Sejarah Stadion Kanjuruhan Malang, Saksi Bisu Tragedi 1 Oktober 2022

Sejarah Stadion Kanjuruhan Malang, Saksi Bisu Tragedi 1 Oktober 2022

Anisa Rizki - detikEdu
Minggu, 02 Okt 2022 17:00 WIB
Kerusuhan yang terjadi pada suporter sepakbola di Malang, Sabtu (1/10) menyita perhatian sejumlah masyarakat. Berikut sederet kerusuhan sepakbola yang ada di berbagai negara.
Foto: Pool/tragedi kanjuruhan malang
Jakarta -

Kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10/2022) menelan ratusan korban jiwa. Tragedi itu terjadi usai Arema FC Malang kalah dalam pertandingan sepak bola dari Persebaya.

Setidaknya, sebanyak 130 orang tewas dalam tragedi tersebut dan 180 lainnya mengalami luka-luka per data Minggu (2/10) pagi.

Stadion Kanjuruhan Malang: Tragedi 1 Oktober 2022 hingga Sejarah Kerajaan

Tragedi Kericuhan Stadion Kanjuruhan

Dalam laporan detikcom dan CNN Indonesia, kerusuhan di Stadion Kanjuruhan terjadi usai suporter Arema memasuki lapangan usai timnya kalah melawan Persebaya.

Namun, insiden itu direspons polisi dengan menghadang dan menembakkan gas air mata.

Gas air mata itu ditembakkan tidak hanya kepada suporter yang memasuki lapangan, tetapi juga ke arah tribun penonton yang kemudian memicu suporter panik.

Akibatnya, banyak penonton berlarian dan berdesakan menuju pintu keluar, hingga sesak nafas dan terinjak-injak.

Kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan bukan yang pertama kalinya, sebab pada tahun 2005 silam pagar pembatas tribun di laga Ligina pernah roboh.

Insiden tersebut juga pernah terjadi ketika Arema mengalahkan Persija Jakarta. Akibatnya, satu orang tewas dan puluhan suporter Aremania terluka parah.

Kemudian, pada 15 April 2018 juga sempat terjadi Kanjuruhan Disaster. Kericuhan itu dipicu oleh wasit yang dinilai tidak adil dalam pertandingan Arema melawan Persib.

Sejarah Stadion Kanjuruhan

Di balik tragedi kelam ini, Kanjuruhan memiliki sejarah panjang secara nama dan sebagai stadion.

Stadion yang terletak di Kota Malang itu ternyata telah dibangun sejak 1997 silam dengan biaya lebih dari Rp 35 miliar. Peresmiannya pertama kali dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri pada 9 Juni 2004.

Melansir dari laman Kabupaten Malang, Stadion Kanjuruhan terletak di Jalan Trunojoyo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang.

Presiden Megawati Soekarnoputri resmi menandatangani plakat yang diletakkan di depan stadion milik Pemerintah Kabupaten Malang ini.

Pertandingan perdana Stadion Kanjuruhan yaitu ketika Arema melawan PSS Sleman dalam Divisi Satu Liga Pertamina pada 2004 silam.

Pertandingan berakhir untuk kemenangan Arema 1-0. Itulah pertama kalinya Arema dan Aremania pindah dari Stadion Gajayana ke Stadion Kanjuruhan.

Semenjak kepindahannya ke Stadion Kanjuruhan, kisah keberuntungan dan kemalangan seolah silih berganti datang dan pergi menyertai perjalanan Arema.

Kapasitas Stadion Kanjuruhan

Stadion Kanjuruhan memiliki kapasitas sebesar 41.449 orang, namun Menko Polhukam Mahfud MD menyebutkan bahwa kapasitas stadion tersebut yaitu 38.000, dengan tiket dicetak 45 ribu, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia pada Minggu (2/10/2022).

Tahun ini, Stadion Kanjuruhan menjadi homebase Arema, dari yang sebelumnya di Stadion Gajayana. Tetapi, stadion ini baru dimanfaatkan Arema sepenuhnya sebagai homebase di Ligina 2006.

Pada 2010, Stadion Kanjuruhan direnovasi dengan menambah pencahayaan agar memenuhi syarat ikut Liga Champions AFC 2011.

Kanjuruhan Sebagai Kerajaan Hindu di Jawa Timur

Selain sebagai nama stadion, ternyata Kanjuruhan juga merupakan sebuah kerajaan bercorak hindu yang terletak di Jawa Timur, dekat dengan Kota Malang.

Pada situs Kebudayaan Kemdikbud dijelaskan bahwa Kerajaan Kanjuruhan menjadi tonggak awal pertumbuhan pusat pemerintahan Kota Malang.

Kerajaan Kanjuruhan tertulis dalam prasasti Dinaya yang ditemukan di sebelah barat laut Malang, Jawa Timur. Angka tahunnya tertulis dengan Candrasengkala yang berbunyi Nayama Vayu Rasa atau 682 Caka, setara dengan 760 M.

Mengutip dari buku Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas X tulisan Windriati, S.Pd., isi dari prasasti Dinaya itu menceritakan tentang Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8 dengan rajanya yang bernama Dewa Simha.

Dewa Simha memiliki seorang putra yang bernama Liswa. Setelah Liswa naik tahta dan menjalani rangkaian upacara abhiseka, namanya berganti menjadi Gajayana.

Selama pemerintahan Gajayana, tempat pemujaan untuk Dewa Agastya didirikan. Kini, bangunan tersebut bernama Candu badut.

Bahkan, disebutkan pula mengenai arca yang terbuat dari kayu cendana yang kemudian diganti menjadi batu hitam. Peresmiannya sendiri dilakukan pada tahun 760.

Raja Gajayana memiliki seorang putri dengan nama Uttejana, ia menjadi pewaris tahta Kerajaan Kanjuruhan bersama suaminya, Pangeran Jananiya.

Pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan

Pusat pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan terletak di Desa Kejuron sekarang ini. Di sebelah utara desa itu, ada Candi Badut yang merupakan peninggalan purbakala Kerajaan Kanjuruhan.

Di bawah pemerintahan Raja Gajayana, kekuasaan Kanjuruhan meliputi daerah lereng timur dan barat Gunung Kawi. Ke utara hingga pesisir laut Jawa.

Keamanan negeri terjamin, tidak ada peperangan, jarang terjadi pencurian dan perampokan karena raja selalu bertindak tegas sesuai dengan hukum yang berlaku.

Kanjuruhan tidak bertahan lama, sebab kerajaan ini ditaklukkan oleh Mataram. Akhirnya, para penguasanya menjadi raja bawahan dengan gelar Rakai Kanjuruhan.

Nah, itulah sejarah mengenai Stadion Kanjuruhan beserta sejumlah informasi terkait. Semoga pembahasan di atas dapat menambah wawasan detikers ya!



Simak Video "Survei Siapa Paling Bertanggung Jawab atas Tragedi Kanjuruhan: Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia