdasarkan data Kepolisian Resor Cirebon Kota, kasus pencurian kendaraan bermotor dengan kekerasan dan nonkekerasan memiliki proporsi terbesar dibandingkan dengan jenis kriminalitas lain, yakni mencapai 30 persen.

"Kita ambil data dari kuesioner dan wawancara bersama polisi dan warga yang pernah menjadi korban pembegalan, dan ternyata kondisinya memang serawan itu," kata Laura Cindy Hartono, mahasiswa FTI ITB perwakilan 4 Idea Lab, dikutip dari laman ITB, Selasa (4/10/2022).

"Polisi sering sekali menerima laporan kasus pembegalan. Ada yang kehilangan motornya, terluka, sampai ada yang tidak selamat. Dari masalah itu kita melihat perlu adanya sesuatu untuk menangani masalah ini," sambung Laura.

Cara Kerja Rogue Signal, Prototipe App Anti Begal

Aplikasi Rogue Signal bekerja dengan mengirimkan titik lokasi korban begal kepada pihak berwajib maupun pengguna lain dengan kode suara "danger".

Rogue Danger menggunakan sistem voice recognition. Ketika pengguna menekan shortcut dan mengucapkan kata "danger" secara bersamaan, aplikasi akan mengirimkan sinyal bahaya kepada polisi untuk menindak di lokasi kejadian. Sementara itu, sinyal kepada pengguna lain dapat memberi peringatan daerah rawan begal.

Sistem voice recognition Rogue Signal dikombinasikan dengan shortcut khusus untuk meminimalisasi ketidaksengajaan pengguna mengucapkan kata "danger".

Fitur Denah hingga Kontak RS

Laura menuturkan, fitur pada menu utama aplikasi Rogue Signal mencakup denah, riwayat, rumah sakit, RoSi, dan polisi.

"Ketika ada alarm bahaya, fitur denah akan memunculkan titik lokasi agar polisi terdekat bisa langsung menuju lokasi tersebut. Kemudian untuk riwayat kasus pembegalan akan di-update setiap hari agar pengguna tahu daerah yang lebih rawan dari lainnya," jelas Laura.

"Fitur rumah sakit berisi kontak rumah sakit yang ada di wilayah Cirebon, sedangkan fitur RoSi berguna sebagai layanan konsumen. Pengguna juga dapat memanfaatkan fitur polisi yang berisi kontak aparat untuk keadaan darurat," imbuhnya.

Ia menuturkan, seluruh sistem dalam aplikasi anti begal Rogue Signal dibangun menggunakan bahasa pemrograman Python dengan memanfaatkan beberapa library yang tersedia luas di internet.

Penjaminan Identitas Pengguna

Ia menambahkan, proses registrasi Rogue Signal membutuhkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai autentikasi dan penjamin identitas pengguna. Harapannya, cara ini bisa mengantisipasi oknum penyalahguna aplikasi tersebut di luar keadaan darurat.

Sistem keamanan Rogue Signal juga diperkuat dengan speech recognition. Fitur ini akan menyimpan rekaman suara spesifik si pengguna. Dengan demikian, tiap akun hanya dapat digunakan oleh satu orang.

Digarisbawahinya, inovasi Rogue Signal tidak lantas berfungsi untuk menghilangkan begal. Namun, app ini ditujukan untuk penanganan maupun penanggulangan yang bersifat preventif atau pencegahan.

Tim 4 Idea Lab FTI ITB ini berharap, ada tanggapan dari para pemangku kebijakan untuk memberikan perhatian lebih terhadap masalah pembegalan di Cirebon, baik dalam bentuk peningkatan layanan keamanan maupun infrastruktur penunjangnya.



Simak Video "Ogah Bayar Utang Rp 80 Juta, Pria di Yogya Bunuh Kakeknya"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia