Semboyan Imperialisme Kuno Portugis dan Spanyol, serta Latar Belakangnya

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 03 Okt 2022 19:00 WIB
Benteng peninggalan Portugis di Ternate
Benteng Tolukko, sisa imperialisme kuno Portugis di Ternate dengan semboyan gold, glory, dan gospel. Foto: (basriii/d'Traveler)
Jakarta -

Imperialisme kuno yang dipelopori oleh Portugis dan Spanyol mempunyai semboyan gold, glory, gospel. Apa yang melatari dan makna motivasi gold, glory, dan gospel tersebut?

Imperialisme adalah sistem maupun keadaan saat sebuah negara menguasai negara atau wilayah lain, baik dalam hal perekonomian maupun politik, yang di antaranya menerapkan cara-cara paksaan.

Tidak hanya ke nusantara, motivasi gold, glory, dan gospel dibawa penjelajah Eropa saat berlayar dan mengeksploitasi wilayah lainnya di penjuru bumi, seperti ke Karibia di Amerika serta ke Afrika, seperti dikutip dari laman the Gilder Lehrman Institute of American History.

Makna Semboyan Imperialisme Kuno: Gold, Gospel, dan Glory

Semboyan gold, glory, dan gospel adalah motivasi sekaligus salah satu faktor pendorong terjadinya penjelajahan dan imperialisme yang dipelopori Portugis dan Spanyol ke Dunia Baru.

Gold bermakna pencarian kekayaan (emas). Glory bermakna pencarian kejayaan, kekuasaan, dan keharuman nama. Sementara itu, gospel bermakna penunaian tugas suci untuk menyebarkan agama Katolik, seperti dikutip dari Sejarah Indonesia: Masuknya Islam hingga Kolonialisme oleh Ahmad Fakhri Hutauruk.

Latar Belakang Gold, Glory, Gospel

Pada masa imperialisme kuno, Portugis dan Spanyol merupakan dua kerajaan Katolik yang mempunyai kekuatan armada laut, teknologi navigasi, dan perkapalan yang maju dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

Kemajuan Portugis dan Spanyol di bidang perkapalan memungkinkan keduanya mempelopori penjelahan ke Dunia Baru seiring menjalankan tugas suci penyebaran agama (gospel) di wilayah tujuannya nanti. Penjelajah kemudian mencari rempah-rempah, salah satu komoditas paling diminati di Eropa.

Rempah-rempah merupakan kebutuhan hidup dan pendukung cita rasa di Eropa hingga zaman kolonialisme kelak. Selama musim dingin di zaman imperialisme kuno, hewan ternak tidak dapat bertahan hidup sehingga harus disembelih dan diawetkan.

Butuh garam dan rempah-rempah impor untuk melakukannya. Cengkih dari Indonesia Timur adalah komoditas paling berharga. Nusantara saat itu juga dikenal sebagai penghasil lada dan pala. Jadilah nusantara menjadi salah satu tujuan utama Portugis.

Kekayaan Malaka sebagai ujung timur perdagangan di Asia mendorong motivasi gold (kekayaan) bagi para penjelajah. Harga rempah-rempah memungkinkan tujuan tersebut tercapai.

Penaklukan pelabuhan dagang, kota-kota dagang, dan pulau-pulau penghasil rempah-rempah di Malaka hingga Maluku pun dilakukan bangsa Portugis dan Spanyol. Harapannya, rempah-rempah bisa dibeli dengan harga murah dari penghasil langsung, lalu dijual dengan harga tinggi di musim dingin Eropa.

Cara-cara kekerasan dan adu domba untuk menetapkan sistem imperialisme dan meraih kejayaan (glory) salah satunya dilakukan di periode ini. Untuk menjalankan cara-cara tersebut, bangsa Eropa tersebut menjalin hubungan karib dengan kerajaan di Maluku hingga memberi dukungan untuk pelaksanaan perang dengan kerajaan tetangganya sendiri.



Simak Video "Spanyol Laporkan Penurunan Kasus Cacar Monyet"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia